Senin, 29 Mei 2017

KAJIAN PUSTAKA PTK MTK SD

KAJIAN PUSTAKA PTK MTK SD
 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

1.Pengertian Kemampuan

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, peserta didik, Guru sebagai pendidik dituntut untuk memiliki kemampan yang baik karena antar siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pendidik merupakan suatu interaksi.

Menurut Purwodarminto. (1988:553) Kemampuan berasal dari kata “Mampu” artinya Kuasa (bisa, sanggup) melakukan Sesuatu. Dari definisi diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan untuk melakukan sesuatu kegiatan.

Dalam pengembangan pembelajaran guru harus memiliki kemampuan untuk memilih strategi, metode, alat pembelajaran dan teknik-teknik pembelajaran yang, efektif, efisien sesuai dengan karakteristik siswa. Apalagi saat ini sekolah-sekolah menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang mana dalam kurikulum ini antara guru dan siswa dituntut aktif, kreatif, dan inovatif  dalam mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mulyasa, (2002:183) yang mengatakan, proses pembelajaran merupakan interaksi edukatif antara peserta didik dengan lingkungan sekolah. Dalam hal ini sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah.

Dari pendapat diatas alat bantu pembelajaran tidak harus membeli dengan harga-harga yang mahal dan moderen, tetapi dapat menggunakan benda-benda kongkrit disekitar sekolah untuk sarana pembelajaran. Pendapat lain juga mengatakan, dalam pembelajaran pelajaran Matematika kelas I Sekolah dasar konsep dasar yang digunakan adalah benda-benda kongkrit disekitar sekolah. (Wardhani, 2004:3). Dengan benda-benda kongkrit disekitar sekolah di gunakan sebagai alat pembelajaran akan tercipta suasana pendidikan yang PAKEM (Pembelajaran Aktif  Kreatif efektif dan Menyenangkan)
2.2. Pengertian Mengoperasionalkan

Mengoperasionalkan berasal dari kata “operasi” yang artinya pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan, maka apabila mengoperasionalkan berarti melaksanakan suatu kegiatan yang telah direncanakan (Purwodarminto, 1988:627).

Apabila dikaitkan dengan penjumlahan dan pengurangan maka mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan maka melaksanakan suatu kegiatan menjumlah dan mengurang suatu bilangan. Mengoperasionalkan suatu kegiatan tidaklah mudah, guru sebagai pendidik harus mampu memilih strategi dan metode yang tepat untuk melaksanakannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Hamalik (2002:11): metode merupakan komponen yang mengandung unsur sub stantif atau program kurikulum, metode penyajian bahan dan media pendidikan. Tiap jenjang pendidikan guru memiliki programnya sendiri, sesuai dengan tujuan institusionalnya yang membutuhkan metode penyampaian dan metode tepat guna, demi tercapainya mutu lulusan yang baik.
2.3. Pengertian Kongkrit

Kongkret adalah nyata, benar-benar ada ( berwujud, dapat dilihat, diraba dsb). (Purwodarminto,1988:455)
 Kata kongkret biasanya sering dihubungkan dengan benda-benda, baik benda-benda di rumah, di jalan atau dilingkungan sekitar. Benda adalah segala yang ada di alam yang berwujud atau barjasad (bukan roh) misal bola, kelereng, kayu, kerikil dsb.

Sehingga apabila digabungkan benda-benda kongkret adalah segala yang ada di alam yang berwujud, berjasad dan benar-benar ada.             
 

PTK Matematika Untuk SD Kelas 1

PTK Matematika Untuk SD Kelas 1

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI

.1.    LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam perananya dimasa akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi agama, masyarakat, keluarga dan negara. Merupakan suatu kenyataan bahwa pemerintah dalam hal ini diwakili lembaga yang bertanggung jawab didalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, akan tetapi pendidikan menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah dan masyarakat yang sering disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

 Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan adalah mengenai rendahnya mutu pendidikan atau Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Dalam hal ini yang menjadi kambing hitam adalah guru dan lembaga pendidikan tersebut, orang tua tidak memandang aspek keluarga dan kondisi lingkungannya. Pada hal lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat menentukan terhadap keberhasilan pendidikan.

 Memasuki Tri bulan pertama tahun 2006-2007, ketika diadakan Ulangan Tengah Semester mulai tampak timbul suatu masalah. Sewaktu ulangan jatuh pada mata pelajaran Matematika begitu naskah dibagikan, sebagian siswa berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya, ada yang garuk-garuk kepala, juga tidak sedikit yang menangis karena merasa tidak bisa mengerjakan. Akhirnya nilai yang diperoleh oleh sisa kelas I dalam pelajaran matematika khususnya dalam mengoperasionalkan penjumlahan  dan pengurangan. Nilai dari 37 siswa sebagai berikut: (1) 80-100 Amat baik ada 10 siswa =27 %. (2) 55-79 Cukup ada 7 siswa =10 %. (3) 0-54 Kurang ada 20 siswa =55 %. Dengan kondisi nilai tersebut diatas guru sebagai peneliti merasa pembelajaran matematika dikelas I krang berhasil.

Selama ini peneliti sudah menggunakan berbagai macam metode untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, tetapi hasilnya masih belum memuaskan. Agaknya memang strategi/pendekatan-pendekatan saja belum cukup untuk menghasilkan perubahan. Meier (2002 : 54) mengatakan bahwa belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah suatu yang diserap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar. PTK Matematika SD

Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar  memadukan pengetahuan dan keterampilan baru kedalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berharfiah adalah menciptakan makna baru, sejauh ini pendidikan kita didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar baru yang memberdayakan siswa sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafalkan fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.

Dalam upaya itu siswa perlu guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dengan alat bantu yang dikenal siswa disekitarnya, dari pada memberi informasi.memang pendidikan siswa kelas I Sekolah Dasar masih identik dengan dunia bermain, karena siswa kelas I belum dapat melepas keterkaitannya dengan pendidikan Taman Kanak-Kanak sebelumnya, karena itu benda-benda disekitar sekolah sangat membantu proses pembelajaran siswa.

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas peneliti ingin meningkatkan kemampuan siswa kelas I Sekolah Dasar dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika dengan bantuan benda-benda kongkrit.
1.2.    PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH PTK Matematika SD
  • 1.2.1.    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumusan masalahnya sebagai berikut: Bagaimana penggunaan benda-benda kongkrit mampu meningkatkan kemampuan siswa kelas I SDN Jimbaran Kulon dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika.
  • 1.2.2.   Pemecahan Masalah
Dengan bantuan benda-benda kongkrit disekitar sekolah siswa kelas I SD Jimbaran Kulon mampu mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika.
1.3.     TUJUAN PENELITIAN  PTK Matematika SD
Berpijak dari permasalahan yang diteliti maka tujuan  penelitian ini  adalah:
  • 1.3.1    Meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan dengan bantuan benda-benda kongkrit.
1.4. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :
1.4.1. Siswa :
  • Mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran matematika.
  • Mempermudah siswa mencari alat bantu pembelajaran dengan benda-benda kongkrit di sekitar Sekolah.
1.4.2. Guru Sebagai peneliti :
  • Meningkatkan profesionalisme dalam bidang pendidikan.
  • Menambah nilai angka kredit bagi golongan IV.a ke IV.b.
1.4.3. Lembaga
  • Memberi sumbangan yang berharga bagi lembaga bahwa benda-benda disekitar kita dapat dijadikan sebagai alat bantu pembelajaran.
  • Meringankan beban lembaga karena benda-benda di sekitar kita mudah dicari dan tidak memerlukan beaya yang mahal untuk membelinya.
1.4.4. Orang tua siswa 
  • Meringankan biaya orang tua siswa karena benda-benda di sekitar sekolah tidak harus membeli.
 

 


PTK Matematika Kelas 4

PTK Matematika Kelas 4

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 
1.1      Latar Belakang Masalah
           
Secara umum matematika merupakan pelajaran yang dianggap sulit dan tidak disukai oleh siswa. Hal ini sesuai dengan hasil angket siswa kelas IV SDN Kludan  yang menyatakan bahwa 45 % siswa tidak menyukai pelajaran matematika dan merasa sulit untuk mengikutinya. Oleh karena itu hasil pembelajaran matematika tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan Mulyana (2001) dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa nilai matematika berada pada posisi yang paling bawah, sehingga tidak heran kalau nilai matematika dipakai sebagai tolak ukur dari kecerdasan siswa.
Kalau kita kaji lebih dalam hal tersebut bukan merupakan kesalahan siswa semata tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor guru itu sendiri sebagai pendidik .Kekurangan guru yang biasa dilakukan  dalam kegiatan belajar mengajar adalah mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, memberi hukuman tanpa melihat lataar belakang kesalahan, menunggu siswa berbuat salah, mengabaikan perbedaan siswa, merasa paling pandai, tidak adil, memaksa hak siswa, (Mulyasa, 2005:20). Namun menurut hasil pengamatan peneliti kesalahan yang biasa dilakukan guru dalam membelajarkan matematika di tempat peneliti hingga siswa cepat menjadi bosan  adalah (1) Dalam membelajarkan matematika guru hanya berpedoman pada buku pegangan. (2) Penyampaian konsep sarat dengan hafalan-hafalan. (3) Kegiatan pembelajaran masih monoton. (4) Kurang memperhatikan keterampilan prasarat.
Keterampilan prasarat memang sangat diperlukan dalam pembelajaran, hal tersebut seperti yang dikemukakan oeh Gagne (dalam Degeng:1997:4) bahwa setiap mata pelajaran mempunyai prasarat belajar  (learning prerequisites). Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika maka keterampilan prasarat yang harus dikuasai siswa umumnya adalah hitung dasar yang meliputi: penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian  .Sebaik apapun konsep matematika yang disampaikan oleh guru pada pembelajaran matematika namun bila siswa tidak menguasai hitung dasar sebagai keterampilan prasaratnya maka hasil pembelajaran kurang memuaskan.  PTK Matematika SD
Berdasarkan hasil ulangan harian siswa kelas IV SDN Kludan tahun pelajaran 2005-2006 smester I tentang perkalian bersusun menunjukkan bahwa 20% siswa menguasai secara tuntas, 35% siswa agak menguasai,dan 45% kurang menguasai pada hal pada pembelajaran matematika sehari-hari guru sudah menjelaskan secara lisan, ditulis di papan tulis, memberi contoh, bahkan memberikan soal-soal latihan tentang perkalian bersusun, dan juga siswa sudah diberi kesempatan untuk bertanya ketika guru mengajar, namun sedikit sekali mereka yang mengajukan pertanyaan. Ketika guru balik bertanya  hanya beberapa siswa yang  dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar, itupun karena siswa tersebut  memang pandai di kelasnya. Dan bila diberi tes perkalian rata-rata hasilnya rendah.
Rendahnya penguasaan kemampuan hitung perkalian kemungkinan besar dikarenakan guru kurang tepat dalam memilih cara atau media dalam pembelajaraan. Siswa kelas IV cara berfikirnya masih pada benda konkrit, sementara guru tidak memperhatikan hal tersebut sehingga dimungkan siswa mengalami kesulitan.
Berdasarkan masalah di atas peneliti akan berupaya meningkatkan  kemampuan menghitung perkalai dengan media benda-benda sekitar yang dekat dengan siswa antara lain dengan jari tangan dan kartu bilangan. Dengan menggunakan media tersebut diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan hitung perkalian, lebih baktif, kreatif sehingga lebih banyak siswa yang mencapai ketuntasan dalan hafalan perkalian sampai bilangan 100, perkalian bersusun dan operasi perkalian

1.2    Perumusan Masalah          
Berdasar uraian di atas maka penelitian ini ditekankan pada peningkatan kemampuan menghitung perkalian dengan media benda-benda terdekat pada pelajaran matematikan sisqa kelas IV SDN Kludan. Dengan demikian dapat dirumuskan permasalahan sebagaai berikut:
Bagaimana menggunakan media benda-benda terdekat dapat meningkatkan kemampuan menghitung siswa kelas IV SDN Kludan?

1.3    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pernyataan peneliti yang telah dirumuskan , tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menghitung perkalian siswa kelas IV SDN Kludan, dengan menggunakan media benda-benda terdekat.

1.4    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah:
  1. Bagi siswa penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan aktivitas belajarKerja sama , dan kemampuan menghitung perkalian.
  2. Bagi guru sebagai peneliti untuk meningkatkan profesionalisme dan        mendorong peneliti untuk melaksanakan penelitian serupa lebih lanjut.
  3. Bagi guru sejawat untuk memberikan motivasi serta referensi model-model pembelajaran yang positif.
  4. Dengan adanya guru-guru mengadakan penelitian tindakan kelas berarti pembelajaran di kelas lebih berkualitas sehingga terjadi perubahan positif. PTK Matematika SD

1.5    Batasan Istilah        
Adapun batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
  1. Kemampuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesanggupan atau   Kecakapan untuk melakukan sesuatu, Kemisa (1997).
  2. Menghitung perkalian adalah hitung perkalian dan Pembagian yang di ajarkan pada kelas IV SD yang meliputi: Menghafal perkalian dan pembagian sampai bilangan 100, hitung perkalian bersusun, dan operasi perkalian.
  3. Media benda-benda terdekat adalah alat Bantu pembelajaran dengan menggunakan benda-benda terdekat seperti kartu bilangan dan jari tangan.  
Bab II
KAJIAN PUSTAKA
PTK Matematika SD 

2.1     Strategi  Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
          
Pembelajaran didevinisikan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa Degeng (1997:1). Bertolak dari devinisi tersebut pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu kegatan yang memberikan fasilitas belajar yang baik sehingga terjadi proses belajar. Pemberian fasilitas belajar bagi siswa memerlukan suatu strategi, yaitu strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran matematika adalah kegiaatan yang dipilih oleh pengajar (guru) dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan fasilitas belajara sehingga memperlanacar tujuan belajar matematika Hudoyo (dalam Harmini: 2003:9)
Pendidikan matematika di sekolah dasar merupakan basis pendidikan dalam membentuk insan Indonesia seutuhnya, seperti diisyaratkan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah dari tahun ketahun. Lulusan sekolah dasar diharap dapat membekali dirinyaa dengan kemampuan-kemampuan yang memungkinkan mereka mau dan mampu menata kehidupan yang lebih layak baik dalam proses pendidikan formal selanjutnya maupun dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Sasaran tersebut dapat terjangkau jika program pembelajaran di sekolah memenuhi basis pendidikan bermutu.
Dalam Depdikbut (1993) disebutkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar berfungsi sebagai pengembang kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan - bilangan  smbol-simabol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan mempermuda menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut pada jenjang sekolah dasar diutamakan agar siswa mengenal, memahami serta mahir menggunakan bilangan dalam kaitannya dengan praktek kehidpupan seharai-hari.
Sejalan dengan fungsi pembelajaran matematika di sekolah dasar disebutkan  tujuan umum pendidikan matematika di sekolah dasar adalah belajar bernalar ,pembentukan sikap siswa, dan keterampilan dalam dalam menerapkan matematika.
Jadi dalam setiap pembelajaran matematika di sekolah dasar guru tidak  cukup hanya memahami konsep hafalan-hafalan, tetapi lebih dari itu guru harus lebih dapat membuat bagaimana nalar serta sikap siswa terbentuk.untuk itu guru wajib berupaya mengembangkan diri dalam profesinya.

2.2    Peranan Media Pembelajaran      
Pengertian media pendidikan menurut Aqip (2003:79) adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menimbulkan kegiatan belajar mengajar yang memungkinklan siswa untuk memperoleh atau mencapai pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap.
Penertian ini bukan merupakan satu-satunya pengertian yang paling tepat melainkan hanya merupakan salah satu jalan untuk mengambil consensus dari adanya bermacam-macam istilah dan batasan. Disamping itu pengertian ini perlu dirumuskan dengan maksud terdapatnya suatu landasan berpijak yang menjadi titik berangkat guna  pembahasan lebih lanjut. PTK Matematika SD
Media pendidikan mempunyai beberapa fungsi  yaitu fungsi sosial, fungsi edukafif, fungsi ekonomi,  fungsi politik, dan fungsi budaya, Hamalik (1980). Dalam hubungannya dengan fungsi edukatif  media pendidikan mempunyai beberapa ciri yaitu: 
  1. Media pendidikan identik artinya dengan alat peraga  yang berarti alat yang bisa diraba, dilihat, didengar, dan diamati oleh panca indra.
  2. Tekanan utama terdapat pada benda atau hal yang dapat didengar atau di lihat.
  3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran antara guru dan murid.
  4. Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
  5.  Media pendidikan mengandung aspek–aspek sebagai alat dan teknik yang       sangat erat hubungannya dengan metode mengajar.

Media merupakan alat Bantu belajar dan mengajar. Alat ini hendaknya ada ketika dibutuhkan ubntuk memenuhi kebutuhan siswa dan guru yang menggunakannya. Agar kebutuhan yang beragam dari kurikulum dan siswa secara individu dapat terpenuhi, maka suatu variasi yang luas dan berjumlah besar memang diperlukan. Jika guru mengajar tanpa menggunakan atau dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan (media) untuk melaksanakan tugasnya maka hasilnya akan kurang memuaskan dan tak dapat dipertanggungjawabkan.

Media pendidikan mempunyai dampak yang berarti bagi siswadan citra diri mereka, jika media tersebut dipilih secara tepat dan ceramat dengan mempertimbangkan cirri-ciri media dan karakteristik siswa. Media pendidikan akan lebih efektif dan efisien penggunaannya jika guru sudah terlatih dan terbiasa menggunakannya.

Mengingat betapa penting peran media pendidikan  dalam kegiaatan belajar mengajar  maka dalam setiap pembelajaran hendaknya menggunakan media pendidikan. Media pendidikan yang baik hendaknya disesuaikan dengan karakter siswa  dan juga dikenal oleh siswa. Media yang dikenal siswa adalah benda-benda terdekat atau di lingkungan  sekitar siswa.  

Jumat, 26 Mei 2017

KAJIAN PUSTAKA PTK Matematika SMP

KAJIAN PUSTAKA  PTK Matematika SMP

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 
 2.    1. Ketahanan Pribadi Siswa

Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain;
  1. belum mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain, misalnya kebiasaan siswa mencontoh hasil pekerjaan temannya, atau adanya siswa yang sering mengekor pendapat temannya, 
  2. belum memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, misalnya kebiasaan siswa kurang berani memulai suatu pekerjaan (kurang berani untuk mengambil keputusan walaupun beresiko).
Menurut (Soedarsono,S, 1999) secara esensial seseorang disebut memiliki ketahanan pribadi (keuletan) bila ia ;
  • Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
  • Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
  • Mendambakan kebersamaan,
  • Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.

Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas (kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan negatif lainnya.

Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh dan lain-lain predikat negatif.

Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif pada prestasi belajarnya.  PTK Matematika SMP Kelas 7

2.    2. Pembelajaran Kooperatif
Masih banyak guru beranggapan bahwa tugas mereka adalah memindahkan informasi pengetahuan dari buku atau kepala mereka kepada siswa, sedangkan tugas siswa adalah menerima, mengingat, dan menghafalkan informasi tersebut. Dengan kata lain, siswa dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif sedangkan guru adalah pemilik pengetahuan. Anggapan ini tampaknya didasarkan pada paradigma yang dipopulerkan oleh John Locke, yakni siswa dianggap seperti selembar kertas putih kosong yang menunggu tulisan dari guru. Siswa bagaikan botol kosong yang bisa diisi dengan curahan pengetahuan dari guru, sehubungan dengan ini pula, suasana belajar yang dominan adalah struktur persaingan dimana siswa saling berlomba menjadi lebih baik dari lainnya para guru pun ikut berlomba dengan guru (atau sekolah) lainnya.

Banyak guru menganggap paradigma diatas sebagai satu-satunya jalan. Namun teori dan penelitian menunjukkan bahwa fokus pembelajaran terletak pada belajar secara mendalam dan sesuai dengan pengalaman, memerlukan keterlibatan penuh dan belajar dengan aktif, ketrampilan dikembangkan dalam kaitannya dengan belajar yang relevan (kontektual), materi secara terintegrasi digunakan dan dibentuk oleh siswa. Dengan demikian prinsip utama dalam pandangan kontruktivis adalah pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa (Jonhson & Johnson, 1994)

Karena penekanannya pada belajar bagaimana belajar, maka pembelajran yang dilakukan haruslah pembelajaran bermakna dan tersusun secara hirarkis. Dalam hal ini guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator yang melayani pertanyaan dan pendapat siswa tanpa menyalahkan siswa. Guru membimbing siswa dalam melakukan negoisasi menuju pada penguasaan materi. Proses pembelajaran kooperatif yang efektif dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersama-sama dengan guru dan siswa lainnya membangun sendiri pengetahuan mereka.

Menurut (Johnson & Johnson, 1994), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu diantaranya adalah : 1)Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa, dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain., sehingga seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. ; 2) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat, hal ini terjadi karena seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok dalam memperoleh penghargaan kelompok. ; 3)Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dalam arti tanggung jawab siswa dalam membantu siswa yang membutuhkan bantuan sehingga siswa tidak hanya sekedar membonceng pada hasil kerja teman sekelompoknya. : 4) Ketrampilan interpersonal dalam kelompok kecil, dalam hal ini siswa dituntut aktif dalam bersikap dan menyampaiakan ide sebagai angggota kelompok. ; 5) Proses kelompok, proses ini terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik pula.

Menurut (Anita Lie, 1999) beberapa manfaat proses pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1) Siswa dapat meningkatkan kemampuan bekerja sama ; 2) Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan ; 3) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran ; 4) Mengurangi kecemasan siswa ;5) Meningkatkan motivasi, harga diri dan sikap positif ;5) Meningkatkan prestasi akademik

2.    3. Hasil Penelian yang Relevan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang  rendah  hasil belajarnya, diantaranya dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, dan retensi yang lebih lama (Lungren, 1994 dalam Ratumanan). Hasil penelitian yang sama yang dilakukan oleh Widada (1999) dan Tri Djoko (1999) memperlihatkan hasil yang tidak berbeda.


Contoh PTK MTK SMP Kelas 7

Contoh  PTK MTK SMP Kelas 7 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 1.1. Latar Belakang Masalah

Kurangnya ketahanan pribadi dalam belajar matematika dapat diduga akan berpengaruh besar terhadap gairah belajar matematika. Jika hal ini dibiarkan maka siswa akan semakin tidak menyenangi matematika bahkan pada taraf tertentu akan bersikap anti pati pada pelajaran matematika. Akibat dari itu semua semua tentu prestasi belajar matematika akan semakin rendah.


Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa di SMP Negeri 2 Sedati Sidoarjo. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung hampir 60% diantara para siswa memiliki ketahanan pribadi dalam belajar matematika masih rendah , data yang lain dapat dilihat dari hasil  wawancara beberapa siswa. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab pertanyaan atau menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil resiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya ketahanan pribadi (keuletan) siswa dalam belajar matematika.

Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses pembelajaran diantaranya masih kuatnya dominasi guru dalam proses pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran, disamping itu guru dalam pembelajarannya masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha benar, dan dalam proses pembelajarannya guru belum mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam berfikir kritis, logis dan kreatif.

Pada kurikulum 2004 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar diantaranya adalah Berpusat pada siswa, Belajar dengan Melakukan serta Mengembangkan Kemampuan Sosial. Dengan memperhatikan 3 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut mengacu pandangan Konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung dari guru, sehingga pembelajaran sering disebut pembelajaran berpusat pada siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi kepada pendekatan konstruktivis adalah model pembelajaran kooperatif.

Menurut Abdurrahman Asy’ari (2000), belajar hendaknya mampu memberikan bekal “life skills” yang memungkinkan siswa “survive” dalam kondisi yang bagaimanapun. Belajar jangan hanya dimaksudkan untuk mengasah otak, tetapi juga untuk mengasah “qolbu” suapaya tercipta rasa positif seperti lebih percaya diri, tabah, tenang, tidak mudah gelisah, mau menghargai orang lain, tidak mematikan semangat orang lain dan pantang menyerah.

Hal-hal diatas memberikan arah bahwa pembelajaran matematika hendaknya tidak boleh melepaskan diri dari proses kerjasama. Dengan bekerja sama, seorang anak yang lebih “dewasa” dalam suatu konsep bisa memberi bantuan kepada temannya untuk mencapai kemampuan idealnya. Dengan bekerja sama, peluang terbentuknya ketrampilan sosial, dan kematangan emosional juga lebih besar. Dan diharapkan dapat pula meningkatkan ketahanan pribadi siswa dalam belajar matematatika.

1. 2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini ada dua masalah yang perlu dicarikan solusinya yaitu :  PTK Matematika SMP Kelas 7
  1. Apakah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika ?
  2. Bagaimana proses pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika ?

1.    3. Hipotesis Tindakan
Pembelajran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika.


1.    4. Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk  meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil penelitian ini diharapkan bermafaat bagi :   PTK Matematika SMP Kelas 7
  1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam meningkatkan ketahanan pribadinya dalam belajar matematika serta memupuk keberaniannya dalam bekerja mandiri.
  2. Bagi guru, hasil penelitian dapat bermanfaat dalam inovasi pembelajaran (model pembelajaran kooperatif), dan peningkatan profesionalisme guru (melaksanakan refleksi dalam upaya perbaikan proses pembelajaran).
  3. Bagi sekolah, dalam usaha meningkatkan kualitas hasil belajar matematika siswa melalui kolaborasi guru-guru dalam suatu penelitian tindakan kelas.

1. 5. Definisi Operasional Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dalam penafsiran hasil penelitian ini, maka perlu diberikan batasan tentang istilah yang terdapat dalam rumusan tujuan penelitian diatas sebagai berikut :
  1. Ketahanan pribadi (keuletan) siswa adalah usaha siswa dalam menggali potensi diri. Yang dapat diterjemahkan sebagai tindakan yang dinamis dan berani mengambil resiko dengan indikator : 1) kecemasan siswa berkurang, 2) motivasi, 3) harga diri, dan 4) sikap positifnya meningkat.
  2. Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara kelompok kecil yang merupakan tempat siswa belajar dan bekerjasama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individu sekaligus kelompok, sehinga dalam diri siswa terbentuk sikap kebergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal (Santoso, 1998).

Pada penelitian ini pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah tipe STAD yang merupakan teknik belajar kelompok yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pengetahuan atau tugas dengan siswa lain, mengajar serta diajar oleh sesama siswa. Hal ini merupakan bagian penting dalam belajar.

Contoh Soal Matematika

Contoh Soal Matematika

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 

  1. Himpunan [Download]
  2. Rasionalisasi [Download]
  3. Geometri [Download]
  4. Sistem Persamaan Linier [Download]
  5. Pertidaksamaan [Download]
  6. Persamaan Kuadrat [Download]
  7. Fungsi Kuadrat [Download]
  8. Bilangan Kompleks [Download]
  9. Dalil Sisa [Download]
  10. Eksponen [Download]
  11. Logaritma [Download]
  12. Matriks [Download]
  13. Komposisi [Download]
  14. Deret Artimatika [Download]
  15. Dimensi Tiga [Download]
  16. Permutasi & Kombinasi [Download]
  17. Statistika [Download]
  18. TrigonoMetri [Download]
  19. Limit [Download]
  20. Diferensial [Download]
  21. Integral [Download]
  22. Lingkaran [Download]
  23. Vektor [Download]
  24. Logika Matematika [Download]  nih ada  satu lagi logika matematika

Soal Tryout Matematika
  1. Tryout Matematika A [Download] dan Kunci Jawaban  [Download
  2. Tryout Matematika B  [Download] dan Kunci Jawaban  [Download

Mudah mudahan teman teman semua mendapatkan manfaat dari soal yang saya sediakan ini, selamat belajar semuanya jangan lupa kalau sudah pintar, ajari teman teman yang masih kurang faham dengan matematika. Banyak orang yang tidak suka mengerjakan soal matematika karena menjenukan katanya! nahini tugas teman teman semua bagaimana biar matematika itu tidak menjenukan di depan mereka,

Oh ya, saya rasa tidak semuanyakan teman teman kita yang lain sering main ke internet dan cari kumpulan soal matematika gratis, nah bagi teman teman yang sering ke internet  dan kebetulan mampir di blog saya, so jangan pelit bagi bagi ke teman teman yang lain ya. liat saya tuh gak pelit kan (ahhahaah). Ok deh selamat belajar yaa.

Download PTK Matematika SMP Sedrajat

Download PTK Matematika SMP Sedrajat 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 

Berikut ini Contoh Penelitian Tindakan Kelas Untuk Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs
  1. Pedoman Penyusunan Usulan ( download )
  2. Artikel Tentang PTK ( download )
  3. PTK Oman SMPN 272 :

Contoh PTK Matematika SMP [Lengkap]

Contoh PTK Matematika SMP [Lengkap] 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

Berikut ini Contoh Penelitian Tindakan Kelas Untuk Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs
  1. Pedoman Penyusunan Usulan ( download )
  2. Artikel Tentang PTK ( download )
  3. PTK Oman SMPN 272 :
 

Rabu, 24 Mei 2017

PTK Pengajaran Berbasis Inquiry Pelajaran PKn (2)

PTK Pengajaran Berbasis Inquiry Pelajaran PKn (2)

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

 

 A. Lokasi Penelitian
Penelitian saya lakukan untuk mengkaji pembelajaran PKn dengan jumlah pertemuan satu kali setiap minggu dua jam pelajaran selama 90 menit di kelas X ( jenjang kelas dengan kurikulum 2004) pada SMA Negeri 1 Geger Kabupaten Madiun. Adapun situasi sekolah dapat didiskripsikan sebagai berikut ;
SMA Negeri 1 Geger, memiliki tujuh kelas paralel dengan rata-rata siswa per kelas 40 orang dengan kemampuan akademik rata-rata baik. Ruang kelas standar, beberapa kelas tempat duduk siswa satu set dengan meja belajar (kursi kuliah) dan fasilitas penunjang pembelajaran relatif memadai dengan kondisi lingkungan yang kondusif. Guru mata pelajaran PKn tiga orang termasuk peneliti .
Adapun faktor yang diselidiki meliputi ;
1. Faktor Siswa: dengan melihat aktifitas belajar KD Penegakan HAM dan Implikasinya mata pelajaran PKn pada pembelajaran di kelas melalui pendekatan inkuiri .
2. Faktor Guru : dengan melihat cara guru dalam merencanakan pembelajaran dan melaksanakan kegiatan di kelas.
B. Bentuk dan Strategi Penelitian
Dalam meningkatkan aktifitas belajar siswa, peneliti dan kolaborator telah menyusun rencana umum tindakan yang akan dilakukan berdasarkan hasil diskusi selama pengamatan pra-observasi. Dalam perencanaan umumuntuk mengatasi masalah yang dihadapi, peneliti bersama guru berkolaborasi merencanakan pengajaran berbasis inkuiri. Guru dan siswa juga akan bertukar pikiran mengenai masalah yang dihadapi siswa di dalam proses pembelajaran. Semua saran dari siswa akan dicatat oleh guru dan kolaborator. Para Kolaborator diharapkan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sewaktu guru mengajar, kolaborator memperhatikan, mencatat dan mengumpulkan data yang diperlukan. Setiap akhir pertemuan pengajar, peneliti dan kolaborator mendiskusikan dan mengevaluasi kejadian pengajaran yang disusun kedalam catatan lapangan.

PTK Pengajaran Berbasis Inquiry Pelajaran PKn (3)

PTK Pengajaran Berbasis Inquiry Pelajaran PKn (3)

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

 

 
A. Hasil Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan pada strategi penelitian di atas pra-observasi dilakukan untuk memperoleh kondisi awal siswa tentang sikap dan minat terhadap bahan ajar penegakan HAM dan implikasinya. Dengan instrumen skala sikap dan minat, diperoleh data ; Tabel  4.1. ; Minat siswa terhadap mata pelajaran Kewarganegaraan
Selanjutnya dalam penelitian ini dapat dikemukakan kedalam tiga siklus. Pada setiap siklus dikemukakan hasil penelitian dan penerapan rancangan pembelajaran yang telah di tetapkan terhadap bahan ajar Penegakan HAM dan Implikasinya serta temuan – temuan penting yang dirangkum dalam catatan lapangan sebagai bahan refleksi untuk merencanakan siklus ke dua dan seterusnya.

 

 

penelitian tindakan kelas (PTK) SMP

penelitian tindakan kelas (PTK) SMP 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 
 
  • PEMANFAATAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VIII G SMP NEGERI 22 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran


  • PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATA PELAJARAN PKN DI SMP N I GODONG GROBOGAN
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT), Godong Grobogan


  • PEMANFAATAN LABORATORIUM PANCASILA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 1 BANTUL
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pemanfaatan Laboratorium Pancasila, Media Pembelajaran PKn, Bantul
  • PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE DAN KONVENSIONAL MATERI KEBEBASAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MAPEL PKn KELAS VII MTs NU Ungaran Semarang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Kooperatif Tipe Scramble dan Konvensional, Kelas Vii MTs NU, Ungaran, Semarang
  • PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DISKUSI DENGAN MEDIA MIND MAP UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VII SMP NEGERI 04 RANDUDONGKAL PEMALANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Metode Pembelajaran dengan Media Mind Map, Kelas VII, Randudongkal, Pemalang
  • KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS VIII DI SMP NEGERI 19 SEMARANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Kooperatif Tipe Jigsaw, Kelas VIII, Semarang
  • PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP N 3 DOPLANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Instrumen Penilaian PKn, Doplang
  • IMPLEMENTASI NILAI – NILAI DEMOKRASI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMP NEGERI 3 GRINGSING BATANG
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Gringsing, Batang
  • Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Muhammadiyah 8 Limbangan
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Penerapan Alat Evaluasi Non Tes Mata, Limbangan
  • PENGEMBANGAN KREATIVITAS MENGAJAR GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn (Studi Kasus di Kelas VIII dan IX SMP Negeri 8 Cilacap)
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Pengembangan Kreativitas Mengajar Guru, Kelas VIII, Kelas Delapan, Cilacap
  • Implementasi Nilai-Nilai Demokrasi dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Batang
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Nilai-nilai Demokrasi, Kelas VIII, Kelas Delapan (8), Batang
  • Implementasi Pendidikan Budi Pekerti Yang Diintegrasikan Ke Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Margoyoso Pati
Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas/PTK , Sekolah Menengah Pertama/SMP, PKn, Implementasi Pendidikan Budi Pekerti, Kelas VIII, Kelas Delapan (8), Margoyoso, Pati