PTK MATEMATIKA
JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkalian dengan hasil bilangan dua angka merupakan kompetensi dasar yang baru bagi peserta didik kelas II SD. Konsep perkalian ditanamkan sebagai penjumlahan berulang, sehingga kemampuan dasar berhitung perkalian dua bilangan 1-10 seharusnya sudah dikuasai oleh peserta didik kelas II, semester II, karena penguasaan materi perkalian ini merupakan bekal prasyarat untuk mempelajari materi berhitung selanjutnya. Peserta didik yang telah menguasai kemampuan melakukan operasi perkalian dua bilangan 1-10, lebih dapat melakukan operasi-operasi hitung yang lainnya, di antaranya operasi perkalian tiga bilangan, operasi hitung pembagian operasi hitung campuran dan soal cerita.
Kenyataan yang peneliti hadapi masih banyak peseta didik kelas II yang mengalami kesulitan melakukan operasi perkalian dua bilangan 6 – 10. Dari hasil pengamatan dan tes hasil belajar 3 tahun terakhir tentang perkalian dua bilangan 6-10 sebagian besar peserta didik masih lambat dalam mengoperasikan perkalian bilangan 6-10, hal itu berlanjut sampai di kelas III. Pada tahun pelajaran 2008/2009 ini, dari hasil ulangan harian tentang operasi hitung perkalian menunjukkan bahwa skor rata-rata kelas 64, ada 9 dari 16 anak mendapatkan nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan yakni 68, berarti 56% peserta didik kelas II tahun pelajaran 2008/2009 mengalami kesulitan berhitung perkalian bilangan 6-10.
Hal ini dimungkinkan karena banyak faktor penyebab, diantaranya guru selama ini hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, latihan, dan tugas. Guru belum menggunakan alat peraga yang memadai, sehingga pembelajaran sangat verbalistik dan monoton. Guru belum menggunakan trik atau teknik berhitung yang lebih mempermudah pemahaman peserta didik. Peserta didik sangat terbebani ingatannya untuk menghafalkan perkalian bilangan, ada yang memaksa dan terpaksa dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berhitung sangat membosankan dan kurang menyenangkan.
Dari berbagai kemungkinan latar belakang masalah tersebut, peneliti mendiagnosa bahwa masalah tersebut disebabkan karena guru belum menggunakan teknik berhitung yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Teknik-teknik berhitung sangat beragam di antaranya teknik mencongak, teknik sempoa, teknik kumon, teknik napier, dan teknik jarimatika. Adanya tren pembelajaran berhitung dengan teknik jarimatika,menginspirasi kami untuk mencoba menerapkannya guna memecahkan masalah tersebut di atas. Teknik jarimatika peneliti pilih karena sangat sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, menyenangkan dan dapat menumbuhkan motivasi belajar berhitung bagi para peserta didik.
Karena terlalu kompleksnya latar belakang masalah yang dihadapi, sementara kemampuan dan waktu peneliti sangat terbatas,sehingga tidak memungkinkan bagi peneliti untuk meneliti semuanya. Agar tidak mengganggu pelaksanaan pembelajaran di kelas, masalah kami batasi pada usaha peningkatan kemampuan peserta didik melakukan operasi perkalian dua bilangan 6–10, menggunakan teknik berhitung jarimatika.
B. Perumusan Masalah
Apakah penggunaan teknik jarimatika dapat meningkatkan keterampilan berhitung peserta didik kelas II, SDN Tepisari 02, Polokarto, Sukoharjo ?
C. Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami akan menerapkan teknik berhitung jarimatika dalam pembelajaran, dengan berbagai pertimbangan, di antaranya karena : tidak memerlukan alat hitung, praktis dan selalu dibawa kemana-mana, dijamin tidak akan disita jika memakai jari-jari sebagai alat hitungnya pada saat ujian, mudah dipelajari dan menyenangkan tidak membebani memori otak si anak. Selain itu teknik jarimatika dapat membantu menjembatani konsep berhitung yang abstrak dengan memanipulasikannya pada alat bantu jari-jari tangan.
D. Batasan Pengertian dan Asumsi
Kemampuan melakukan operasi perkalian yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik menentukan tepat satu jawaban hasil perkalian dua bilangan dari bilangan 6 sampai 10. Kemampuan tersebut dapat ditunjukkan dengan perolehan skor tes hasil belajar peserta didik tentang perkalian dua bilangan 6-10..
Jarimatika berasal dari kata jari dan matematika atau aritmatika, selanjutnya dinamakan teknik jarimatika yaitu cara berhitung Kali, Bagi, Tambah, Kurang (KaBaTaKu) menggunakan jari-jari tangan sebagai alat bantu hitung yang menyenangkan.
Guna menyamakan asumsi, perlu peneliti sampaikan bahwa peserta didik kelas II SDN Tepisari 02 telah menguasai kemampuan melakukan operasi perkalian bilangan cacah ≤ 5 sebagai penjumlahan berulang.
E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah penggunaan teknik jarimatika dapat meningkatkan keterampilan berhitung peserta didik kelas II, SDN Tepisari 02, Polokarto,Sukoharjo tahun pelajaran 2008/2009.
F. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti tentang teknik
pembelajaran berhitung perkalian bilangan 6-10,dengan teknik jarimatika.
2. Secara praktis :
a. Bagi peserta didik
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan melakukan operasi perkalian dua bilangan 6-10, khususnya dapat menambah kecepatan dan keakuratan dalam berhitung perkalian bilangan 6-10, sehingga peserta didik lebih menyenangi pembelajaran berhitung.
b. Bagi peneliti
Penelitian ini merupakan pengalaman berharga dalam menerapkan teknik jarimatika dalam pembelajaran berhitung, sehingga dapat memperbaiki kinerja pembelajaran materi berhitung perkalian dua bilangan 6-10.
c. Bagi rekan guru
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembelajaran berhitung di SD .
d. Untuk perpustakaan sekolah
Laporan hasil penelitian ini dapat menambah koleksi perpustakaan SD, yang dapat dimanfaatkan oleh rekan-rekan guru baik sebagai contoh maupun sebagai pembanding bagi rekan – rekan guru yang akan melakukan PTK.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika merupakan suatu kegiatan atau upaya untuk memfasilitasi siswa dalam mempelajari matematika. Kegiatan tersebut adalah upaya disengaja artinya menuntut persiapan pembelajaran yang sangat detail, inovatif dan kreatif yang mampu menyesuaikan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan pembelajaran kompetensi dalam standar kompetensi – kompetensi dasar dan kekhasan kontekstual kehidupan sehari-hari peserta didiknya. Dalam Pelaksanaan pembelajaran, tugas guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan peserta didik aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.
Menurut Gagne (dalam Sri Subarinah,2006 : 7), belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung.Objek-objek langsung adalah objek-objek yang dari segi wujudnya secara nyata merupakan objek-objek yang pertama-tama dipelajari.Objek-objek langsung dalam pembelajaran matematika terdiri dari: Fakta-fakta matematika, Konsep-konsep matematika, Prinsip-prinsip matematika.Objek-objek tak langsung adalah objek-objek yang dari segi wujudnya secara nyata (secara operasional) tidak segera nampak bahwa objek-objek tersebut merupakan hal-hal yang dipelajari; tetapi hal-hal itu dipelajari sebagai dampak (akibat) dari pembelajaran objek-objek langsung. Objek-objek tak langsung dalam pembelajaran matematika adalah: sikap terhadap matematika, penghargaan terhadap peranan matematika bagi kehidupan manusia, kemampuan memecahkan masalah, kecermatan atau ketelitian dalam mengamati sesuatu, kemampuan berfikir abstrak, dan sebagainya.
