Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
.1. Latar Belakang Masalah
Kurangnya ketahanan pribadi dalam belajar matematika dapat diduga akan
berpengaruh besar terhadap gairah belajar matematika. Jika hal ini
dibiarkan maka siswa akan semakin tidak menyenangi matematika bahkan
pada taraf tertentu akan bersikap anti pati pada pelajaran matematika.
Akibat dari itu semua semua tentu prestasi belajar matematika akan
semakin rendah.
Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika
memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta
berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga
dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan
cukup menakutkan bagi beberapa siswa di SMP Negeri 2 Sedati Sidoarjo.
Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung hampir 60% diantara
para siswa memiliki ketahanan pribadi dalam belajar matematika masih
rendah , data yang lain dapat dilihat dari hasil wawancara beberapa
siswa. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab
pertanyaan atau menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil
resiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang
terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya
ketahanan pribadi (keuletan) siswa dalam belajar matematika.
Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses
pembelajaran diantaranya masih kuatnya dominasi guru dalam proses
pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh
dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami
matematika tanpa penalaran, disamping itu guru dalam pembelajarannya
masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha
benar, dan dalam proses pembelajarannya guru belum mengembangkan
kemampuan belajar siswa dalam berfikir kritis, logis dan kreatif.
Pada kurikulum 2004 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar
disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun
makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula
prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar diantaranya adalah Berpusat
pada siswa, Belajar dengan Melakukan serta Mengembangkan Kemampuan
Sosial. Dengan memperhatikan 3 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang
dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut
mengacu pandangan Konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang
memungkinkan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap
suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila
dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung
dari guru, sehingga pembelajaran sering disebut pembelajaran berpusat
pada siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi kepada
pendekatan konstruktivis adalah model pembelajaran kooperatif.
Menurut Abdurrahman Asy’ari (2000), belajar hendaknya mampu memberikan
bekal “life skills” yang memungkinkan siswa “survive” dalam kondisi yang
bagaimanapun. Belajar jangan hanya dimaksudkan untuk mengasah otak,
tetapi juga untuk mengasah “qolbu” suapaya tercipta rasa positif seperti
lebih percaya diri, tabah, tenang, tidak mudah gelisah, mau menghargai
orang lain, tidak mematikan semangat orang lain dan pantang menyerah.
Hal-hal diatas memberikan arah bahwa pembelajaran matematika hendaknya
tidak boleh melepaskan diri dari proses kerjasama. Dengan bekerja sama,
seorang anak yang lebih “dewasa” dalam suatu konsep bisa memberi bantuan
kepada temannya untuk mencapai kemampuan idealnya. Dengan bekerja sama,
peluang terbentuknya ketrampilan sosial, dan kematangan emosional juga
lebih besar. Dan diharapkan dapat pula meningkatkan ketahanan pribadi
siswa dalam belajar matematatika.
1. 2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini ada dua masalah yang perlu dicarikan solusinya yaitu : PTK Matematika SMP Kelas 7
-
Apakah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan
pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika ?
- Bagaimana proses pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar
matematika ?
1. 3. Hipotesis Tindakan
Pembelajran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi
siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika.
1. 4. Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pribadi siswa
kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika melalui
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil penelitian ini diharapkan bermafaat bagi :
PTK Matematika SMP Kelas 7
-
Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam
meningkatkan ketahanan pribadinya dalam belajar matematika serta memupuk
keberaniannya dalam bekerja mandiri.
- Bagi guru, hasil penelitian dapat bermanfaat dalam inovasi
pembelajaran (model pembelajaran kooperatif), dan peningkatan
profesionalisme guru (melaksanakan refleksi dalam upaya perbaikan proses
pembelajaran).
- Bagi sekolah, dalam usaha meningkatkan kualitas hasil belajar
matematika siswa melalui kolaborasi guru-guru dalam suatu penelitian
tindakan kelas.
1. 5. Definisi Operasional
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dalam penafsiran hasil
penelitian ini, maka perlu diberikan batasan tentang istilah yang
terdapat dalam rumusan tujuan penelitian diatas sebagai berikut :
- Ketahanan pribadi (keuletan) siswa adalah usaha siswa dalam
menggali potensi diri. Yang dapat diterjemahkan sebagai tindakan yang
dinamis dan berani mengambil resiko dengan indikator : 1) kecemasan
siswa berkurang, 2) motivasi, 3) harga diri, dan 4) sikap positifnya
meningkat.
- Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara
kelompok kecil yang merupakan tempat siswa belajar dan bekerjasama untuk
sampai kepada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu
maupun kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab
individu sekaligus kelompok, sehinga dalam diri siswa terbentuk sikap
kebergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal
(Santoso, 1998).
Pada penelitian ini pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah tipe
STAD yang merupakan teknik belajar kelompok yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berbagi pengetahuan atau tugas dengan siswa lain,
mengajar serta diajar oleh sesama siswa. Hal ini merupakan bagian
penting dalam belajar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
PTK Matematika SMP Kelas 7
2. 1. Ketahanan Pribadi Siswa
Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan
pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam
belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain;
- belum mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari
pihak lain, misalnya kebiasaan siswa mencontoh hasil pekerjaan temannya,
atau adanya siswa yang sering mengekor pendapat temannya,
- belum
memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, misalnya kebiasaan
siswa kurang berani memulai suatu pekerjaan (kurang berani untuk
mengambil keputusan walaupun beresiko).
Menurut (Soedarsono,S, 1999) secara esensial seseorang disebut memiliki ketahanan pribadi (keuletan) bila ia ;
-
Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
- Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
- Mendambakan kebersamaan,
- Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.
Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha
menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan
teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas
(kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat
besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan
negatif lainnya.
Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi
tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat
walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh
dan lain-lain predikat negatif.
Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri
siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung
jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan
potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif
pada prestasi belajarnya.
PTK Matematika SMP Kelas 7
2. 2. Pembelajaran Kooperatif
Masih banyak guru beranggapan bahwa tugas mereka adalah memindahkan
informasi pengetahuan dari buku atau kepala mereka kepada siswa,
sedangkan tugas siswa adalah menerima, mengingat, dan menghafalkan
informasi tersebut. Dengan kata lain, siswa dianggap sebagai penerima
pengetahuan yang pasif sedangkan guru adalah pemilik pengetahuan.
Anggapan ini tampaknya didasarkan pada paradigma yang dipopulerkan oleh
John Locke, yakni siswa dianggap seperti selembar kertas putih kosong
yang menunggu tulisan dari guru. Siswa bagaikan botol kosong yang bisa
diisi dengan curahan pengetahuan dari guru, sehubungan dengan ini pula,
suasana belajar yang dominan adalah struktur persaingan dimana siswa
saling berlomba menjadi lebih baik dari lainnya para guru pun ikut
berlomba dengan guru (atau sekolah) lainnya.
Banyak guru menganggap paradigma diatas sebagai satu-satunya jalan.
Namun teori dan penelitian menunjukkan bahwa fokus pembelajaran terletak
pada belajar secara mendalam dan sesuai dengan pengalaman, memerlukan
keterlibatan penuh dan belajar dengan aktif, ketrampilan dikembangkan
dalam kaitannya dengan belajar yang relevan (kontektual), materi secara
terintegrasi digunakan dan dibentuk oleh siswa. Dengan demikian prinsip
utama dalam pandangan kontruktivis adalah pengetahuan dibangun sendiri
oleh siswa (Jonhson & Johnson, 1994)
Karena penekanannya pada belajar bagaimana belajar, maka pembelajran
yang dilakukan haruslah pembelajaran bermakna dan tersusun secara
hirarkis. Dalam hal ini guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator
yang melayani pertanyaan dan pendapat siswa tanpa menyalahkan siswa.
Guru membimbing siswa dalam melakukan negoisasi menuju pada penguasaan
materi. Proses pembelajaran kooperatif yang efektif dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bersama-sama dengan guru dan siswa lainnya
membangun sendiri pengetahuan mereka.
Menurut (Johnson & Johnson, 1994), terdapat lima
unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu diantaranya adalah :
1)Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa, dalam
belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang saling bekerja sama
untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain., sehingga seorang
siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. ;
2) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat, hal ini terjadi
karena seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai
anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara
alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi
suksesnya kelompok dalam memperoleh penghargaan kelompok. ; 3)Tanggung
jawab individual dalam belajar kelompok dalam arti tanggung jawab siswa
dalam membantu siswa yang membutuhkan bantuan sehingga siswa tidak hanya
sekedar membonceng pada hasil kerja teman sekelompoknya. : 4)
Ketrampilan interpersonal dalam kelompok kecil, dalam hal ini siswa
dituntut aktif dalam bersikap dan menyampaiakan ide sebagai angggota
kelompok. ; 5) Proses kelompok, proses ini terjadi jika anggota kelompok
mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan
membuat hubungan kerja yang baik pula.
Menurut (Anita Lie, 1999) beberapa manfaat proses
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1) Siswa dapat
meningkatkan kemampuan bekerja sama ; 2) Siswa mempunyai lebih banyak
kesempatan untuk menghargai perbedaan ; 3) Partisipasi siswa dalam
proses pembelajaran ; 4) Mengurangi kecemasan siswa ;5) Meningkatkan
motivasi, harga diri dan sikap positif ;5) Meningkatkan prestasi
akademik
2. 3. Hasil Penelian yang Relevan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki
dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya,
diantaranya dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, dan
retensi yang lebih lama (Lungren, 1994 dalam Ratumanan). Hasil
penelitian yang sama yang dilakukan oleh Widada (1999) dan Tri Djoko
(1999) memperlihatkan hasil yang tidak berbeda.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
3. 1. Setting Penelitian dan latar belakang subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Sedati, Sidoarjo mulai bulan
September 2006 sampai dengan bulan Nopember 2006 yang melibatkan dua
orang guru matematika (seorang guru menjadi pengajar dan satu orang
lainnya menjadi kolaborator) dan 40 siswa kelas VII-A.
Penetapan siswa pada kelas diatas cukup representatif untuk penelitian
tindakan kelas sesuai dengan permasalahan yang dihadapi diantaranya
memiliki kecenderungan : 1) kurang berani dalam berpendapat, 2)
kepercayaan diri rendah, 3) ketergantungan pada teman kuat 4) tidak
dinamis dan kurang kreatif.
3. 2. Rencana Tindakan
Menurut Winkel (1993 : 115) keberhasilan siswa dalam belajar sangat
ditentukan oleh kualitas pembelajaran yang dikelola oleh guru,
selanjutnya kualitas pembelajaran tergantung bagaimana guru mendesain
pembelajaran tersebut dalam praktek kegiatan belajar, missal : 1)
bagaimana guru menyajikan materi, 2) bagaimana guru memberikan
penguatan, 3) bagaimana guru melibatkan siswa secara aktif dalam proses
belajar dan 4) bagaimana guru menghargai keberhasilan siswa (reward),
yang semuanya itu berada dalam satu sistem pembelajaran.
Menurut Piaget (1960) dan Rogerg (1982) dalam proses belajar siswa
menkonstuksi pengetahuan mereka sendiri secara aktif. Dengan dasar
uraian diatas tindakan yang diambil dalam penelitian ini, sebagai upaya
meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati,
Sidoarjo dalam belajar matematika melalui pembelajaran yang menggunakan
pendekatan kooperatif tipe STAD, dengan langkah-langkah sebagi berikut :
PTK Matematika SMP Kelas 7
(1) Tahap penyajian Materi
Dalam tahap ini materi diperkenalkan melalui penyajian kelas. Penyajian
materi dilakukan secara langsung. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan
pada saat ini adalah : 1) Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai, 2) Memberi motivasi pada siswa tentang perlunya mempelajari
materi, 3) Menyajikan materi-materi pokok pembelajaran, 4) Memantau
pemahaman tentang materi pokok yang diajarkan.
(2) Kegiatan Kelompok
Selama siswa berada pada kegiatan kelompok, masing-masing anggota
kelompok bertugas mempelajari materi yang telah disajikan oleh guru dan
membantu teman sekelompok untuk menguasai materi tersebut. Guru membagi
lembar kegiatan , kemudian peserta didik mengerjakan lembar yang
diberikan. Setiap peserta didik harus mengerjakan secara mandiri dan
selanjutnya saling mencocokkan jawaban dengan teman sekelompoknya. Guru
harus menekankan bahwa lembar kegiatan untuk dipelajari bukan untuk
diisi atau diserahkan pada guru. Jika peserta didik mempunyai
pertanyaan sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu kepada anggota
kelompoknya, baru ditanyakan kepada guru bila tak terjawab.