Sabtu, 27 Agustus 2016

CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS V SD/MI

CONTOH PTK MATEMATIKA KELAS V SD/MI


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini

BAB I 
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Secara garis besar, materi pelajaran Matematika di kelas V sekolah dasar dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu bilangan, geomitri dan pengukuran. Materi bilangan, peserta didik dituntut mampu melakukan operasi hitung bilangan bulat dan bilangan pecahan serta menggunakannya dalam pemecahan masalah. Sedangkan materi pembelajaran geometri dan pengukuran, peserta didik dituntut mampu menghitung jarak, waktu, berat, luas volum, dan sifat-sifat bangun datar.
Prestasi belajar peserta didik kelas V SD 03 Tumbang Titi dalam mengikuti pembelajaran Matematika rendah. Banyak materi pembelajaran yang belum dapat dicapai secara tuntas. Konsep materi pelajaran bangun datar belum dikuasai secara mendalam. Peserta didik merasa berkesulitan dalam menghitung luas dan menentukan sifat-sifat bangun datar.
1
 
Di samping itu, guru kurang bervariasi dalam menyampaikan materi pelajaran tentang bangun datar. Sering terjadi anggapan oleh guru bahwa materi yang diajarkan sangat mudah sehingga penyajian materi pelajaran bangun datar cukup hanya dengan cerita. Peserta didik hanya sebagai pendengar. Peserta didik pasif, kurang tertarik terhadap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Materi pembelajaran disampaikan secara abstrak. 
Banyak upaya untuk mengatasi kendala yang ada. Salah satu usaha untuk mengatasi berbagai kesulitan pembelajaran dengan materi pelajaran bangun datar di kelas V adalah model pembelajaran STAD dengan menggunakan alat bantu MBDW (Model Bangun Datar Warna-warni). Model-model bangun datar tersebut merupakan upaya konkritisasi dari bentuk abstrak bangun datar. Dengan alat bantu model bangun datar tersebut, peserta didik dapat menyerap materi pelajaran dari guru sesuai dengan perkembangan daya nalarnya.

  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah dalam penelitian dapat dirumuskan, sebagai berikut.
  1. Apakah pembelajaran dengan metode STAD dan alat bantu MBDW menyenangkan?
  2. Apakah pembelajaran dengan metode STAD dan alat bantu MBDW efektif?

  1. Tujuan
Penelitian tentang pembelajaran bangun datar dengan alat bantu model bangun datar ini bertujuan, sebagai berikut.
  1. Mendeskripsikan proses pembelajaran bahwa dengan metode STAD dan alat bantu MBDW menyenangkan.
  2. Mendeskripsikan efektivitas pembelajaran dengan metode STAD dan alat bantu MBDW.

  1. Manfaat
Manfaat dari hasil penelitian ini, sebagai berikut.
  1. Bagi guru
  1. Sebagai bahan perbaikan pembelajaran yang dikelolanya, sehingga proses dan hasil dari pembelajaran mengalami peningkatan.
  2. Sebagai wahana dalam peningkatan profesionalitas guru karena mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya.
  3. Sebagai wahana penumbuhan rasa percaya diri bagi guru.
  1. Bagi peserta didik
  1. Peserta didik meningkatkan prestasi belajarnya.
  2. Peserta didik dapat mengikuti pembelajaran yang menarik.
  1. Bagi sekolah
  1. Memiliki guru yang profesional dalam mengelola pembelajaran di depan kelas.
  2. Sekolah dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.


BAB II

 
KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS 

    1. Kajian Teoretis
1.      Pengertian bangun datar
Bangun datar adalah bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau lengkung (Imam Roji, 1997)
Bangun datar dapat didefinisikan sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal (Julius Hambali, Siskandar, dan Mohamad Rohmad, 1996)
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa bangun datar merupakan bangun dua demensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, yang dibatasi oleh garis lurus atau lengkung.
2.      Jenis bangun datar dan sifat-sifatnya
Bangun datar di kelas V SD terdiri atas persegi panjang, persegi, segitiga, trapesium, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan lingkaran (Julius Hambali, Siskandar, dan Mohamad Rohmad, 1996). Uraian lebih lanjut tentang sifat-sifat bangun datar disarikan, sebagai berikut.
1.     
4
 
Persegi panjang panjang mempunyai dua pasang sisi yang sama panjang dan 4 sudut yang sama besar, yaitu sudut siku-siku. Diagonalnya sama panjang dan saling memotong sama panjang sehingga membagi dua sama panjang. 
2.      Segitiga memiliki berbagai jenis, yaitu segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, segitiga siku-siku, segitiga sembarang, dan segitiga lancip. Segi tiga memiliki 3 sudut dan 3 buah sisi.
3.      Trapesium memiliki sepasang sisi yang sejajar. Jumlah besar sudut yang berdekatan di antara sisi sejajar pada trapesium adalah 1800.
4.      Jajaran Genajang memiliki sisi yang berhadapan sejajar sama panjang, sudut yang berhadapan sama besar. Kedua diagonalnya saling membagi sama panjang.
5.      Belah ketupat memiliki empat sisi sama panjang, kedua diagonalnya merupakan sumbu simetri, sudut yang berhadapan sama besar, diagonalnya saling berpotongan tegak  lurus.
6.      Layang-layang mempunyai satu sumbu simetri, memiliki dua pasang sisi yang sama panjang, terdapat sepasang sudut yang berhadapan yang sama besar.
7.      Lingkaran memiliki sebuah titik pusat, memiliki garis tengah yang panjangnya dua kali jari-jari, banyak sumbu simetri lingkaran tidak terbatas.



3.      Teknik dan Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran materi pelajaran bangun datar adalahSTAD (Student Teams Achivement Divisions).  STAD merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Robert Slavin dari Universitas John Hopkins. Secara garis besar, langkah-langkah pelaksanaan metode STAD adalah peserta didik di dalam kelas dibentuk tim, masing-masing 4-5 anggota kelompok. Tiap tim menggunakan lembar kerja, dan kemudian tanya jawab atau diskusi untuk saling membantu. Secara periodik guru memantau perkembangan tim atau individu. Tim atau individu yang telah mencapai kriteria tertentu diberi penghargaan (Nurhadi, Yasin, dan Senduk:2003)
4.      Alat Pembelajaran
Alat yang digunakan adalah model bangun datar, persegi panjang, persegi, belah ketupat, segitiga, terapesium, jajaran genjang, layang-layang, dan lingkaran.

    1. Kerangka Berpikir
Pembelajarn bangun datar harus dengan menggunakan alat bantu model bangun datar. Alat bantu model bangun datar warna-warni merupakan bentuk bangun datar dengan memberi warna-warna yang berbeda pada bagian-bagian (unsur) bangun datar yang memiliki karakter khusus. Dengan bangun datar warna-warni tersebut merupakan upaya mengarahkan peserta didik untuk berpikir konkrit. Belajar secara konkrit lebih menyenangkan, mengaktifkan, dan mudah dipahami.

    1. Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian tindakan ini, sebagai berikut,
1.                 Pembelajaran materi pelajaran bangun datar dengan alat bantu MBDW (Model Bangun Datar Warna-warni) menyenangkan.
2.                 Proses pembelajaran metode STAD dengan alat bantu model bangun datar warna-warni efektif.


BAB III

 
PELAKSANAAN TINDAKAN 

  1. Setting Penelitian
Tempat            : SDN 03 Tumbang Titi
Waktu             : Penelitian dimulai bulan Juli 2012 - Desember 2012

  1. Subjek Penelitian
Peserta didik kelas V SDN 03 Tumbang Titi berjumlah 38 orang peserta didik tahun pelajaran 2012/2013.
  1. Sumber Data
1.      Hasil tes siklus I kompetensi dasar; mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar
2.      Hasil tes siklus II kompetensi dasar; menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bangun datar.
3.      Hasil angket pengamatan proses pembelajaran siklus I dan II.

  1. Indikator Kinerja
Pembelajaran dianggap efektif jika telah memenuhi ketuntasan individual 65% dan ketuntasan klasikal 75%. Diharapkan hasil meningkat pada tes siklus ke II menjadi 80% secara klasikal.

  1. Instrumen Penelitian
1.     
8
 
MBDW 
2.      Lembar pengamatan
3.      Lembar Evaluasi

  1. Tindakan
Siklus 1
1.      Perencanaan
a.       Pedoman Guru
1)      menentukan kompetensi dasar
2)      merencanakan metode/pendekatan
3)      menentukan kelompok diskusi
4)      menyusun skenario pembelajaran
5)      menyiapkan sumber materi
6)      menyusun LKS
7)      menyusun lembar observasi
8)      menyusun perencanaan pemantauan individual maupun kelompok
9)      menyusun soal evaluasi
b.      Pedoman Peserta didik
1)      memperhatikan pejelasan guru tentang cara kerja peserta didik
2)      mengerjakan LKS secara berkelompok sesuai petunjuk
3)      melaporkan hasil diskusi/kerja kelompok
4)      mengerjakan soal evaluasi

2.      Tindakan
Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran.
3.      Pengamatan
a.       Pengamatan proses pembelajaran secara kolaborator dengan lembar observasi
b.      Menilai hasil pembelajaran materi sifat-sifat bangun datar dengan soal tes yang telah disediakan.
4.      Refleksi
a.       Mengevaluasi tindakan siklus I
b.      Mendiskusikan hasil evaluasi siklus I dengan kolaborator
c.       Memperbaiki pelaksanaan untuk siklus berikutnya.

Siklus 2
1.      Perencanaan
a.       Pedoman Guru
1)      pemantauan individual/kelompok
2)      pendampingan pada kelompok-kelompok tertentu
3)      menyusun skenario pembelajaran
4)      menyusun LKS
5)      Menyusun pemantauan individual dan klasikal
6)      menyusun soal evaluasi
b.      Pedoman Peserta didik
1)      memperhatikan pejelasan guru tentang cara kerja peserta didik
2)      mengerjakan LKS secara berkelompok sesuai petunjuk
3)      melaporkan hasil diskusi/kerja kelompok
4)      mengerjakan soal evaluasi
2.      Tindakan
Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran.
3.      Pengamatan
a.       Pengamatan proses pembelajaran secara kolaborator dengan lembar observasi
b.      Menilai hasil pembelajaran materi sifat-sifat bangun datar dengan soal tes yang telah disediakan.
4.      Refleksi
a.       Mengevaluasi tindakan siklus II
b.      Mendiskusikan hasil evaluasi siklus II dengan kolaborator
c.       Menyimpulkan pelaksanaan tindakan dari hasil 2 siklus

  1. Analisis Data
Data dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.   

 
Hasil Penelitian 
Penelitian ini menggunakan dua siklus, dengan hasil tindakan berupa hasil pengamatan proses pembelajaran dan hasil belajar Matematika, kompetensi dasar mengidentifikasikan sifat-sifat bangun datar, dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bangun datar sebagai berikut:
Siklus 1
Hasil pengamatan kolaborator terhadap proses pembelajaran pada siklus 1 ditunjukkan tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Rambu-rambu Pengamatan Proses Pembelajaran

No
Aspek Pengamatan
Skor
Jml
1
2
3
4
1
Kesungguhan selama mengikuti pelajaran





2
Keaktifan mengemukakan pendapat dalam mengikuti diskusi kelompok





3
Keceriaan dalam mengikuti pelajaran





4
Kerjasama dalam kelompok





5
Kompetisi antarkelompok diskusi






Berdasarkan indikator pengamatan tersebut, tiga orang pengamat mengamati proses pembelajaran Matematika. Hasil pengamatan berupa nilai. Nilai tersebut selanjutnya dirata-rata dan direkap sebagaimana pada tabel berikut.


12
 
  



Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Proses Pembelajaran siklus 1

No
Aspek Pengamatan
Pengamat
Jml
R
1
2
3
1
Keaktifan dan ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran

16
16
15
47
15,67

Berdasarkan data tersebut dapat ditunjukkan persentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi dari tiga pengamat, yakni seperti tabel berikut.
Tabel 3. Persentase Hasil Pengamatan Pembelajaran Siklus 1
No
Aspek
Persentase
Kriteria
1
Keaktifan dan ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran

78,33%

Amat Baik


Perolehah persentase dihitung berdasarkan perbandingan skor maksimal dengan skor yang diperoleh dari pengamatan. Perhitungannya sebagai berikut.
(Skor Hasil : Skor Maksimal) x 100% = Persentase Pengamatan. Berikut ini disajikan besar persentase interval masing-masing kriteria.
1. 1% - 25%: kurang
2. 26% - 50%: cukup
3. 51% - 75%: baik
4. 76% - 100%: amat baik
Data hasil evaluasi pembelajaran siklus 1 disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 4. Rentang Hasil Evaluasi Pembelajaran Siklus I
No
Rentang Nilai
Jumlah
Persentase
Kriteria
1
< 65
2
5,26%
Tidak tuntas
2
65 – 74
9
23,68%
Tuntas
3
75 - 84
17
44,74%
Tuntas
4
≥ 85
10
26,32%
Tuntas

Jumlah
38
100%
Rata-rata 81,58%

Tingkat perbandingan perolehan hasil evaluasi masing-masing rentang, lebih jelas disajikan gambar berikut.
Gambar 1 Diagram Perbandingan Hasil Evaluasi Siklus ISiklus 2
Berdasarkan indikator pengamatan dari tiga orang pengamat  kolaborator mengamati proses pembelajaran Matematika. Hasil pengamatan berupa nilai. Nilai tersebut selanjutnya dirata-rata dan direkap sebagaimana pada tabel berikut.


Tabel 5. Data Hasil Pengamatan Proses Pembelajaran siklus 2

No
Aspek Pengamatan
Pengamat
Jml
R
1
2
3
1
Keaktifan dan ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran

18
18
17
53
17,67

Berdasarkan data tersebut dapat ditunjukkan persentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi dari tiga pengamat, yakni seperti tabel berikut.
Tabel 6. Persentase Hasil Pengamatan Pembelajaran Siklus 2
No
Aspek
Persentase
Kriteria
1
Keaktifan dan ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran

88,33%
Amat Baik

Perolehah persentase dihitung berdasarkan perbandingan skor maksimal dengan skor yang diperoleh dari pengamatan. Perhitungannya sebagai berikut.
(Skor Hasil : Skor Maksimal) x 100% = Persentase Pengamatan. Berikut ini disajikan besar persentase interval masing-masing kriteria.
1. 1% - 25%: kurang
2. 26% - 50%: cukup
3. 51% - 75%: baik
4. 76% - 100%: amat baik

Data hasil evaluasi pembelajaran siklus 2 disajikan Sebagai berikut.
Tabel 7. Rentang Hasil Evaluasi Pembelajaran Siklus 2
No
Rentang Nilai
Jumlah
Persentase
Kriteria
1
< 65
1
2,63%
Tidak tuntas
2
65 – 74
6
15,79%
Tuntas
3
75 - 84
15
39,47%
Tuntas
4
≥ 85
16
42,11%
Tuntas

Jumlah
38
100%
Rata-rata 86,32%




 Tingkat perbandingan perolehan hasil evaluasi masing-masing rentang, lebih jelas ditunjukkan gambar berikut ini.
Gambar 2. Diagram Perbandingan Hasil Evaluasi Siklus IIB.     Pembahasan
Siklus 1
Perencanaan
Pada siklus 1 guru  memberi penegasan tentang konsep bangun datar, bahwa bangun datar terdiri atas sisi, sudut, dan diagonal. Metode pembelajaran adalah STAD, untuk itu peserta didik dalam proses pembelajaran secara berkelompok. Masing-masing kelompok berkerjasama dengan bersungguh-sungguh. Setiap kelompok bertanggung jawab terhadap anggota kelompoknya. Kelompok-kelompok belajar tersebut bersaing, baik secara individual maupun secara kelompok.



Tindakan
Peserta didik belajar berdasarkan lembar kerja siswa (LKS). Berdasarkan LKS tersebut Peserta didik belajar memecahkan masalah dengan alat bantu MBDW. Dengan waktu yang telah ditentukan, peserta didik melaporkan hasil kerja kelompoknya. Setiap anggota, mempunya tanggung jawab yang sama untuk melaporkan hasil kerja kelompoknya. Dengan demikian, masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab terhadap anggotanya agar mampu memecahkan masalah dalam diskusi, agar kelompok belajarnya dapat unggul dalam persaingan. Pada akhir pertemuan, peserta didik secara individu mengerjakan evaluasi.  

Pengamatan
Berdasarkan pengamatan guru secara kolaborator, tampak bahwa peserta didik yang bodoh cenderung pasif dan peserta didik yang pintar cenderung mendominasi kelompok diskusi. Secara keseluruhan, skor pengamatan dapat dijelaskan bahwa kesungguhan dan keaktifan masing-masing skor 9, keceriaan dan kompetisi antarkelompok dengan skor 10, dan kerja sama memperoleh skor terendah, yakni 8, sehingga diperoleh jumlah skor 46 dengan rata-rata skor 15,33. Persentase ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran 78,33%, dengan demikian kriteria proses pembelajaran amat baik.
Hasil evaluasi pada akhir proses pembelajaran diperoleh data bahwa dari 38 peserta didik, ada 2 anak dinyatakan belum tuntas, 36 anak dinyatakan telah tuntas. Peserta didik yang memperoleh nilai lebih dari 85 ada 10 anak. Secara klasikal, tingkat ketuntasan minimal yang telah ditentukan 75% telah dapat dicapai, yakni 81,58%.

Refleksi
Refleksi dilakukan oleh guru dengan kolaborator, yakni menyepakati adanya pendampingan kelompok-kelompok diskusi yang di dalamnya terdapat peserta didik yang masih belum mampu secara aktif mengikuti proses pembelajaran. Serta adanya kontrol individu selama proses pembelajaran berjalan.

Siklus 2
Perencanaan
Perencanaan sesuai dengan siklus 1 dengan menambah pendampingan terhadap kelompok yang terdapat peserta didik yang kurang dapat mengikuti kerja kelompok secara baik. Guru memberi pancingan-pancingan berupa pertanyaan-pertanyaan atau penjelasan-penjelasan yang mengarah pada materi pelajaran. Pertanyan-pertanyaan tersebut sekaligus sebagai kontrol individual maupun melompok.



Tindakan
Pelaksanaan siklus 2 merupakan kelanjutan dari siklus 1. Dari dua siklus tersebut ada tiga kali pertemuan. Materi siklus pertama yang belum dikuasai oleh peserta didik secara mendalam dibahas ulang, baru kemudian disajikan materi selanjutnya. Sedangkan utuk pertemuan 2, pada akhir pertemuan dilaksanakan evaluasi. Evaluasi tersebut untuk mengetahui efektivitas pembelajaran peserta didik.

Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan guru secara kolaborator, suasana proses pembelajaran siklus 2 ada peningkatan. Proses pembelajaran berjalan lebih aktif daripada pembelajaran siklus 1. Kesungguhan memperoleh skor 11, keaktifan dan kerjasama skor 9, keceriaan dan kompetisi antarkelompok belajar skor 12.
Dengan adanya penghargaan terhadap kelompok yang paling berhasil, ternyata dapat berdampak pada peningkatan usaha untuk dapat menjadi kelompok yang terbaik. Jumlah skor keseluruhan 53 dengan rata-rata skor 17,67. Persentase ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran 88,33%, dengan demikian kriteria proses pembelajaran mengalami peningkatan dengan kriteria amat baik.
Hasil evaluasi pada akhir proses pembelajaran diperoleh data bahwa dari 38 peserta didik, ada 1 anak dinyatakan belum tuntas, 37 anak dinyatakan telah tuntas. Peserta didik yang memperoleh nilai lebih dari 85 ada 16 anak. Secara klasikal, tingkat ketuntasan minimal yang telah ditentukan 80% telah dapat dicapai, yakni 86,32%.
Refleksi
Refleksi guru dan pengamat kolaborater sepakat bahwa hasil belajar cukup signifikan, tujuan tercapai, efektivitas tindakan  pembelajaran pada siklus 2 tinggi. Pendampingan terhadap peserta didik yang kurang dapat bekerja secara kelompok dan kontrol  individual secara berkelangsungan sangat diperlukan.


BAB V
PENUTUP


 
  
C.    Kesimpulan
Berdasarkan perolehan hasil pengamatan dan hasil evaluasi siklus 1 dan siklus 2 dapat dikemukakan bahwa,
1.      Proses pembelajaran dengan metode STAD dan alat bantu MBDW  ternyata menyenangkan. Keaktifan peserta didik ditunjukkan dengan skor nilai pengamatan 78,33% dan 88,33% kriteria amat baik.
2.      Dengan metode STAD  dan alat bantu belajar MBDW efektivitas pembelajaran tinggi, indikator kerja yang diharapkan dapat dipenuhi, rata-rata perolehan nilai dari siklus 1 dan siklus 2 berturut-turut mengalami peningkatan yaitu ari 81,58% meningkat menjadi 86, 32%, secara individual tingga 1 orang anak yang belum tuntas, secara klasikal telah dinyatakan tuntas dengan indikator kerja 80%.

D.    Saran
Metode STAD dengan alat bantu MBDW efektif membantu peserta didik dalam memecahkan masalah pembelajaran Matematika. Akan tetapi, sering terjadi monopoli dari salah satu peserta didik pada kelompok belajar. Untuk menghindari hal tersebut disarankan
1.     
22
 
Masing-masing kelompok hendaknya tidak hanya 1 alat bantu MBDW, 
2.      Mengingat pembuatan alat bantu MBDW membutuhkan biaya, hendaknya ada anggaran dana dari sekolah,
3.      Pembelajaran dengan alat bantu serupa hendaknya perlu dikembangkan pada mata pelajaran yang lain.DAFTAR PUSTAKA

Imam Roji. 1997. Materi Penataran Guru Pemandu Matematika. Semarang: Proyek SD Jateng

Julius Hambali, Iskandar, dan Mohamad Rohmad. 1996. Materi Pokok Matematika Modul 1 – 9. Jakarta: Universitas Terbuka

Nurhadi, Yasin B., dan Senduk GS. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk Tingkat SD dan MI. Jakarta: Depdiknas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar