DOWNLOAD PTK MATEMATIKA SMP KELAS VII
Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian pembelajaran
Menurut Amin Suyitno, pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan
pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan
peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru
dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik.
Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang
sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka
memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar. Komponen yang harus
ada demi terciptanya sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya
proses belajar mengajar adalah tujuan, materi/bahan ajar, metode dan
media, evaluasi, didik/peserta didik, dan adanya pendidik/guru.
b. Faktor- faktor yang mempengaruhi pembelajaran
Hasil belajar akan dipengaruhi oleh banyak faktor, secara garis besar
faktor yang mempengaruhi pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu faktor intern dan ekstern.
1) Faktor intern
Faktor intern adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri peserta
didik. Faktor intern dikelompokkan menjadi faktor jasmaniah, faktor
psikologis, dan faktor kelelahan.
a) Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b) Faktor psikologi meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
c) Faktor
kelelahan yaitu kelelahan jasmani dan rohani. Download PTK matematika
smp kelas 7 Kelelahan jasmani seperti lemah lunglai, sedangkan kelelahan
rohani seperti adanya kelesuan dan kebosanan.
2) Faktor ekstern
Faktor ekstern dikelompokkan menjadi tiga, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
a) Faktor keluarga
Peserta didik akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua
mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan
keadaan ekonomi keluarga.
b) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dan peserta didik, relasi peserta didik dengan
peserta didik, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar
pengajaran, kualitas pengajaran, keadaan gedung, metode belajar dan
tugas rumah.
c) Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap
belajar peserta didik. Pengaruh itu terjadi terkait dengan keberadaan
peserta didik dengan masyarakat.
c. Pembelajaran Matematika
Menurut Lester D. Crow dan Alice Crow ”Learning is acquisitation of
habits, knowledge, and attitude it involves new ways of doing things,
and it operates in an individual’s attempts to over come obstacles or to
udjust to new situations” artinya belajar adalah hasil yang dicapai
dari kebiasaan, pengetahuan, sikap. Ini mencakup cara baru dalam
melakukan sesuatu dan mengoperasikannya atau menguasahakannya didalam
usaha seseorang untuk mengatasi hambatan atau menyesuaikan diri dengan
keadaan yang baru.
Pembelajaran matematika berdasarkan pada definisi pembelajaran yang
dikemukakan Suyitno adalah proses atau kegiatan guru mata pelajaran
matematika dengan mengajarkan matematika kepada peserta didik yang di
dalamnya terkandung upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap
kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik tentang
matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru
dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik
lainnya dalam mempelajari matematika.
Sedangkan tujuan mata pelajaran matematika yang tercantum dalam KTSP adalah sebagai berikut:
1) Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien,
dan tepat dalam pemecahan masalah.
2) Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam
membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.
3) Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. Contoh ptk matematika smp doc
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat
dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Jadi pembelajaran matematika merupakan proses dan upaya guru dalam
mengajarkan matematika terhadap peserta didiknya dalam rangka mencapai
tujuan tertentu. Hal ini dilakukan dalam suatu lingkungan pendidikan
dengan metode dan model pembelajaran yang bisa memudahkan peserta didik
dalam memahami materi yang disampaikan. Oleh karenanya proses
pembelajaran matematika sebaiknya dilakukan secara aktif, inovatif,
efektif dan efisien, sehingga tujuan pembelajaran bisa dicapai dengan
mudah
d. Teori Pembelajaran Matematika
Teori yang mendukung tujuan pembelajaran matematika diatas adalah teori
Ausubel, teori Jean Piaget dan teori Vygotsky, yang mengkaji tentang
karakteristik pelaksanaan pembelajaran matematika, yaitu:
1) Teori Ausubel
Inti teori ini adalah mengemukakan pentingnya pembelajaran bermakna.
Teori ini mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu
mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan
baru. Hal ini menunjukkan bahwa belajar bermakna merupakan suatu proses
dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
dalam struktur kognitif seseorang.
Mengemukakan belajar bermakna dalam mengajar matematika sangat penting
karena dengan kebermaknaan itu pembelajaran akan lebih menarik, lebih
bermanfaat dan lebih menantang. Contoh ptk matematika smp pdf Dengan demikian konsep dan prosedur matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat oleh peserta didik.
Relevansinya dalam penelitian ini terdapat pada pemberian materi pecahan yang sangat berkaitan dengan materi sebelumnya.
Sebelum peserta didik diberi materi pecahan terlebih dahulu diberikan
apersepsi terhadap materi bilangan bulat. Selanjutnya pada pembelajaran
operasi bilangan pecahan juga harus diberikan secara bertahap sehingga
komunikasi matematika peserta didik terbangun secara terstruktur.
2) Teori Jean Piaget
Teori Jean Piaget memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses
dimana anak secara aktif membangun system makna dan pemahaman realitas
melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.
Pengetahuan datang dari tindakan. Piaget yakin bahwa pengalaman fisik
dan manipulasi lingkungan sangat penting bagi terjadinya perubahan
perkembangan. Dan interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya
berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada
akhirnya memuat pemikiran lebih logis. Relevansinya dalam penelitian ini
muncul pada pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan dengan
adanya komunikasi dan interaksi dalam belajar kelompok. Peserta didik
yang pandai bisa mengajari peserta didik yang kurang pandai sehingga
kemampuan para peserta didik bisa merata.
3) Teori Vygotsky
Model pembelajaran konstuktivistik dikembangkan pada teori Vygotsky yang
berorientasi pada pembelajaran mandiri dalam kelompok dengan membangun
sendiri pengetahuan, pengalaman dan daya kreatifitas peserta didik untuk
memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang beraneka ragam dengan
memposisikan guru sebagai fasilitator. Dan teori Vigotsky ini merupakan
interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada
lingkungan sosial dalam belajar. Relevansi teori Vygostky dalam
penelitian ini muncul pada pelaksanaan proses pembelajaran yang
dilakukan dengan diskusi kelompok. PTK matematika smp kelas 7 doc Peserta didik mampu membangun pengetahuannya melalui interaksi dalam belajar kelompok.
2. Model Pembelajaran Problem Posing
a. Tinjauan Umum Model Pembelajaran Problem Posing
Model pembelajaran pengajuan soal (Problem Posing) dikembangkan oleh
Lyn. D. English tahun 1997. 9 Pada prinsipnya model pembelajaran problem
posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan peserta didik
untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal)
secara mandiri.
Menurut Brown dan Walter dalam Kadir pada tahun 1989 untuk pertama
kalinya istilah problem posing diakui secara resmi oleh National Council
of Teacher of Mathematics (NCTM) sebagai bagian dari national program
for re-direction of mathematics education (reformasi pendidikan
matematika). Selanjutnya istilah ini dipopulerkan dalam berbagai media
seperti buku teks, jurnal serta menjadi saran yang konstruktif dan
mutakhir dalam pembelajaran matematika.
Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa
menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi
pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada
penyelesaian soal tersebut. Dalam pembelajaran matematika, problem
posing (pengajuan soal) menempati posisi yang strategis. Siswa harus
menguasai materi dan urutan penyelesaian soa secara mendetil. Hal
tersebut akan dicapai jika siswa memperkaya khazanah pengetahuannya tak
hanya dari guru melainkan perlu belajar secara mandiri.
Dari beberapa pengertian di atas, model pembelajaran problem posing
merupakan suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran melalui
pembentukan soal atau pengajuan soal melalui kegiatan kognitif untuk
melatih peserta didik berfikir matematika dengan cara membuat soal tidak
jauh beda dengan soal yang diberikan oleh guru ataupun dari situasi dan
pengalaman peserta didik itu sendiri.
Silver dan Cai menjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat
diaplikasikan dalam 3 bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai
berikut:
1) Pre
Solution Posing, yaitu jika peserta didik membuat soal dari situasi yang
diadakan, jadi guru memberikan suatu pernyataan dan peserta didik
diharapkan mampu membuat pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat
oleh gurunya.
2) Within
Solution Posing, yaitu jika peserta didik mampu merumuskan ulang
pertanyaan soal menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan
penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya dan
diharapkan peserta didik mampu membuat sub-sub pertanyaan dari
pertanyaan tunggal yang diberikan oleh guru. Contoh ptk matematika smp doc
3) Post
Solution Posing, yaitu jika peserta didik mampu memodifikasi tujuan atau
kondisi soal yang telah dijelaskan oleh guru untuk membuat soal-soal
baru yang sejenis.
Dalam model pembelajaran problem posing, peserta didik dilatih untuk
memperkuat dan memperkaya konsep matematika secara mandiri. Hal ini
dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan cara berpikir peserta didik
SMP/MTs yang bersifat konkrit.
b. Karakteristik Model Pembelajaran Pengajuan Soal (Problem Posing) barnuansa Islami.
Model pembelajaran problem posing bernuansa Islami memiliki
karakteristik yang lebih khusus yaitu keterlibatan peserta didik secara
intelektual dan emosional, sehingga peserta didik terlatih belajar
secara mandiri, aktif, dan kreatif. Disamping itu peserta didik juga
dilatih untuk menemukan dan menyajikan sesuatu yang baru yang terkait
dengan nilai-nilai keislaman yang sering terjadi dalam kehidupan
sehari-hari melalui pembelajaran problem posing. Hal itu akan menjadikan
suasana belajar matematika terasa lebih religius.
c. Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran Pengajuan Soal (Problem Posing) benuansa Islami
Penerapan model pembelajaran problem posing bernuansa Islami adalah sebagai berikut:
1) Guru menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik dengan mencantumkan dalil Al-Quran yang berkaitan dengan materi.
2) Guru memberikan latihan soal secukupnya yang mengandung nilai-nilai keislaman.
3) Peserta
didik diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang serta
memiliki nilai keislaman dan peserta didik yang bersangkutan harus mampu
menyelesaikannya.
4) Pada
kegiatan selanjutnya, secara acak guru menyuruh peserta didik untuk
menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini guru dapat
menentukan peserta didik secara selektif berdasarkan bobot soal yang
diajukan oleh peserta didik. Download ptk matematika smp terbaru
5) Guru memberikan tugas rumah secara individu
3. Komunikasi Matematika
Komunikasi pada dasarnya suatu konsep yang multimakna. Makna komunikasi
pada dasarnya dapat dibedakan bedasarkan; pertama, sebagai proses
sosial, kedua, sebagai peristiwa, ketiga, sebagai ilmu dan ke empat
sebagai kiat atau keterampilan. Komunikasi secara umum dapat diartikan
sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari pembawa pesan ke
penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung
secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Di dalam berkomunikasi
tersebut harus dipikirkan bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan
seseorang itu dapat dipahami oleh orang lain.
Komunikasi pada hakikatnya merupakan proses penyampaian pesan dari
pengirim kepada penerima. Hubungan komunikasi dan interaks antara si
pengirim dan si penerima dibangun berdasarkan penyusunan kode atau
simbol bahasa oleh pengirim dan pembongkaran kode atau simbo bahasa oleh
penerima. Komunikasi matematika merupakan refleksi pemahaman matematik
dan merupakan bagian dari daya matematik. Siswa-siswa mempelajari
matematika seakan-akan mereka berbicara dan menulis tentang apa yang
mereka sedang kerjakan. Mereka dilibatkan secara aktif dalam mengerjakan
matematika, ketika mereka diminta untuk memikirkan ide-ide mereka, atau
berbicara dengan dan mendengarkan siswa lain, dalam berbagi ide,
strategi dan solusi.
Di dalam proses pembelajaran matematika di kelas, komunikasi gagasan
matematika bisa berlangsung antara guru dengan siswa, antara buku dengan
siswa, dan antara siswa dengan siswa. Setiap kali mengkomunikasikan
gagasan-gagasan matematika, harus menyajikan gagasan tersebut dengan
suatu cara tertentu. Contoh ptk matematika smp pdf Ini merupakan
hal yang sangat penting, sebab bila tidak demikian, komunikasi tersebut
tidak akan berlangsung efektif. Gagasan tersebut harus disesuaikan
dengan kemampuan orang yang diajak berkomunikasi dan harus mampu
menyesuaikan dengan sistem representasi yang digunakan. Tanpa itu,
komunikasi hanya akan berlangsung dari satu arah dan tidak mencapai
sasaran.
Kemampuan komunikasi matematika siswa dapat dilihat dari kemampuan berikut :
a. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
b. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematik, secara lisan dan tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar.
c. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.
d. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
e. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
f. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan
generalisasi.
g. Menjelaskan dan membuat pertanyaan matematika yang telah dipelajari.
Sedangkan indikator komunikasi matematika menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM, 1989 : 214) antara lain:
a. Kemampuan
mengekspresikan ide-ide matematis melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
b. Kemampuan
memahami, menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide matematis baik
secara lisan, tulisan, maupun dalam bentuk visual lainnya.
c. Kemampuan
dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika dan
struktur-strukturnya untuk menyajikan ide-ide, menggambarkan
hubungan-hubungan dengan model-model situasi.
Adapun aspek-aspek komunikasi matematika dalam pembelajaran harus dapat
membantu peserta didik mengkomunikasikan ide matematika melalui lima
aspek komunikasi yaitu representing (representasi), listening
(mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi) dan writing
(menulis)
Jadi komunikasi matematika merupakan suatu kemampuan peserta didik dalam
menyampaikan gagasan atau ide terkait matematika dari suatu konsep
tertentu menjadi gagasan yang lebih mudah dan sederhana. Hal ini bisa
terlihat bagaimana peserta didik menghubungkan benda atau kejadian nyata
dalam bahasa matematika. Selain itu juga bisa terlihat dari kemampuan
peserta didik dalam menerapkan atau menguraikan rumus tertentu menjadi
bagian yang lebih sederhana.
4. Materi Pokok yang Terkait dengan Penelitian (Pecahan)
a. Pengertian pecahan
Pecahan merupakan salah satu materi pokok yang diberikan pada kelas VII
semester gasal. Materi pecahan yang dibahas disini adalah operasi hitung
pada pecahan.
Pecahan adalah pernyataan yang dapat ditulis sebagai hasil bagi dua
bilangan rasional P disebut pembilang, dan Q disebut penyebut. Operasi
pada pecahan yang akan dibahas di sini meliputi penjumlahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian, serta perluasan dari operasi
pecahan.
Contoh :
b. Mengubah bentuk pecahan ke bentuk pecahan lain.
1) Mengubah pecahan biasa ke pecahan campuran’
Contoh :
2) Mengubah pecahan campuran ke pecahan biasa
Contoh :
3) Mengubah pecahan desimal ke pecahan biasa
Contoh :
c. Mengurutkan pecahan.
1) Pecahan senilai
Diperoleh dengan mengalikan atau membagi pembilang/penyebut dengan bilangan yang sama
Contoh :
2) Pecahan sederhana
Diperoleh dengan membagi pembilang dan penyebutnya dengan FPB dari pembilang dan penyebut tersebut. PTK matematika smp kelas 7 doc
Contoh :
Sederhanakan
Jawab : FPB dari 12 dan 30 adalah 6, maka
3) Membandingkan pecahan Dilakukan dengan menyamakan penyebutnya
Contoh : Bandingkan Jawab :
4) Mengurutkan pecahan
Untuk mengurutkan pecahan, samakan dahulu penyebutnya kemudian urutkan pembilangnya.
d. Operasi bilangan pecahan 1) Penjumlahan dan pengurangan pecahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar