CONTOH PTK-MTK
JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat meyelesaikan
karya ilmiah ini. Allah Maha Besar atas segala limpahan karunia-Nya
yang diberikan kepada makhluk-makhluknya. Selayaknya rasa syukur saya
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
ridho-Nya. Yang diiringi dengan dukungan dari berbagai pihak sehingga
pada akhirnya terwujudlah karya ilmiah ini.
Penulis
merasa bahwa kajian karya ilmiah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat
penulis harapkan. Tidak lupa dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
karya ilmiah ini.
Akhirnya semoga hal-hal yang penulis sajikan dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amien.
Kasturi, Juni 2009
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ...... iii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ................................................... 3
C. Tujuan Penelitian................................................................................... 4
D. Manfaat Hasil Penelitian ...................................................................... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar Matematika dengan Pemahaman.............................................. 6
B. Membangun Pemahaman...................................................................... 7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Subjek Penelitian ................................................................................ 10
B. Objek Penelitian ................................................................................. 10
C. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 10
D. Metode Analisis Data ......................................................................... 10
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data Studi Pendahuluan .................................................... 12
B. Pelaksanaan Tindakan Siklus Pertama ............................................... 16
C. Pelaksanaan Tindakan Siklus Kedua .................................................. 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ......................................................................................... 32
B. Saran ................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Daftar Nilai Kondisi Awal Siswa Siklus Pertama................................... 18
Tabel 2 Nilai Observasi Siswa Pada Kelompok Diskusi....................................... 19
Tabel 3 Hasil Nilai Post Tes Setelah Pelaksanaan Tindakan................................. 20
Tabel 4 Daftar Nilai Kondisi Awal Siswa Siklus Kedua...................................... 25
Tabel 5 Nilai Observasi Siswa Pada Kelompok Diskusi....................................... 26
Tabel 6 Hasil Nilai Post Tes Setelah Pelaksanaan Tindakan................................. 27
Tabel 7 Tabel Perbandingan Perolehan Hasil Nilai Pre Test dan Post Test.......... 31
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada
dasarnya ssemua strategi, metode, atau istilah-istilah yang digunakan
dalam teori pendidikan dengan tujuan agar terciptanya proses belajar
mengajar yang efektif efisien serta banyak mengandung makna, sehingga
proses belajar mengajar mengalami perubahan menjadi proses pembelajaran.
Hal ini dimaksudkan untuk lebih memberikan bobot serta makna yang dalam
agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran serta berdampak pada
perubahan tingkah laku baik menyangkut unsur kognitif, afektif maupun
psikomotor.
Tugas
dan peranan guru antara lain menguasai dan mengembangkan materi
pelajaran, merencanakan, dan mempersiapkan serta mengevaluasi kegiatan
siswa. Artinya tugas guru dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar
meliputi tugas paedagogis dan administrasi. Guru dalam melaksanakan KBM
perlu mempertimbangkan beberapa hal diantaranya kemampuan memilih dan
menggunakan metode yang tepat. Dalam hal ini ketepatan suatu metode
pengajaran tergantung pada situasi dan materi pelajaran yang disajikan
oleh sebab itu, guru harus mampu memahami sifat dan keunggulan berbagai
metode pengajaran, agar mempermudah dalam menyampaikan pelajaran kepada
siswa.
Metode
mengajar yang tepat harus memperhatikan kemauan, dorongan, minat,
potensi, dan kemampuan siswa dalam melakukan suatu kegiatan dalam suatu
proses pengajaran. Salah satu contoh kondisi pembelajaran yang
seringkali disajikan guru dalam pembelajaran Matematika dinilai masih
belum tepat sasaran dan bahkan cenderung penerapannya masih dibatasi
dengan kanteks buku tertentu saja. Dan kecerobohan pembelajaran tersebut
mengakibatkan timbulnya verbalisme serta kurang berkembangnya wawasan
maupun pengetahuan pada siswa itu sendiri Hal inilah pokok permasalahan
yang dihadapi guru dalam peranannya sebagai penyelenggara pendidikan.
Hal yang perlu dikaji ulang adalah bagaimana teknik pengelolaan kelas
yang tepat.
Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam
proses belajar mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya
proses belajar mengajar secara benar.
Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur
anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana
yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Suatu proses belajar
mengajar dapat dikatakan berhasil apabila guru memiliki pandangan
masing-masing sejalan dengan filsafatnya". Karena itulah suatu poses
belajar mengajar tentang suatu bahan/materi pelajaran dinyatakan
berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan instruksional khususnya dari
bahan tersebut. Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah agar guru selalu berusaha tanpa memandang kekurangan fisik maupun
pikiran yang dirasakannya juga memberikan kesadaran kepada guru tanpa
pengelolaan kelas yang baik akan mengalami hambatan. Tujuan pengelolaan
kelas pada hakekatnya terkandung dalam tujuan pendidikan secara umum
tujuan pengelolan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektua! dalam
kelas untuk memungkinkan siswa belajar dan bekerja dalam suasana
disiplin dengan melibatkan perkembangan intelektual, emosional, dan
sikap apresiasi.
Ada
banyak faktor yang mempengaruhi kebehasilan guru dalam mengajar, antara
lain adalah penerapan metode yang tepat dalam penyelenggaraan proses
belajar mengajar. Teknik mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan
di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah "metode penemuan". Penemuan
sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa.
Dalam hal ini siswa menemukan sesuatu hal yang baru. Metode penemuan
(discovery) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu
konsep atau suatu prinsif dengan proses mental, misalnya : mengamati,
menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, membuat kesimpulan
dan sebagainya.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa metode penemuan sebagai suatu prosedur
pengajaran serta komponen dari praktek pendidikan yang bertujuan
memajukan cara belajar aktif yang bergorientasi pada keterampilan proses
mencari dan menemukan yang baru secara sendiri dan reflektif. Di dalam
pembelajaran matematika pelaksanaan pengajaran dengan metode penemuan
guru harus betu-betul memperhatikan siswa yang cerdas dan yang kurang
cerdas untuk menghindari sikap bosan menunggu teman-temannya yang belum
berhasil menemukannya. Sehingga dalam hal ini materi harus mempunyai
bobot yang berbeda dari kedua kelompok siswa tersebut. Ada beberapa
hal-hal yang baru bagi siswa dalam pembelajaran matematika diharapkan
menemukan berupa konsep, teorema, rumus, pola, aturan, dan sejenisnya
dapat menemukan. Mereka harus melakukan pengetahuan siap melalui cara
induksi, deduksi, observasi, ekstrapolasi. Pengajaran dengan penemuan
sukar digunakan karena pelaksanaannya selalu sesuai dengan pengetahuan
siswa yang telah diperoleh sebelumnya.
Dengan
demikian, maka jelas bahwa berhasil tidaknya proses pembelajaran
tergantung pada guru sebagai pengemudi pendidikan disamping
komponen-komponen lainnya. Oleh karena itu tepat sekali apabila guru
senantiasa mengadakan proses perenungan dengan mengadakan penelitian
tindakan kelas sebagai upaya dalam menuju profesionalisme guru.
B. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah
Disadari
atau tidak, bahwa siswa belajar paling baik adalah dengan cara
mengkondisikan untuk dapat menemukannya sendiri. Tetapi bagaimana agar
dalam proses belajar siswa mampu melakukan kegiatan tersebut ? salah
satu cara yang harus dilakukan adalah dengan cara merancang suatu
strategi yang meriah sesuai dengan kesiapan siswa. Belajar yang meriah
dan efektif adalah proses belajar yang dapat dilakukan oleh siswa,
menyenangkan, namun mengarah pada hal yang serius sehingga di dalamnya
merupakan kumpulan strategi yang komprehensif.
Sistem
pembelajaran yang demikian harus senantiasa diupayakan berlaku kapan
dan oleh semua mata-pelajaran apapun tanpa tarkecuali Matematika, sebab
dalam prakteknya siswa harus bisa menyerap berbagai pengalaman secara
nyata sehingga kegiatan belajar tercipta secara aktif, efektif serta
penuh makna.
Selama
ini banyak guru mengajar cenderung mengajar secara model lama cukup
dengan berbincang, memegang kapur, atau sesekali menulis, tanpa didukung
berbagai persiapan yang menyangkut masalah paedagogis maupun
administrasi untuk itu ada beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
perencanaan pembelajaran dengan penerapan metode penemuan ada
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di
kelas VI SD Negeri Kasturi II ?
2. Bagaiman?
pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode penemuan ada
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di
kelas VI SD Negeri Kasturi II
?
3. Bagaimana
hasil pembelajaran dengan penerapan metode penemuan ada pengaruhnya
terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di kelas VI SD
Negeri Kasturi II
C. Tujuan Penelitian
Secara
umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengupayakan penerapan metode
penemuan secara tepat dan efektif dalam penyelenggaraannya pembelajaran
matematika, sehingga guru mengetahui persis kelebihan dan kekurangan
dari suatu metode secara akurat.
Secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui perencanaan pembelajaran dengan penerapan metode penemuan
ada pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran
Matematika di kelas VI SD Negeri Kasturi II
.
2. Untuk
mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode penemuan
ada pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran
Matematika di ketas VI SD Negeri Kasturi II
.
3. Untuk
mengetahui hasil pembelajaran dengan penerapan metode penemuan ada
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di
kelas VI SD Negeri Kasturi II
.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai manfaat untuk:
1. Guru,
karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dapat
digunakan sebagai bahan masukan untuk menyusun dan mangembangkan model
pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif.
2. Siswa,
karena penelitian ini dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dalam
proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih berkesan dan
bermakna.
3. Peneliti,
yaitu sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang sejenis dapat
membantu peneliti lain untuk lebih mengembangkan hasil penelitianya.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Belajar Matematika dengan Pemahaman
Suatu gagasan matematika atau prosedur atau fakta dikatakan dipahami jika ha! ini menjadi bagian dari jaringan internal. Lebih spesifik lagi dikatakan matematika dimengerti apabila representasi mentalnya merupakan bagian dari jaringan representasi. Tingkat
pemahaman akan ditentukan oleh jumlah dan kekuatan dari keterkaitannya.
Suatu gagasan matematika, prosedur, atau fakta dipahami dengan sempurna
apabila terjalin dengan kuat dengan jaringan yang telah ada dan
memiliki jumlah koneksi yang lebih banyak.
Terdapat
beberapa jenis koneksi yang dikonstruksi siswa dalam proses belajar
sehingga membentuk jaringan mental, yaitu hubungan yang terbentuk atas
dasar persamaan dan perbedaan, dan hubungan yang terbentuk berdasar
inklusi. Hubungan yang berdasar kesamaan dan perbedaan dapat tercipta
dengan mengorespondensikan sesuatu yang tidak ada dengan yang ada atau
sebaliknya dalam suatu bentuk representasi eksternal yang sama.
Misalnya, seorang siswa yang sedang melakukan representasi blok basis-10
dengan notasi dalam algoritma tertulis untuk bilangan bulat.
Jenis
hubungan yang lain adalah terbentuk ketika suatu fakta atau prosedur
dipandang sebagai kasus khusus daripada yang lainnya. Jenis hubungan ini
didasarkan atas inklusi dari suatu kasus umum atau kasus khusus.
Hubungan seperti ini tampaknya terdapat dalam jaringan yang hirarkis.
Contoh koneksi yang terjadi dalam hubungan inkhusi adalah pada saat anak
bekerja pada permulaan penjumlahan dan pengurangan. Mereka
menyelesaikan soal cerita dalam penjumlahan dan pengurangan menggunakan
strategi membilang yang mancerminkan struktur semantik dari permasalahan
itu. Model
seperti ini berdasar atas skemata permasalahan yang merupakan tipe-tipe
dasar dari struktur semantik. Umumnya, skemata merupakan jaringan
internal yang relatif stabil yang dikonstruksi pada abstraksi dan
penyimpulan tingkat tinggi.
Dapat
disimpulkan bahwa hal yang sangat bermanfaat apabila kita memikirkan
pengetahuan matematika siswa sebagai jaringan representasi internal.
Pemahaman terjadi apabila representasi terkoneksi dalam jaringan kohesif
dengan struktur yang lebih terorganisasi. Koneksi yang menciptakan
jaringan-jaringan membentuk banyak jenis hubungan, seperti kesamaan,
perbedaan, dan inklusi.
B. Membangun Pemahaman
Jaringan
dari representasi mental dibangun secara bertahap dengan mengaitkan
informasi baru pada jaringan yang telah ada dan menjadi struktur
jaringan baru. Pemahaman tumbuh pada saat jaringan bertambah besar dan
lebih terorganisasi. Tingkat pemahaman kurang baik apabila representasi
mental atau gagasan-gagasan terkait terhubung pada tingkat koneksi yang
lemah.
Pertumbuhan
jaringan ini dapat terjadi dalam beberapa cara. Yang paling mudah
dibayangkan adalah mendekatkan representasi suatu fakta atau prosedur
baru terhadap jaringan yang telah ada. Sebagai contoh, seorang siswa
kelas 4 SD yang telah memahami nilai tempat dan menguasai algoritma
tertulis dalam penjumlahan dan pengurangan. Siswa tersebut akan
membangun koneksi untuk penjumlahan dan pengurangan yang merupakan
jaringan yang telah ada akan menjadi lebih besar, sehingga penjumlahan
dan pengurangan desimal dapat dipahami. Perubahan dalam jaringan dapat
dideskripsikan sebagai reorganisasi. Representasi disusun kembali,
koneksi baru terbentuk, dan koneksi lama dimodifikasi atau bahkan
dihapus. Konstruksi dari hubungan baru akan mengakibatkan rekonfigurasi
jaringan.
Menggunakan
Representasi Alternatif di Kelas. Dalam pendidikan matematika sudah
sejak lama dipikirkan berbagai alternatif dalam merepresentasikan
gagasan-gagasan matematika, seperti pemanfaatan benda-benda kongkrit. Penelitian
mengenai efektivitas penggunaan benda-benda konkrit di kelas memberikan
hasil berbeda-beda. Anak dapat memahami matematika dengan baik ketika
dalam pembelajarannya memanfaatkan benda-benda konkrit, menunjukkan
bahwa anak mampu membangun hubungan sehingga terjadi koneksi dan
interaksi jaringan dari presentasi benda-benda nyata. Hasil yang
mengidentifkasi bahwa benda-benda konkrit kadangkala tidak efektif
mengundang diskusi lebih lanjut. Diantaranya adalah jika siswa tidak
memiliki pengetahuan awal seperti yang diharapkan guru, maka akan sangat
sulit bagi siswa untuk menghubungkan interaksi benda nyata dengan
jaringan yang telah ada.
Memahami
Simbol Tertulis. Sistem simbol tertulis standar dalam matematika
memegang peranan penting khususnya terhadap pengalaman belajar siswa
dalam membentuk sistem representasi. Arti dari simbol tertulis dapat
berkembang dalam dua cara seperti perkembangan pemahaman, mengkaitkan
dengan bentuk representasi lain atau membangun koneksi antar
representasi. Ketika simbol tertulis dikaitkan dengan bentuk lain,
seperti objek fisik, gambar, dan bahasa lisan, sumber pemaknaan berasal
dari jaringan internal yang sudah terbeniuk. Pemaknaan dapat terjadi
melalui pembentukan hubungan dalam sistem simbol, yang seringkali
terjadi melalui pengenalan pola dalam sistem simbol.
Apabila
pembelajaran difokuskan pada pemaknaan dan pemahaman, terdapat sejumlah
konsekuensi sebagai dampak dari proses mental yang terjadi. Beberapa konsekuensi tersebut adalah sebagai berikut:
Pemahaman
adalah Generatif. Sudah banyak disetujui bahwa siswa mengkonstruksi
pengetahuan metematika bukannya menerima bentuk jadi dari guru atau
buku. Artinya siswa mengkreasi representasi internal mereka dari
interaksi dengan dunia dan membangun jaringan representasi. Signifikansi
dari analisis ini adalah bahwa jika pemahaman dibangun secara inisial
dan proses inventif dapat beroperasi dalam representasi mental dari
banyak dukungan. Proses inventif ini membangun pemahaman siswa tentang
sesuatu yang baru. Invensi yang bekerja atas dasar pemahaman dapat
melahirkan pemahaman baru seperti efek bola salju.
Pemahaman
Menyokong Daya lngat. Penelitian yang dilakukan Bartlett (1932)
memperjelas bahwa memori merupakan proses konstruktif atau
rekonstruktif, bukannya aktivitas pasif. Apabila informasi yang akan
diingat lebih kompleks, orang sering menstrukturnya sedemikian rupa
sehingga menindih sesuatu yang bermakna di dalamnya. Cara
seperti ini seringkali dilakukan untuk memodifikasi informasi yang
harus diingat. Informasi direpresentasi oleh siswa sedemikian rupa
sehingga berpadu dengan jaringan pengetahuan yang telah ada. Keuntungan
dari terjadinnya hubungan antara pengetahuan baru dengan yang telah ada
adalah koneksi pengetahuan yang terjalin dengan kuat maka akan diingat
dengan baik.
Pemahaman
Mengurangi Jumlah yang Harus Diingat. Konsekuensi dari tingkat
pemahaman berkorelasi dengan tingkat daya ingat. Sesuatu yang dipahami
direpresentasi sedemikian rupa sehingga terkait dengan suatu jaringan.
Apabila jaringan itu makin terstruktur dengan baik, maka makin gampang
untuk diingat. Memori untuk suatu bagian dari jaringan muncul melalui
memori dari jaringan yang utuh. Oleh karena itu, pemahaman dapat
mereduksi jumlah item yang harus diingat.
Pemahaman
Meningkatkan Transfer. Transfer adalah esensial untuk kompetensi
matematika. Disebut demikian karena permasalahan baru harus diselesaikan
menggunakan strategi yang pernah dipelajari sebelumnya. Transfer
terjadi karena kebanyakan siswa meningkat kemampuannya dalam
menyelesaikan suatu masalah karena mereka pernah mempelajari
permasalahan yang berkaitan sebelumnya.
Pemahaman
Mempengaruhi Beliefs. Pemahaman juga mempengaruhi proses afektif.
Beliefs siswa mengenai matematika dipengaruhi oleh perkembangan
pemahamannya. Dan juga dalam membangun suatu pemahaman matematika
dipengaruhi oleh beliefs siswa tentang matematika.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Penelitian
Objek
penelitian kali ini diarahkan pada penerapan metode penemuan ada
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran matematika.
Lebih lanjut penelitian ini akan mengkaji dan mengungkap terkait
masalah-masalah kegiatan penerapan metode penemuan ada pengaruhnya
terhadap hasil belajar siswa pada pelajaran matematika di kelas VI SD
Negeri Kasturi II
B. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada SD Negeri Kasturi II.Penelitian dilakukan oleh peneliti di Kelas VI SD Nageri S Kasturi II dengan siswa sebanyak 20 orang.
C. Metode Pengumpulan data
Pengumpulan
data merupakan kegiatan yang ditetapkan dalam menggali data yang
dibutuhkan dalam penelitian ini. Adapun kegiatankegiatan yang dilakukan
untuk mengumpulkan data ini dilakukan melalui :
a. Tes
uraian. Tes uraian merupakan soal yang dapat digunakan oleh peneliti
berkaitan dengan pengukuran terhadap pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran yang sudah disampaikan.
b. Catatan
Lapangan. Catatan lapangan adalah tulisan tentang kejadiankejadian
selama proses pembelajaran berlangsung, berguna untuk mengumpulkan data
dalam penelitian kualitatif.
D. Metode Analisis Data
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK),. Penelitian Tindakan
kelas dalam terminologi Bahasa Inggris lazim disebut "Classroom Action
Research" yaitu suatu bentuk kajian melalui self reflective yang
bercirikan pada kegiatan partisipatif dan kolaboratif yang dilaksanakan
oleh para praktisi pendidikan untuk meningkatkan praktek, pelaksanaan
kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran. Dengan kata lain, Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah
setempat suatu sekolah atau lebih khusus lagi pada pembelajaran tertentu
dan di suatu kelas tertentu, dengan menggunakan metode ilmiah.
Penelitian jenis ini dilakukan untuk memperbaiki suatu proses atau
modifikasinya melalui suatu perbaikan praktek dengan menerapkan
teori-teori yang ada.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data Studi Pendahuluan
Data
studi pendahuluan merupakan gambaran lengkap mengenai pelaksanaan
kegiatan penelitian yang di dalamnya membahas kondisi pendukung maupun
sasaran yang akan berguna dalam upaya perumusan kegiatan awal penerapan
metode penemuan pada mata pelajaran matematika di SD, hingga pencapaian
konsep yang kita harapkan setelah pelaksanaan penelitian tersebut.
Adapun aspek-aspek yang harus dikaji terlebih dahulu adalah sebagai berikut
1. Faktor Guru
Untuk
dapat merealisasikan kegiatan pembelajaran dengan penerapan metode
penemuan sebagai salah satu metode yang penulis ajukan dalam makalah
ini, maka yang harus terlebih dahulu mendapat sorotan adalah guru itu
sendiri. Guru sebagai ujung tombak keberhasilan dalam suatu proses
pembelajaran, artinya seperti apa kemampuan guru, maka seperti itu
pulalah keberhasilan siswa dalam belajar.
Termasuk
kemampuan guru dalam menggunakan metode. Berdasarkan hasil wawancara
yang penulis lakukan terhadap teman sejawat, serta satu sekolah dimana
penulis juga mengajar, maka dari kedelapan guru teman sejawat yang ada
dapat dipastikan yang bisa dan pernah atau mampu menerapkan metode
penemuan hanya satu orang, dengan frekuensi satu tahun pengajaran hanya
dua kali; serta hanya pada mata pelajaran IPA saja. Hal tersebut
dikarenakan bahwa metode penemuan hanya dapat diterapkan pada mata
pelajaran IPA saja, menurutnya.
Dengan
dasar inilah, maka penulis mencoba memberikan pemahaman baru, bahwa
tidak hanya pada mata pelajaran IPA saja penerapan metode penemuan dapat
disajikan dalam suatu proses pembelajaran, salah satunya adalah pada
mata pelajaran matematikan, dan atau berlaku untuk semua mata pelajaran.
Faktor
guru sebagai salah satu aspek pendukung pelaksanaan penelitian,
sekaligus menjadi objek penelitian, sejauh mana seorang guru memahami
metode, yang salh satunya adalah metode penemuan.
Dengan data yang penulis peroleh, maka mendapat kesimpulan sebagai berikut:
a. Metode penemuan relatif jarang digunakan guru dalam penyelenggaraan proses pembelajaran, pada mata pelajaran apapun.
b. Metode penemuan dianggap sulit dalam penyelenggaraannya.
c. Penerapan metode penemuan harus ada persiapan yang matang dan terencana sebelumnya.
d. Umumnya kemampuan guru yang terbatas terhadap pemahaman tentang pelaksanaan penerapan metode penemuan.
2. Faktor Peseta Didik
Peserta
didik atau siswa merupakan objek penelitian yang menjadi fokus utama
penulis, dalam menyusun makalah ini, sehingga dalam porsinyapun siswa
mendapat perhatian yang penuh, dibanding dengan faktor-faktor yang
lainnya.
Untuk
mendapatkan informasi yang akurat, terlebih dahulu penulis mengadakan
wawancara untuk mengetahui kemampuan siswa dengan cara mengajukan
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi siswa terhadap proses
pembelajaran yang selama ini sering dilakukan oleh guru, dalam mengajar
Matematika, maka diperoleh data sebagai berikut:
a. Pada
dasarnya siswa jenuh belajar matematika, karena guru mengajar relatif
dengan gaya yang itu juga sehingga terkesan monoton tidak ada fariasi
lain.yang dapat membangkitkan gairah belajar pada siswa,
b. Siswa
sebagai sasaran langsung dalam objek penelitian, merasakan kesulitan
belajar matematika lebih dikarenakan oleh soal latihan yang terlalu
dipaksakan oleh guru tanpa adanya proses penanaman pemahaman terlebih
dahulu terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
c. Dengan
kondisi seperti tersebut di atas, maka penulis berharap dengan aadanya
penerapan metode penemuan dapat merubah paradigma baru terhadap persepsi
pembelajaran matematika selama ini, dengan antisipasi berbagai
persiapan pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika yang dikemas
sesuai minat serta keinginan siswa.
Kegiatan penelitian terhadap siswa sebagai objek penelitian adalah sebagai berikut
a. Terlebih
dahulu penulis mengadakan dulu tanya jawab terhadap siswa dalam bentuk
angket, berkenaan dengan persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika
yang selama ini mereka terima dari pengajaran di sekolah sudah cukup
menarik.
b. Mengadakan
wawancara sebagai tindak lanjut dari data hasil angket, berkenaan
dengan pembelajaran yang bagaimana yang mereka kehendaki dalam
pembelajaran matematika.
c. Selanjutnya
penulis mengadakan tes awal, sebagai alat ukur sejauh mana wawasan
siswa terhadap materi yang akan dijadikan sebagai sarana bahan
pengajaran dalam pelaksanaan penelitian tindakan.
d. Dengan
data yang penulis peroleh dari hasil tes awal tersebut, maka
selanjutnya penulis mengadakan perengkingan untuk mengklasifikasi kelas
unggul dan siswa yang kurang, agar tepat sasaran apa sebenarnya yang
dibutuhkan siswa dalam pembelajaran matematika.
Dengan
data yang penulis peroleh dapat disimpulkan bahwa keadaan faktor siswa
sebagai objek penelitan tindakan sebelum penerapan metode penemuan
adalah sebagai berikut:
a. Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika.
b. Adanya keinginan dari siswa agar pola pembelajaran matematika dirubah dengan pola-pola permainan yang variatif
c. Adanya perbedaan kemampuan yang terlalu jauh antara siswa yang cepat dengan siswa yang kurang.
3. Faktor Media Pembelajaran
Pada
umumnya guru merasa kesulitan dalam menentukan media pembelajaran yang
tepat pada suatu materi pokok bahasan matematika, sehingga selatif semua
media pembelajaran hampir jarang disajikan dalam setiap pembelajaran.
Media
pembelajaran idealnya disajikan dengan beragam bentuk dan corak, agar
siswa merasa senang sekaligus dapat memberikan gambaran yang konkrit
mengenai materi yang akan disajikan. Media yang variatif juga dapat
memberikan kesemarakan pada proses pembelajaran, sehingga siswa
cenderung lebih aktif dan antusias untuk terlibat dalam proses
pembelajaran tersebut.
Prossc
pembelajaran akan lebih bermakna manakala siswa secara aktif terlibat
dalam kegiatan belajar, dengan gambara-gambaran media yang lebih nyata
serta dapat lebih cepat dimengerti, mudah diingat, apalagi merupakan
pengalaman siswa secara langsung.
Namun
kenyataan yang sekarang ini terjadi, terutama pada pembelajaran
matematika, guru hampir tidak sama sekali menyediakan media sebagai alat
bantu pembelajaran, padahal media sangat dibutuhkan bukan saja oleh
siswa tetapi juga guru itu sendiri untuk mempelancar sekaligus penentu
keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran.
Penggunaan
media pembelajaran yang tepat dan variatif bisa dipastikan akan dapat
mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran.
4. Faktor Sumber Belajar
Pergantian
kurikulum yang relatif sering dilakukan oleh para ahli pandidikan
ternyata tidak memberikan dampak yang positif terhadap arah tujuan
pendidikan yang lebih bermutu, namun justru mendapat sambutan yang
kurang simpatik dari masyarakat dan cenderung merupakan perubahan yang
monoton.
Dengan
pergantian kurikulum, maka otomatis berganti pulalah buku sumber
belajar sebagai pegangan baik untuk siswa maupun guru. Sumber belajar
yang baik adalah bukan saja buku, namun lingkungan atau sumber-sumber
pengetahuan lainnya yang relefan, sesuai dengan tujuan kurikulum yang
diharapkan. Kenyataan yang ada sekarang ini bahwa sumber belajar lebih
identik kepada buku saja, sehingga buku dijadikan sebagai sumber
segala-galanya bagi penyelenggaraan pendidikan.
Pemahaman
yang tepat terhadap sumber belajar sebagai faktor yang mempengaruhi
keberhasilan dalam proses pembelajaran harus lebih diperkuat, bahwa
sumber belajar bukan saja buku, namun apapun yang ada dilingkungan
ataupun pengalaman seseorang sekiranya relefan dengan tujuann
pembelajaran itu semua adalah sumber pembelajaran.
Sumber
belajar akan dapat memberikan makna dalam proses pembelajaran, manakala
guru sebagai penyelenggara pembelajaran dapat lebih selektif dan tapat
sasaran dalam memilih sumber-sumber belajar secara tapat, Yang
selanjutnya dapat membantu memberikan informasi secara lengkap terhadap
siswanya terhadap suatu materi yang disajikan
Adapun buku sumber yang penulis jadikan sebagai dalam penerapan metode penemuan adalah sebagai berikut:
1. GBPP yang sudah disempurnakan SD Kelas VI.
2. Buku paket matematika kelas VI terbitan Sarana Panca Karya.
3. Buku paket matematika kelas VI terbitan Intan Pariwara.
4. Buku paket matematika kelas VI terbitan Balai Pustaka.
5. Buku intisari dan Pembahasan Soal Matematika kelas VI terbitan Balai Pustaka, dan sumber lain yang relefan dengan kurikulum.
B. Pelakaanaan Tindakan Siklus Pertama
1. Perencanaan
Sebelum
melaksankan tindakan penulis terlebih dahulu menyusun rencana persiapan
yang akan disajikan pada action dan sampel penelitian. Adapun
persiapan-persiapan yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:
a. Langkah-langkah penyusunan Sekenario pembelajaran
Setiap
guru akan menyajikan materi pelajaran, maka terlebih dahulu harus
menyusun dulu persiapan mengajar yang dituangkan dalam sekenario
pembelajaran ataupun persiapn dalam bentuk yang lainnya dengan rumusan
tujuan yang sistematis dan terencana oleh waktu dan sebagainya.
Adapun langkah-langkahnya secara garis besarnya adalah sabagai berikut :
1) Merumuskan
tujuan, sebagai hal yang penting dalam menyusun sekenario pembelajaran,
sekaligus merupakan tolak ukur kemampuan yang seperti apa yang akan
diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Tujuan terdiri dari Tujuan
kurikulum, tujuan umum (tercantum dalam GBPP), tujuan pembelajaran
khusus yang harus dirumuskan guru sesuai dengan kata-kata operasional
yang sudah berlaku.
2) Menentukan metode pembelajaran apa yang dianggap tepat dan dapat mengefektifkan proses pembelajaran.
3) Menyusun
langkah.-langkah kegiatan pembelajaran yang sistematis dengan aneka
teknik dan pendekatan mengajar yang dikuasai oleh guru.
4) Menentukan alat peraga sebagai media pembelajaran yang dianggap mampu dan dapat membantu siswa untuk lebih cepat memahami materi yang tengah disampaikan oleh guru.
5) Merumuskan
LKPS sebagai alat penggiring bagi siswa untuk menghantarkan siswa pada
kegiatan belajar yang aktif dan kreatif dengan pola menemukan sendiri
harapan-harapan yang ada pada tujuan pembelajaran khusus.
6) Merumuskan
alat Evaluasi, yang akan dijadikan sebagai alat ukur pencapaian tujuan
pembelajaran yang diwujudkan dalam bentuk butiran soal-aoa! sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan
2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Pembelajaran Siklus Pertama
Pelaksanaan
tindakan dan observasi pembelajaran pada siklus pertama yang
dilaksanakan oleh penulis pada hari Senin tanggal 6 April 2009 dengan
waktu 2 jam pelajaran (2 X 40 menit ) pada mata pelajaran matematika
dengan pokok bahasan Bangun Ruang di Kelas VI SD Negeri Sukamukti I
dengan banyak siswa 20 orang.
Kegiatan
awal yang yang penulis laksanakan terlebih dahulu adalah melaksanakan
pre test (tes awal), dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana
persiapan siswa terhadap materi yang akan disampaikan, untuk selanjutnya
penulis menyesuaikan bobot materi yang akan disampaikan. Adapun
perolehan nilai dari kondisi awal dapat dilihat dari tabel berikut ini:
PTK : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d
PTK : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d
PTK : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d

Tidak ada komentar:
Posting Komentar