Gagne mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga kapabilitas. Gagne mengemukakan 5 macam hasil belajar sebagai berikut : Informasi verbal atau kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya tentang fakta-fakta,
ketrampilan intelektual atau kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep aturan, dan memecahkan masalah, strategi kognitif atau kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berfikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis, sikap atau kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut, dan keterampilan motorik yang dapat dilihat dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otot-otot serta anggota badan yang diperlihatkan.
B. Prinsip-prinsip pembelajaran matematika
Bagi kebanyakan peserta didik, pembelajaran matematika sangat menakutkan, membosankan dan membebani pikiran/perasaan mereka. Hal itu tidak lepas dari peran guru yang mengajar matematika kurang memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang benar. Untuk menciptakan pembelajaran matematika yang bermakna dan menyenangkan, perlu diperhatikan dan diimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran matematika.
Pembelajaran perlu dilaksanakan dengan materi yang mula-mula bersifat kongkrit kemudian bergerak ke arah yang lebih abstrak, atau dari yang spesifik kemudian bergerak ke arah yang lebih umum. Hal ini disebabkan karena tingkat perkembangan kognitif peserta didik di SD kelas rendah masih dalam tahap operasional konkret. Dengan memanipulasi hal-hal konkret tersebut akan menjembatani kemampuan peserta didik yang bersifat operasional konkret dengan materi matematika yang bersifat abstrak dan deduktif.
Pembelajaran perlu dilaksanakan dalam suatu lingkungan pembelajaran yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi siswa (a safe and enjoyable learning environment). Rasa aman peserta didik akan tercipta apabila dalam pembelajaran matematika, siswa mempunyai kesempatan dan kebebasan untuk melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang menarik minatnya, tanpa ada rasa takut atau terancam apabila apa yang ia pikirkan atau ia minati berbeda dari apa yang dipikirkan oleh guru atau pihak lain, bebas vonis negatif dari guru akibat kesalahan-kesalahan dalam pembelajarannya. Menyenangkan maksudnya peserta didik merasa asyik dalam mengikuti pembelajaran maupun dalam menjalankan tugas-tugas dari guru sehingga akan merasakan waktu belajar berjalan sangat cepat, dan selalu merindukan kapan akan belajar matematika lagi.
Pembelajaran perlu dilaksanakan dengan materi yang mula-mula dirasa mudah bagi siswa kemudian bergerak ke arah yang lebih sukar. Materi yang dirasa mudah akan mendorong peserta didik untuk percaya diri, mengikis rasa takut terhadap materi matematika sehingga akan tumbuh minat dan motivasi peserta didik dalam belajar matematika. Pembelajaran yang meningkat ke arah materi yang semakin sukar akan menumbuhkan motivasi bagi peserta didik untuk merasa tertantang dan tidak membosankan.
Para siswa perlu diberi kesempatan yang cukup banyak untuk bisa menemukan sendiri berbagai hal penting yang terkait dengan materi pembelajaran, dengan bimbingan dari guru, sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya sesuai materi pelajaran yang dipelajari. Dengan cara demikian pengalaman belajar peserta didik relatif akan bertahan lama, dan bermakna karena sangat terkesan akan susah payahnya dalam proses pembelajaran, bukan hasil asupan, suapan, ataupun transfer pengetahuan dari guru.
Pendekatan dan metode yang digunakan guru dalam mengelola pembelajaran matematika harus dapat memotivasi semua siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, baik aktif secara mental, secara fisik, maupun secara sosial, tanpa ada perasaan tertekan atau terpaksa pada siswa. Guru hendaknya pandai-pandai memilih dan menerapkan berbagai macam pendekatan, model, metode maupun teknik pembelajaran yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik peserta didik yang dihadapi. Hal itu akan menciptakan konteks pembelajaran yang mendorong aktifitas peserta didik dan komunikasi interaktif semakin bervariasi pula.
Pembelajaran perlu dilaksanakan sedemikian , sehingga siswa memahami konsep-konsep matematika, fakta-fakta matematika, keterampilan- keterampilan matematika, dan prinsip-prinsip matematika yang menjadi objek pembelajaran. Pembelajaran perlu dilaksanakan sedemikian, sehingga siswa memahami penalaran (reasoning) yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa dalam hal pengembangan konsep yang satu ke konsep yang lain, dari prinsip yang satu ke prinsip yang lain, dari keterampilan yang satu ke keterampilan yang lain.
Pembelajaran perlu dilaksanakan sedemikian, sehingga siswa mengerti kegunaan nyata dari materi pembelajaran. Dengan mengerti kegunaan nyata dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik lebih terterik minat dan motivasinya dalam belajar, karena pembelajaran tersebut adalah pembelajaran yang bermakna bagi kehidupan sehari-hari. ( St.Suwarsono& Th. Sugiarto,2008:3-4)
C. Operasi Perkalian
Operasi perkalian didefinisikan sebagai andaikan a =n(A). b=n(B), A dan B dua himpunan berhingga, maka a x b = n(AxB). (AxB={(a,b) | a Ε A dan b E B }). Definisi kedua andaikan a dan b bilangan cacah, a x b = b+b+b+b sejumlah a. penjumlahan berulang b sejumlah a suku. Bentuk perkalian a x b selanjutnya dapat ditulis ab, a dan b faktor.
Sifat sifat operasi perkalian di antaranya Tertutup ( Untuk semua a dan b bilangan cacah, maka berlaku a x b adalah bilangan cacah. Sifat Komutatif ( Untuk setiap a dan b bilangan cacah, maka berlaku a x b = b x a). Sifat Asosiatif ( Untuk setiap a,b,dan c bilangan cacah, maka berlaku (a x b) x c = a x (b x c). Sifat Distributif Perkalian terhadap Penjumlahan ( Untuk setiap a,b, c bilangan cacah, berlaku a x (b+c) = (a x b)+( a x c) dan(b+c)xa = (bxa)+(cxa). Serta adanya elemen identitas perkalian (Ada sebuah bilangan cacah c yang untuk bilangan cacah a berlaku axc=cxa=a) c=1 (. ( St.Suwarsono& Th. Sugiarto,2008: 11)
D. Teknik Jarimatika
1. Pengertian Jarimatika
Jarimatika adalah cara berhitung (operasi Kali-Bagi-Tambah-Kurang) dengan menggunakan jari-jari tangan. Jarimatika adalah sebuah cara sederhana dan menyenangkan mengajarkan berhitung dasar kepada anak-anak menurut kaidah : Dimulai dengan memahamkan secara benar terlebih dahulu tentang konsep bilangan, lambang bilangan, dan operasi hitung dasar, kemudian mengajarkan cara berhitung dengan jari-jari tangan.Prosesnya diawali, dilakukan dan diakhiri dengan gembira. (Septi Peni Wulandani, 2007: 2)
2. Latar Belakang Penggunaan Teknik Jarimatika
Menurut Jean Piaget,siswa SD umumnya berada pada tahap pra operasi dan operasi konkret (usia 6/7 tahun-12 tahun). Sehingga pembelajaran di SD seharusnya dibuat konkret melalui peragaan, praktik, maupun permainan.Perkembangan belajar matematika anak melalui empat tahap, yaitu : konkret, semi konkret, semi abstrak, dan abstrak.(Sri Subarinah, 2006:23).
Menurut Bruner (dalam Pitajeng,2006:29) belajar matematika meliputi belajar konsep-konsep dan struktur matematika yang terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.
Dalam proses belajar, anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui alat peraga yang ditelitinya anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya.
Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dalam 3 model yaitu :
Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.
Model Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
Model Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu.
Menurut Skemp, belajar matematika melalui dua tahap, yaitu tahap konkret dan tahap abstrak. Pada tahap konkret, anak memanipulasi objek-objek konkret untuk dapat memhami ide-ide abstrak. Guru hendaknya memberi kegiatan agar anak dapat menyusun struktur matematika sejelas mungkin sebelum mereka dapat menggunakan pengetahuan awalnya sebagai dasar belajar pada tahap berikutnya. (Pitajeng, 2006:36).
Sering kita jumpai peserta didik kita tidak suka matematika, susah memahami angka / bilangan dan enggan belajar berhitung, kita pun pernah mengalami hal yang sama, padahal kita juga tahu bahwa berhitung dan matematika merupakan hal yang penting untuk dikuasai. Maka permasalahan yang seringkali muncul adalah : ketidak-sabaran (pada diri anak dan orangtua) dan proses memaksa – terpaksa (yang sangat tidak menyenangkan kedua belah pihak).
Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hal-hal abstrak yang berupa fakta, konsep, prinsip. Peserta didik SD sedang mengalami tahap berpikir pra operasional dan operasional konkret. Untuk itu perlu adanya kemampuan khusus guru untuk menjembatani antara dunia anak yang bersifat konkret dengan karakteristik matematika yang abstrak.
Pembelajaran akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan. Guru harus senantiasa mengupayakan situasi dan kondisi yang tidak membosankan apalagi menakutkan bagi peserta didik. Salah satu upaya yang dapat ditempuh guru adalah dengan menerapkan trik-trik berhitung yang mempermudah dan menyenangkan bagi peserta didik untuk melakukannya. Salah satu trik berhitung yang menjadi tren saat ini adalah teknik jarimatika.
Jarimatika memperkenalkan kepada anak bahwa matematika (khususnya berhitung) itu menyenangkan. Didalam proses yang penuh kegembiraan itu anak dibimbing untuk bisa dan terampil berhitung dengan benar.
Jarimatika memberikan salah satu solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut,karena jarimatika memenuhi kaidah-kaidah pembelajaran matematika yang membuat peserta didik merasakan bahwa pembelajaran sangat menyenangkan dan menantang.
3. Sejarah Jarimatika
Berawal dari kepedulian seorang ibu terhadap materi pendidikan anak-anaknya.. Banyak metode dipelajari, tetapi semuanya memakai alat bantu dan kadang membebani memori otaknya. Setelah itu dia mulai tertarik dengan jari sebagai alat bantu yang tidak perlu dibeli, dibawa kemana-mana dan ternyata juga mudah dan menyenangkan. Anak-anak menguasai metode ini dengan menyenangkan dan menguasai keterampilan berhitung. Akhirnya penelitian dari hari ke hari untuk mengotak-atik jari hingga ke perkalian dan pembagian, serta mencari uniknya berhitung dengan keajaiban jari lalu dinamakan “Jarimatika”.Penerapan pada anak dimulai pada usia 3 tahun untuk pengenalan konsep sampai usia 12 tahun . Jarimatika ini ada 4 level, masing-masing ditempuh 3 bulan. Setelah selesai lulusan Jarimatika akan masuk ke “Fun Mathematic Club” yang akan mengupas matematika secara mudah dan menyenangkan, sesuai materi di sekolahnya.
Proses ini mungkin dapat membantu anak menghilangkan fobia terhadap Matematika. Sebagaimana diketahui Matematika masih menjadi momok bagi sebagian besar anak (dan juga orang tua). Maka kami belajar untuk menjadikannya mudah dan menyenangkan (yang kemudian menjadi motto Jarimatika)
Penyusunan buku jarimatika pun diberikan banyak gambar menarik untuk memudahkan pemahaman dan juga menarik minat untuk mempelajarinya. Beberapa cerita disisipkan untuk memberikan jeda dan memberikan ilustrasi pentingnya jeda dalam proses belajar. Bahasanya diupayakan agar ringan dan mudah dimengerti.
Sebenarnya teknik jarimatika adalah kreatifitas manusia pada jaman dahulu sebelum kalkulator ditemukan, mereka mencoba cara teknik untuk mempermudah perhitungan tanpa membebani otak terlalu banyak. Sebagai contoh untuk perkalian sembilan cukup dengan membuka semua jari anda kiri dan kanan, setiap jari anda dapat urutkan angkanya misal : kelingking kiri adalah 1, jari manis kiri adalah 2 dan seterusnya hingga kelingking kanan adalah 10, cara penggunaannya 1 x 1 adalah menutup jari kelingking kiri sehingga yang tersisa adalah sembilan, 2 x 9 dengan cara menutup jari manis kiri sehingga yang tersisa adalah 1 dikiri dibatasi oleh jari manis yang ditutup dan 8 jari kanan yang terbuka sehingga jawabannya adalah 18, demikian seterusnya.
Untuk perkalian 6×6 keatas dapat melakukan dengan cara membuka semua jari-jari anda kiri dan kanan dan temukan semua ujung jari kiri dan kanan, kelingking adalah 6, jari manis adalah 7 jari tengah adalah 8 telunjuk adalah 9, contoh 7 x 8 = temukan ujung jari manis kiri (7) dengan ujung jari tengah kanan ( 8 ) sehingga ujung jari yang bertemu dan yang letaknya dibawahnya dapat dilipat, dalam contoh ini 2 jari kiri dan 3 jari kanan yang dilipat jumlahnya adalah 5, sedangkan yang tetap terbuka adalah 2 jari kanan dan 3 jari kiri, bila dikalikan adalah 6 sehingga jawabanya adalah 7 x 8 adalah 5 jari tertutup dan 2 jari kiri dikalikan 3 jari kanan = 5dan 6 atau 56
3. Keunggulan teknik jarimatika
Berhitung dengan teknik jarimatika mudah dipelajari dan menyenangkan bagi peserta didik. Mudah dipelajari karena jarimatika mampu menjembatani antara tahap perkembangan kognitif peserta didik yang konkret dengan materi berhitung yang bersifat abstrak.
Jarimatika memberikan visualisasi proses berhitung, peserta didik belajar dengan memanipulasi hal-hal konkret tersebut untuk memepelajari materi matematika yang bersifat abstrak dan deduktif.Ilmu ini mudah dipelajari segala usia, minimal anak usia 3 tahun. Menyenangkan karena peserta didik merasakan seolah mereka bermain sambil belajar dan merasa tertantang dengan teknik jarimatika
Tidak membebani memori otak peserta didik. Teknik berhitung jarimatika mampu menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, hal itu dapat ditunjukkan pada waktu berhitung mereka akan mengotak-atik jari-jari tangan kanan dan kirinya secara seimbang. Jarimatika mengajak peserta didik untuk dapat mengaplikasikan operasi hitung dengan dengan cepat dan akurat menggunakan alat bantu jari-jari tangan, tanpa harus banyak menghafalkan semua hasil operasi hitung tersebut.
Praktis dan efisien . Dikatakan praktis karena alat hitungnya jari maka selalu dibawa kemana-mana. Alatnya tidak akan pernah ketinggalan dan tidak akan disita apalagi diambil, jika si anak ketahuan memakai Jari-jari sebagai alat hitungnya pada saat ujian. Efisien karena alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli.
Penggunaan “Jarimatika” lebih menekankan pada penguasaan konsep terlebih dahulu baru ke cara cepatnya, sehingga anak-anak menguasai ilmu secara matang. Selain itu metode ini disampaikan secara fun, sehingga anak-anak akan merasa senang dan gampang bagaikan “tamasya belajar”.
Pengaruh daya pikir dan psikologis Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru. Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal. Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas.
Pengaruh daya pikir dan psikologis Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru.Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal.Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas. (Septi Peni Wulandani, 2007: 4-7)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar