KAJIAN PUSTAKA
PTK Matematika SMP
JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
2. 1. Ketahanan Pribadi Siswa
Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain;
Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain;
- belum mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain, misalnya kebiasaan siswa mencontoh hasil pekerjaan temannya, atau adanya siswa yang sering mengekor pendapat temannya,
- belum memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, misalnya kebiasaan siswa kurang berani memulai suatu pekerjaan (kurang berani untuk mengambil keputusan walaupun beresiko).
- Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
- Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
- Mendambakan kebersamaan,
- Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.
Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas (kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan negatif lainnya.
Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh dan lain-lain predikat negatif.
Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif pada prestasi belajarnya. PTK Matematika SMP Kelas 7
2. 2. Pembelajaran Kooperatif
Masih banyak guru beranggapan bahwa tugas mereka adalah memindahkan informasi pengetahuan dari buku atau kepala mereka kepada siswa, sedangkan tugas siswa adalah menerima, mengingat, dan menghafalkan informasi tersebut. Dengan kata lain, siswa dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif sedangkan guru adalah pemilik pengetahuan. Anggapan ini tampaknya didasarkan pada paradigma yang dipopulerkan oleh John Locke, yakni siswa dianggap seperti selembar kertas putih kosong yang menunggu tulisan dari guru. Siswa bagaikan botol kosong yang bisa diisi dengan curahan pengetahuan dari guru, sehubungan dengan ini pula, suasana belajar yang dominan adalah struktur persaingan dimana siswa saling berlomba menjadi lebih baik dari lainnya para guru pun ikut berlomba dengan guru (atau sekolah) lainnya.
Banyak guru menganggap paradigma diatas sebagai satu-satunya jalan. Namun teori dan penelitian menunjukkan bahwa fokus pembelajaran terletak pada belajar secara mendalam dan sesuai dengan pengalaman, memerlukan keterlibatan penuh dan belajar dengan aktif, ketrampilan dikembangkan dalam kaitannya dengan belajar yang relevan (kontektual), materi secara terintegrasi digunakan dan dibentuk oleh siswa. Dengan demikian prinsip utama dalam pandangan kontruktivis adalah pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa (Jonhson & Johnson, 1994)
Karena penekanannya pada belajar bagaimana belajar, maka pembelajran yang dilakukan haruslah pembelajaran bermakna dan tersusun secara hirarkis. Dalam hal ini guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator yang melayani pertanyaan dan pendapat siswa tanpa menyalahkan siswa. Guru membimbing siswa dalam melakukan negoisasi menuju pada penguasaan materi. Proses pembelajaran kooperatif yang efektif dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersama-sama dengan guru dan siswa lainnya membangun sendiri pengetahuan mereka.
Menurut (Johnson & Johnson, 1994), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu diantaranya adalah : 1)Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa, dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain., sehingga seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. ; 2) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat, hal ini terjadi karena seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok dalam memperoleh penghargaan kelompok. ; 3)Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dalam arti tanggung jawab siswa dalam membantu siswa yang membutuhkan bantuan sehingga siswa tidak hanya sekedar membonceng pada hasil kerja teman sekelompoknya. : 4) Ketrampilan interpersonal dalam kelompok kecil, dalam hal ini siswa dituntut aktif dalam bersikap dan menyampaiakan ide sebagai angggota kelompok. ; 5) Proses kelompok, proses ini terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik pula.
Menurut (Anita Lie, 1999) beberapa manfaat proses pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1) Siswa dapat meningkatkan kemampuan bekerja sama ; 2) Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan ; 3) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran ; 4) Mengurangi kecemasan siswa ;5) Meningkatkan motivasi, harga diri dan sikap positif ;5) Meningkatkan prestasi akademik
2. 3. Hasil Penelian yang Relevan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, diantaranya dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, dan retensi yang lebih lama (Lungren, 1994 dalam Ratumanan). Hasil penelitian yang sama yang dilakukan oleh Widada (1999) dan Tri Djoko (1999) memperlihatkan hasil yang tidak berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar