Rabu, 29 Maret 2017

Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Matematika SMA

Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Matematika SMA

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar. Meskipun hampir setiap sekolah mulai dari SD, SMP, dan SMA sudah mulai menerapkan sekolah gratis tetapi permasalahan pendidikan di Indonesia belum bisa teratasi. Padahal Indonesia menaruh harapan besar terhadap generasi muda sebagai penerus bangsa ini. Begitu pula dengan pendidik sangat diharapkan peranannya dalam membentuk dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki para generasi muda.
Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang harus ditata, disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarananya dalam arti modal material yang cukup besar, tetapi sampai saat ini Indonesia masih berkutat pada problemmatika ( permasalahan ) klasik dalam hal ini yaitu kualitas pendidikan. Problematika ini setelah dicoba untuk dicari akar permasalahannya adalah bagaikan sebuah mata rantai yang melingkar dan tidak tahu darimana mesti harus diawali.
Terkait dengan mutu pendidikan khususnya pendidikan pada jenjang sekolah menengah atas ( SMA ) sampai saat ini masih jauh dan apa yang kita harapkan. Betapa kita masih ingat dengan hangat akan standarisasi Ujian Akhir Nasioal ( UAN ) tahun 2009 dengan nilai masing – masing mata pelajaran 5,25 dikeluhkan oleh semua para pendidik bahkan oleh orang tua siswa sendiri, karena anak atau siswanya tidak dapat lulus. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor diantaranya kurangnya minat siswa untuk menerima pelajaran di karenakan proses belajar yang terlalu monoton artinya guru yang memegang kendali memainkan peran aktif, sementara siswa duduk menerima secara pasif informasi pengetahuan dan keterampilan siswa-siswa cenderung diam dan kurang berani menyatakan gagasannya. Kreatifitas dan kemandirian mengalami hambatan dan bahkan tidak berkembang dikarenakan suasana belajar dalam kelas kurang mendukung. Apalagi yang menyangkut pelajaran Matematika, siswa cenderung menyerah sebelum bertanding, Matematika secara umum sangat sulit dipahami oleh siswa, karena matematika memiliki obyek yang sifatnya abstrak dan membutuhkan penalaran yang cukup tinggi untuk memahami setiap konsep-konsep matematika yang sifatnya hirarkis.
Ahmadi dan Rohani (1991:10) megemukakan bahwa yang menjadi salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi dan menumbuhkan dalam diri peserta didik secara efektif keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi/dorongan dari dalam diri siswa untuk mempelajari matematika, sering ditemui beberapa kesukaran yang dialami seorang guru untuk memotivasi siswanya adalah tidak adanya alat, metode atau teknik tertentu yang dapat memotivasi peserta didik dengan cara yang sama atau dengan hasil yang sama. Oleh karena itu dengan menggunakan teknik pemberian cerita dan teka-teki diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam menerima pelajaran dan sekaligus meningkatkan hasil balajar matematika siswa.

B. Masalah Penelitian
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan permasalahanya adalah: Apakah melalui teknik pemberian cerita dan teka-teki dapat meningkatkan Motivasi dan Hasil belajar siswa SMA KLS XI Saribuana Makassar?
2. Alternative Pemecahan Masalah
Motivasi siswa dalam menerima pelajaran cenderung berkurang sekarang ini. Kadang-kadang siswa bosan dalam mengikuti pelajaran terutama pada akhir-akhir jam pelajaran dan pada mata pelajaran yang membosankan termasuk mata pelajaran matematika. Bukan hanya karena itu permasalahan-permasalahan yang di alami para murid cenderung berdapak terhadap perhatian siswa kepada pelajaran, hal ini nampak terjadi di SMA SARIBUNA terutama Kls XI IPS, dimana motivasi dan kemauan siswa masih sangat kurang. Oleh karena itu diharapkan dengan menggunakan teknik pemberian cerita dan teka-teki dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar di kelas. Sebelum masuk pada materi teknik ini di lakukan sebagai pemanasan siswa untuk belajar, di tengah pelajaran dilakukan untuk meningkatkan perhatian siswa dan di akhir pelajaran dilakukuan untuk mengevaluasi pemahaman siswa.
Moh. Uzer ( 1996:29) menjelaskan “Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, atau paksaan orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar, misalnya seseorang mau belajar karena dia disuruh orang tua untuk mendapatkan peringkat pertama.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA SARIBUANA MAKASSAR setelah menggunakan teknik pemberian cerita dan teka-teki.
2. Meningkatkan Motivasi siswa kelas XI IPS SMA SARIBUANA MAKASSAR dengan menggunaan teknik pemberian cerita dan teka-teki.


D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi guru, diharapkan dapat menjadi masukan dalam memperluas pengetahuan dan wawasan mengenai teknik pemberian cerita dan teka-teki dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan motifasi siswa di kelas dalam meningkatkan hasil belajar matematika.
3. Bagi sekolah,Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam mengembangkan penelitian selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar
Beberapa Ahli pendidikan memberikan definisi belajar secara berbeda yang pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama, seperti yang dinyatakan oleh Anwar (1990:98) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan/pematangan atau yang disebabkan oleh suatu kondisi dari organisme.
Suharto (1997:6) juga berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, pandangan dan keterangan yang akan menghasilkan suatu kekuatan pemecahan sesuatu bagi seseorang menghadapi suatu keadaan tertentu.
Selanjutnya Hudoyo (1998:107) mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga timbul perubahan tingkah laku, misalnya setelah belajar seorang mampu mendemonstrasikan dan keterampilan dimana sebelumnya siswa tidak dapat melakukannya. Pendapat serupa dikemukakan Hamalik (1983:21) bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dalam diri siswa yang nyata serta latihan yang kontinu, perubahan dari tidak tahu menjadi tahu.
Burton dalam Usman (1993:4) mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.
Menurut Winkel (1996:10) belajar dapat didefinisikan sebagiai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relative, konstan dan terbatas.
Menurut Tabrani Rusyan (1996:17), belajar dalam arti luas adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengnai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi, lebih luas lagi dalam berbagai bidang studi, lebih luas lagi dalam berbagai aspek-aspek kehidupan atau pengalaman-pengalaman yang terorganisasi
Menurut Syaiful Sagala (2006:37) belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.

Sukardi dan Maramis (1998:189) berpendapat bahwa belajar adalah perubahan perilaku anak didik secara bertahap, melalui proses terencana dan bertahap sehingga siswa pada akhir proses belajar mempunyai kemampuan atau keterampilan sesuai dengan apa yang dituju oleh sistem belajar mengajar bersangkutan. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responya menjadi menurun sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi limgkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru ( Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha (berlatih dsb )supaya mendapat suatu kepandaian (Purwadarminta : 109 ).
Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan oleh guru agar dapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah pelajaran Matematika untuk di terapkan kepada siswa.
Dari uraian diatas dapat disimpulakn bahwa belajar merupakan proses aktivitas siswa dalam interaksinya dengan lingkungan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan. Jadi seseorang telah dikatakan belajar apabila pada dirinya telah terjadi perubahan tingkah laku maupun telah memperoleh kecakapan, keterampilan dan sikap, yang semuanya diperoleh berdasarkan pengalaman yang dialaminya.

2. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar siswa adalah produk yang menekankan kepada tingkat penguasaan tujuan oleh siswa bagi dari segi kualitas maupun kuantitas, keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil. Asumsi dasar adalah proses pengajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar optimal pula, ada korelasi antara proses pengajaran dengan hasil yang dicapai, makin besar usaha untuk menciptakan kondisi proses pengajaran, makin tinggi pula hasil atau produk dari pengajaran itu (Davies, 1987:91).
Menurut Sudjana (1998:39) mengemukakan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa terutama kemampuan yang dimiliki, disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap, kebiasaan belajar, dan lain sebagainya. Sebab hakekat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang diniati dan disadarinya. Siswa harus merasakan adanya suatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi, ia harus berusaha mengerahkan segala daya dan upaya untuk dapat mencapainya sungguhpun demikian, hasil yang dapat diraih masih juga bergantung dari lingkungannya, artinya ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya.
Sudjana (1998:40) berpendapat bahwa salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar pada hakekatnya tersirap dalam tujuan pembelajaran.
Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa hasil belajar matematika ialah produk yang mencerminkan penguasaan siswa secara kuantitatif maupun kualitatif terhadap tujuan pengajaran matematika tertentu yang pada hakekatnya hasil belajar matematika dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki oleh siswa dan kualitas pengajaran matematika.

3. Matematika
Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematikos” secara ilmu pasti, atau “Mathesis” yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman keindraan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah – kaidah tertentu melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia). Dalam Garis Besar Program Pembelajaran ( GBPP )terdapat istilah Matematika Sekolah yang dimaksudnya untuk memberi penekanan bahwa materi atau pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP merupakan materi atau pokok bahasan yang diajarkan pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Direkdikdas : 1994 ).
4. Teknik
Dalam umum bahasa Indonesia teknik diartikakan cara (kepandaian, dsb) membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan kesenian (purwadarminta,: 1035). Sedangkan teknik yang dimaksud disini adalah cara tertentu yang dilakukan oleh guru yang akan dikenakan kepada siswanya dalam rangka mendapatkan informasi atau laporan yang diinginkan.
5. Cerita dan teka-teki
Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas kalau dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Karena itu kegiatan brlajar dan mengajar matematika seyogyanya juga tidak disamakan begitu saja dengan ilmu lain. Karena peserta didik yang belajar matematika itu pun berbeda-beda pula kemampuannya, maka kegiatan belajar dan mengajar haruslah diatur sekaligus memperhatikan kemampuan yang belajar dan hakekat matematika Hudojo, 1988: 1).
Lebih lanjut Hudojo (1988: 3) mengatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif. Hal tersebut membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses
belajar matematika. Belajar matematika dapat sangat menarik seperti halnya belajar
membaca buku cerita misterius. Dalam belajar matematika terdapat banyak teka-teki, trik-trik, ide-ide yang sangat menarik, dan bisa menjadi tantangan yang mengasyikkan untuk dikerjakan. Bila Anda dalam belajar matematika dengan cara membaca sendiri,
Anda akan menemui banyak ide-ide baru yang sangat menarik. Perhitungan adalah bagian penting darihampir semua cabang matematika. Manfaat perhitungan dapat memicu kreativitas dan kecerdasan siswa. Karena banyaknya masalah-masalah yang aneh dan menakjubkan dalam teka-teki matematika sehingga para pembaca senantiasa tertarik untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat aneh atau menakjubkan dalam perhitungan melalui teka-teki matematika tersebut. Dengan ketertarikan untuk mengetahui sesuatu yang aneh atau yang dianggap misterius dalam hal perhitungan melalui teka-teki matematika, siswa akan selalu merasa senang dan ceria melakukan perhitungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterampilan berhitung bagi para pembaca, serta memungkinkan menemukan teka-teki yang bermanfaat baik pada diri siswa maupun bagi orang lain.
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Cerita yang dimaksudkan disini bisa berupa asal usul rumus-rumus matematika maupun cerita sehari-hari yang yang dapat menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar. Sedangkan teka teki dimaksutkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika maupun sehar-hari dan sekaligus menjadikan siswa aktif dalam mengikuti pelajaran. Teka teki juga sebagai sarana hiburan di kelas sehingga siswa tidak bosan atau bahkan tertidur di karenakan kecapean dalam belajar.

B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik diatas maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut “Jika tekhnik pemberian cerita dan teka-teki diterapkan pada siswa kelas XI IPS SMA SARIBUANA MAKASSAR maka motivasi dan hasil belajar matematika siswa dapat meningkatkan”.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru dan peneliti dengan upaya peningkatan pemahaman konsep keliling dan luas segi empat melalui media pembelajaran berbasis TIK.
Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari : perencanaan(planning), plaksanaan (action), pengumpulan data(observing), penganalisis data/informasi untuk memutuskan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut (reflecting). PTK bercirikan perbaikan terus-menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut.

B. SUBJEK PENELITIAN
Penelitia ini dilakukan kepada siswa kelas XI IPS SMA SARIBUANA MAKASSAR yang berlokasi di jalan A.P. PETTARANI 2 No 31 Kota Makassar.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG DISELIDIKI
1. Faktor siswa yaitu, untuk melihat kehadiran dan keaktifan siswa dalam belajar matematika seperti motivasi,keaktifan, perhatian, dan kesungguhan siswa belajar, serta keberanian bertanya dan memberi tanggapan terhadap jawaban siswa lain.
2. Faktor proses, yaitu dengan memperhatikan teknik yang dipergunakan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam proses pembelajaran serta perubahan sikap siswa dalam belajar matematika.
3. Faktor hasil, melihat hasil belajar matematika setelah teknik penerapan cerita dan teka-teki dilakukan.

D. Cara Mengumpulkan Data
1. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA SARIBUANA MAKASSAR.
2. Jenis Data
Jenis data yang diperoleh terdiri dari:
a. Data kuantitatif, berupa hasil belajar.
b. Data kualitatif berupa hasil observasi seperti frekuensi kehadiran siswa, motivasi dan keaktifannya dalam proses belajar mengajar.
3. Cara Pengambilan Data
Lembar observasi untuk data tentang keadaan siswa selama proses belajar mengajar pada saat pelaksanaan tindakan.
Test (evaluasi) untuk data hasil belajar matematika siswa. Test dilakukan sebanyak 3 kali yaitu Pre-test diadakan sebelum tekhnik pemberian cerita dan teka-teki dilaksanakan dan hasilnya digunakan sebagai pedoman dalam pembentukan kelompok belajar. Pemberian test selanjutnya dilaksanakan setiap pertemuan terakhir pada setiap siklus.

E. PROSEDUR PENLITIAN
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, yaitu siklus I diadakan 3 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus I dan siklus II diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus II. Sesuai dengan hakikat penelitian tindakan kelas, maka penelitian pada siklus II merupakan pelaksanaan perbaikan dari kekurangan pada siklus I. Dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yakni perencanan, tindakan, observasi, refleksi.
1. Gambaran siklus I
A. Tahap Perencanaan Tindakan
1. Identifikasi masalah
Peneliti merumuskan permasalahan siswa sebagai upaya meningkatkan upaya meningkatkan motvasi dan hasil belajar matematika yang diberikan melalui tekhnik pemberian cerita dan teka-teki. Tindakan yang ditawarkan pada identifikasi masalah antara lain dengan tes yang diberikan pada saat tindakan kelas, sehingga dapat mengidentifikasi materi yang dirasa sulit bagi siswa.
2. Identifikasi siswa
Proses identifikasi siswa dilakukan untuk menemukan siswa yang aktif atau yang pasif dalam belajar melalui rangkaian kegiatan pengumpulan data yang mengacu pada dokumen hasil tes yang diberikan pada saat dilaksanakan tindakan.

3. Perencanaan solusi masalah
Solusi yang di tawarkan untuk mengatasi masalah upaya meningkatkan upaya meningkatkan motvasi dan hasil belajar matematika yang diberikan melalui tekhnik pemberian cerita dan teka-teki.
B. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Selanjutnya kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan yang berisi tentang tindakan yang diterapkan. Hal pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mempersiapkan siswa untuk belajar,menyampaikan materi yang akan diajarkan. Selain itu, guru juga memberikan motivasi agar siswa tertarik untuk belajar dan membangkitkan pengetahuan awal siswa yang berhubungan dengan materi.kemudian guru memberikan cerita atau teka-teki terutama yang berhubugan degan matematika sebagai pemanasan sebelum siswa belajar,teknik ini paling efektif dilakukan pada jam-jam terakhir belajar siswa. Teka-teki yang dapat diterapkan berupa tebak-tebakan angka, tanggal dan bulan kelahiran ,hitung-hitungan dan sebagainya. sedangkan cerita sebaiknya berbentuk cerpen agar tidak memakan waktu lama dan tanpa mengurangi waktu untuk pemberian materi. Pemberian cerita dapat berupa cerita nasehat, cerita komedi dan sejarah matematika itu sendiri. Penerapan tekhnik ini sebaiknya dikondisikan dangan suasana siswa dikelas dan tidak mesti diberikan di awal pelajaran. Bisa juga di tengah dan akhir pelajaran. Tindakan ini dilaksanakan berdasarkan perencanaan, Namur tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana statu tindakan yang diputuskan mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata, oleh karenanya rencana tindakan harus bersifat sementara dan fleksibel serta Sian dilakukan perubahan sesuai apa yang terjadi dalam proses pelaksanaan dilapangan sesuai usa menuju perbaikan.
C. Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi. Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan tindakan tekait. Observasi yang cermat dibutuhkan karena tindakan selalu akan dibatasi oleh kendala realistis, dan semua kendala tersebut Belem pernah dilihat dengan jelas pada waktu lalu. Observasi ini bersifat responsive, fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga. Peneliti tindakan selalu menyediakan jurnal untuk mencatat hal-hal yang lupus dari observasi dalam kategori observasi yang ada. Saat melakukan observasi, peneliti mengamati proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan.terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang meliputi:
1) Kehadiran siswa
2) Kesungguhan dan motivasi siswa mengikuti proses belajar mengajar.
3) Keaktifan siswa dalam menjawab dan merespon cerita atau teka-teki yang diberikan.
4) Keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar seperti menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi jawaban siswa lain.
D. Tahap Refleksi
Adapun hasil observasi dan evaluasi yang diperoleh pada tahap ini selanjutnya dipelajari dan diteliti yaitu dengan mengamati hasil yang diperoleh tiap siswa sebagai hasil belajarnya. Dari hasil yang didapatkan merefleksi diri dengan melihat data hasil observasi dan evaluasi. Apakah kegiatan yang dilakukan telah meningkatkan hasil belajar siswa yang selanjutnya dijadikan acuan untuk merencanakan siklus II agar apa yang diharapkan pada siklus berikutnya lebih baik daripada siklus sebelumnya.
2. Gambaran siklus II
Kegiatan dalam siklus II ini adalah mengulangi langkah kerja siklus I yang telah mengalami perbaikan dan perkembangan yang disesuaikan dengan hasil refleksi dari siklus sebelumnya. Dalam siklus II ini, hal-hal pokok yang dilakukan adalah :
A. Tahap perencanaan
Seperti halnya tahap perencanaan pada siklus sebelumnya, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) Membuat rencana pembelajaran untuk pertemuan pertama sampai ketiga menggunakan tekhnik konvensional yaitu dengan ceramah, tanyajawab dan pemberian tugas. pertemuan selanjudnya mengguakan tehnik pemberian cerita dan teka-teki.
2) Mengidentifikasi kesulitan belajar matematika yang dialami siswa.
3) Dari identifikasi tersebut, peneliti membuat catatan mengenai kesulitan yang dialami siswa.
4) Membuat lembar observasi tentang kegiatan atau proses belajar dikelas.
5) Membuat test siklus II sebagai alat evaluasi.
B. Tahap Pelaksanaan
Pada dasarnya, tindakan yang dilakukan pada siklus ini sesuai dengan perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan relative sama dengan pelaksaan pada siklus I yaitu memberikan cerita atau teka-teki terutama yang berhubugan degan matematika sebagai pemanasan sebelum siswa belajar, tehnik ini paling efektif dilakukan pada jam-jam terakhir belajar siswa. Teka-teki yang dapat diterapkan berupa tebak-tebakan angka, tanggal dan bulan kelahiran ,hitung-hitungan dan sebagainya
Oleh karena motivasi siswa semakin meningkat dengan melihat kesungguhan dan kehadiran disetiap pelajaran yang diberikan maka peneliti dapan melanjutkan penerapan tekhik tersebut. Pada akhir pelajaran guru dapat menggunakan teknik tersebut untuk mengecek pemahaman siswa mengenai materi yang telah diberikan. Hal ini dilakukan dengan memberikan soal-soal berupa cerita yang menyangkut materi yang telah diberikan. Yang dapat menjawab dengan benar bisa diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu.
C. Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilaksakan proses observasi terhadap pelaksaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang memuat rekaman keaktifan siswa pada pertemuan pertama hingga akhir meliputi:
1) Kehadiran siswa
2) Kesungguhan siswa mengikuti proses belajar mengajar.
3) Keaktifan siswa dalam menjawab dan merespon cerita atau teka-teki yang diberikan.
4) Keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar seperti menjawab pertanyaan, mngajukan pertanyaan, dan menaggapai jawaban siswa lain.
5) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
Pada pertemuan akhir siklus II, siswa diberi test hasil belajar yang digunakan sebagai alat evaluasi untuk mengetahu hasil belajar siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan tehnik pemberian cerita dan teka-teki.

D. Tahap refleksi
Dari hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil yang didapatkan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa apabila diterapkan tehnik pemberian cerita dan teka-teki yang dilakukan selama II siklus.
Penelitian ini dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Dengan menggunakan angket motivasi belajar, siswa dikelompokkan tinggi rendahnya tingkat motivasi belajarnya.
2. Setelah terbagi atau teridentifikasi, masing-masing kelas dilakukan proses belajar mengajar oleh guru pada pokok bahasan statistika dengan tekhnik yang berbeda. Pertemuan pertama sampai ketiga menggunakan teknik pembelajaran langsung berupa presentasi/ceramah.tanya jawab dan pemberian tugas.pertemuan berikutnya dilakukan dengan tekhnik pemberian cerita dan teka-teki matematika . Proses pembelajaran dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan hingga materi dari pokok bahasan statistika selesai.
3. Setelah pembelajaran selesai dilakukan, kemudian diberikan tes hasil belajar matematika.

F. TEKNIK ANALIS DATA
Pada Penelitian Tindalakan Kelas (PTK) ini, data dianalisis sejak tindakan pembelajaran dilaksanakan, dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan. Pengumpulan data hasil belajar siswa dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan essay tes yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran dengan menggunakan tekhnik pemberian cerita dan teka-teki matematika dan model pembelajaran konvensional, sedangkan untuk data pengelompokkan motivasi belajar yang tinggi dan rendah digunakan kuisioner dalam skala penilaian likert dengan 5 (lima) alternatif jawaban yaitu: dengan skor, sangat sering = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, jarang = 2, dan tidak pernah = 1, untuk pertanyaan yang bersifat positif dan sebaliknya untuk pertanyaan yang bersifat negatif. Kuisioner tidak diujicobakan sebab kuisioner tersebut sudah baku.

PTK Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika SMA

PTK Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika  SMA

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI






BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peran dan fungsi guru sangat penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, situasi yang dihadapi guru dalam melaksanakan pengajaran mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar itu sendiri. Dengan demikian, guru sepatutnya peka terhadap berbagai situasi yang dihadapi, sehingga dapat menyesuaikan pola tingkah lakunya dalam mengajar dengan situasi yang dihadapi. Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar. Kemampuan ini membekali guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Belajar dan mengajar terjadi pada saat berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Mengingat pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari, maka semua materi matematika harus dikuasai dengan baik. Hal ini ditinjau dari tujuan umum diberikannya matematika dijenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah adalah mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dandapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Selama ini, proses pembelajaran yang berlangsung di kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang masih sedikit sekali yang memperoleh hasil belajar yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal khususnya pada mata pelajaran matematika, walaupun telah banyak dilakukan penerapan strategi dan metode yang dilakukan. Dalam proses pembelajaran yang telah dilakukan beberapa model pembelajaran diantaranya metode Tanya-jawab, seluruh siswa yang menggunakan model tersebut menciptakan suasana di kelas terutama siswa lebih aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar, tetapi khusus pada kelas XII TSM siswanya sebagian kecil aktif dan sebagian besar pasif sehingga hasil belajar sebagian besar tidak tuntas dalam pembelajaran matematika di sekolah. Siswa kurang aktif bertanya, menanggapi dan menjawab pertanyaan serta hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah dengan nilai rata-rata 73 sedangkan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan 75. Gagasan peneliti, motode pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah ini adalah metode sokratis. Metode sokratis hampir sama dengan Tanya-jawab, maka kegiatan gurupun padametode itu banyak kesamaannya. Kegiatan guru padametode sokratis yang paling menonjol ialah bertanya dan memperhatikan jawaban para siswa. Pada metode sokratis isi pertanyaan di samping berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari, pertanyaan itu berbentuk pertanyaan kunci untuk mengarahkan cara berpikir para siswa. Dengan pertanyaan kunci ini diharapkan siswa bersangkutan sadar akan kesalahannya atau kekeliruannya dan dapat pula mencari jawaban yang benar. Bila siswa ini memberi jawaban yang kurang tepat atau salah, maka guru memberi pertanyaan baru yang sifatnya mengggiring pikiransiswa ini agar sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. Mengingat pada kelas XII TSM terdiri dari sebagian kecil siswa aktif dan sebagian besar pasif , peneliti cenderung menggunakan metode sokratis, untuk menciptakan siswa lebih aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar. Maka dari itu penulis tertarik untuk menerapkan metode sokratisuntuk mengatisipasi kendala yang timbul pada pelaksanaan pembelajaran Tanya-jawab di kelas XII TSM. Peneliti memperkirakan dengan penerapan metode sokratis ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada semua siswa kelas XII TSMdan menjadikan pelajaran matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi siswa serta dapat meningkatkan hasil belajarnya. Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas peneliti memilih judul penelitian “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika Kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang Melalui Metode Sokratis “. 1.2. Rumusan Masalah Berdasar latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka masalah pokok dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah melalui metode sokratis dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika pada kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang?”. 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang hasil belajar siswa belajar matematika melalui metode sokratis. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi : 1.Guru, sebagai bahan masukan agar menggunakan metode sokratis sebagai alternatif pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar matematika. 2.Sekolah, bahan masukkan bagi sekolah menggunakan metode sokratis sebagai metode pengajaran. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Belajar Dalam melakukan studi tentang mengajar ataupun belajar, setiap ahli memberi penekanan terhadap aspek tertentu. Studi tentang mengajar ada yang menekankan pentingnya proses belajar siswa, adapula yang menekankan kepada peranan guru. Demikian pula tentang belajar, ada menekankan pada aspek asosiasi (hubungan) antarstimulus-respons. Namun, adapula yang menekankan pentingnya hasil kognitif. Hal ini membawa pengaruh terhadap kesimpulan yang diperoleh. Meskipun terjadinya perbedaan dalam pemberian definisi belajar, tetapi semuanya merupakan perjalanan sejarah yang terus terakumulatif sebagai wujud adanya pergeseran paradigma dalam pengertian belajar.Pada pandangan tradisional mengenai belajar lebih berorientasi pada pengembangan intelektualitas, atau pengembangan otak. Pandangan tradisional memandang bahwa belajar adalah usaha memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. Sedangkan pada pandangan modern mengenai belajar, lebih berorentasi pada perubahan perilaku secara holistik dan integral. Oleh karena itu, pandangan modern menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Adapun yang dimaksud lingkungan mencakup keluarga, sekolah, dan masyarakat, di mana peserta didik berada (Hanafiah,2009:6). Adapun Slavin (2000:143) mengemukan : ”Belajaradalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon”. Dari kutipan di atas nampak bahwa belajar menuntut seseorang khususnya siswa diharapkan ada perubahan dalam melakukan proses pembelajaran. Adapun Djamarah,dkk (2006:11) mengemukan : ” Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenapa aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar, menilai proses dan hasil belajar, keseuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikatnya belajar adalah perubahan”. Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar pada anak bukan sesuatu yang sepenuhnya tergantung pada guru melainkan harus keluar dari anak itu sendiri. Adapun faktor-faktor yang tercermin dari perubahan perilaku dalam proses belajar adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan (Ali,2002:15) : 1.Kesiapan yaitu kapasiti baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu. 2.Motivasi yaitu dorongan dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. 3.Tujuan yang ingin dicapai. 2.2 Hasil Belajar Hasil belajar dan proses belajar, kedua-duanya penting. Di dalam belajar ini, terjadi proses berpikir. Seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melukan kegiatan mental, bukan kegiatan motorik, walaupun kegiatan motorik ini dapat pula bersama-sama dengan kegiatan mental tersebut. Dalam kegaiatan mental itu, orang menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan pengusaan bahan pelajaran yang dipelajari, inilah merupakan hasil belajar. Cara menilai hasil belajar matematika biasanya menggunakan tes. Maksud tes yang utama adalah mengukur hasil belajar yang dicapai oleh seseorang yang belajar matematika. Di samping itu tes juga dipergunakan untuk menentukan seberapa jauh pemahaman materi yang telah dipelajari. Karena itu tes dapat digunakan sebagai penilaian diagnostik, gormatif, sumatif dan penentuan tingkat pencapaian. Secara agak luas, tes dimaksudkan juga untuk memberikan motivasi siswa agar mereka memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung, mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik serta mendorong mereka agar mereka mampu mengorganisasi materi matematika yang dipelajari (Hudojo,1990:139). Menurut Djamarah, (2000:95) ” Hasil belajar adalah proses yang dilakukan seorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan sehingga memperoleh hasil yang dicapai oleh siswa dari test essay yang diberikan”. Berdasarkan pengertian hasil belajar yang dikemukan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud hasil belajar dalam penelitian ini adalah nilai yang dicapai siswa setelah diberi test pada akhir eksperimen. 2.3 Metode Mengajar Matematika Apabila kita ingin mengajar sesuatu kepada anak / siswa dengan baik dan berhasil pertama-tama yang harus diperhatikan adalah metode atau cara pendekatan yang akan dilakukan, sehingga sasaran yang diharapkan dapat tercapai atau terlaksana, karena metode atau cara pendekatan yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dengan demikian jika pengetahuan tentang metode dapat mengaplikasikannya dengan tepat maka sasaran untuk mencapai tujuan akan semakin efektif dan efisien. Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif bila menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan atau dengan kata lain tujuan tercapai, bila makin tinggi kekuatannya untuk menghasilkan sesuatu makin efektif metode tersebut. Sedangkan metode mengajar dikatakan efisien jika penerapannya menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha pengeluaran biaya, dan waktu minimum atau semakin kecil tenaga, usaha, biaya dan waktu yang dikeluarkan semakin efisien metode itu. Metode atau cara atau pendekatan yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik, jika materi yang akan diajarkan dirancang terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa untuk menerapkan suatu metode atau cara atau pendekatan delam pengajaran matematika sebelumnya menyusun strategi belajar mengajar, atau tehnik mengajar dan akhirnya dapat dipilih alat peraga atau media pelajaran sebagai pendukung materi pelajaran yang akan diajarkan (Simanjuntak, 1993:80-81). Pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengajar matematika pada prinsipnya berorientasi dengan falsafah pendidikan, berkaitan dengan tujuan pengajaran dan menggunakan cara belajar siswa aktif serta pemecahan masalah. Dalam pemecahan masalah menurut Gagne (Simanjuntak,1993:83) mempunyai beberapa langkah yaitu : 1.Mengubah situasi guru mengajar pada situasi siswa belajar. 2.Dari pengalaman guru kepada pengalaman siswa 3.Dari dunia guru ke dunia siswa 4.Guru menempatkan siswa pada pusat kegiatan belajar membantu mendorong siswa untuk belajar, bagaimana menyusun pertanyaan, bagaimana membicarakan dan menemukan jawab-jawaban persoalan. Menerapkan metode mengajar matematika guru harus dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman alamiah anak / siswa guna mengembangkan konsep-konsep matematika seperti bilangan, pengukuran, dan benda-benda lainnya serta dapat memelihara keterampilan yang diperlukan dengan demikian anak / siswa akan menyenangi matematika karena relavan dengan kehidupan sehari-hari (Simanjuntak, 1993:84). Dari keterangan di atas untuk memilih strategi dalam proses belajar menurut Aprina (2006:13) ” guru harus menguasai teori-teori mengajar matematika dan menyusun strategi belajar mengajar, misalnya penggunaan metode mengajar. Pada metode belajar mengajar banyak macam metode yang dapat digunakan oleh guru diantaranya metode demonstrasi, pemecahan masalah, ,metode sokratis, metode tanya-jawab, dan sebagainya”. 2.4 Metode Sokratis Metode sokratis diambil dari nama Sokrates. Nama Sokrates diambil sebagai metode sebab metode itu berasal dari cara Sokrates mengajar murid-muridnya. Pada zaman kuno lembaga pendidikan formal belum ada. Pendidikan pada waktu dilaksanakan pada tempat-tempat pertemuan umum, dengan hampir tidak memakai alat belajar sama sekali. Mereka yaitu guru dan para murid hanya memanfaatkan pikiran, pembicaraan, dan pendengaran saja dengan ditambah obyek-obyek nyata di alam sebagai contoh dan peragaan. Dengan demikian Sokrates mengajar murid-muridnya sebagian terbesar dengan cara bertanya-jawab saja. Telah dikatakan bahwa metode sokratis dan tanya-jawab hampir sama dalam pelaksanaannya, tetapi yang membedakannya adalah tekniknya bertanya agak lain dengan teknik bertanya-jawab biasa. Isi pertanyaan metode sokratis di samping berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari seringkali berbentuk pertanyaan kunci. Bila siswa ini memberi jawaban yang kurang tepat atau salah, maka guru memberikan pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa ini agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. Dengan pertanyaan kunci ini diharapkan siswa bersangkutan sadar akan kesalahannya atau kekeliruannya dan dapat pula mencari jawaban yang benar. Sebab metode sokratis dengan pertanyaa-pertanyaan kuncinya berusaha agar siswa sendirilah yang menemukan jawaban itu (Pidarta, 1990:48-53). 2.4.1 Tujuan dan Manfaat Metode Sokratis a.Usaha menggiatkan para siswa agar aktif berpikir b.Memberikan dorongan kepada siswa yang pasif agar berpikir dan menjawab pertanyaan guru c.Mengusahakan agar relatif semua siswa dapat bagian yang sama untuk menjawab pertanyan guru (Pidarta, 1990:49-50). 2.4.2 Kelemahan dan Keuntungan Metode Sokratis Keuntungan Metode Sokratis : a.Persiapan guru tidak banyak hanya meringkas materi yang akan diajarkan b.Meningkatkan keaktifan siswa c.Membina siswa untuk lebih berpikir dalam arti siswa dapat menemukan sendiri jawaban itu sendiri dan guru hanya sebagai fasilator. Kelemahan Metode Sokratis : a.Teknik bertanya itu adalah merupakan keterampilan berpikir dan berbicara, keterampilan-keterampilan ini tidak dapat dilatih secara mendadak b.Keterampilan bisa didapat melalui latihan terus menerus dalam situasi nyata ketika mengajar para siswa c.Membuat pertanyaan-pertanyaankunci tidaklah mudah kecuali guru bersangkutan sudah terlatih (Pidarta, 1990:49). 2.4.3 Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Sokratis Langkah-langkah dengan menggunakan metode sokratis (Pidarta, 1990:53) sebagai berikut : 1.Guru melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang dibahas pada hari itu 2.Siswa yang ditunjuk menjawab pertanyaan itu 3.Bila siswa ini memberi jawaban yang kurang tepat atau salah, maka guru memberi pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. 4.Sesudah siswa sadar bahwa ia keliru, maka guru memberikan pertanyaan kunci lagi, namun kini kunci untuk mencari jawaban yang benar ialah dengan cara mengarahkan pemikiran siswa bersangkutan. 5.Bila siswa belum juga dapat menjawab dengan benar, maka guru akan membantu siswa dengan alat peraga atau membimbing dan diarahkan sehingga siswa menemukan jawaban yang benar. 6.Bantuan di atas dapat pula dilengkapi dengan contoh-contoh nyata di masyarakat seperti halnya dengan pada metode tanya-jawab. 7.Bila dengan bantuan itu siswa belum juga menemukan jawaban yang benar, maka guru melemparkan pertanyaan itu kepada siswa lain. Bila siswa ini belum juga bisa menjawab dengan benar, pertanyaan itu dilemparkan lagi kepada siswa lain, demikian seterusnya. 8.Sampai suatu saat jawaban itu dapat diketemukan sendiri oleh siswa. 2.5 Pengertian Matematika Sampai saat ini belum ada kesempatan yang bulat di antara para matematikawan, apa yang disebut matematika itu. Sasaran penelaahan matematika tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Dengan mengetahui sasaran penelaahan matematika, dapat mengetahui hakekat matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berpikir matematik itu. Hubungan yang ada dalam matematika memang bertalian erat dengan kehidupan sehari-hari misalnya saja tentang kesamaan, lebih besar dan lebih kecil. Hubungan-hubungan itu kemudian diolah secara logistik deduktif. Karena itu dapat dikatakan bahwa matematika itu sama saja dengan teori logika deduktif yang berkenaan dengan hubungan-hubungan yang bebas dari isi materialnya hal-hal yang ditelaah. Ini mengandung arti bahwa matematika sebagai ilmu mengenai struktur akan mencakup tentang hubungan pola maupun bentuk seperti yang telah dikemukakan di atas. Struktur yang ditelaah adalah struktur dari sistem-sistem matematika. Dapat dikatakan pula, matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logik dengan menggunakan pembuktian deduktif. Matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungannya, simbol-simbol diperlukan. Simbol-simbol itu penting untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbulasi menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hirarkis. Simbulasi itu akan berarti bila suatu simbol itu dilandasi suatu ide. Jadi kita harus memahami ide yang terkandung dalam simbol tersebut. Dengan perkataan lain, ide harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut disimpulkan (Hudojo, 1990:2-4). Dalam kehidupan sehari-hari istilah matematika kita gunakan dan juga telah kita kenal sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Maka dari itu dalam mata pelajaran matematika khususnya dalam materi pokok bentuk akar. 2.6 Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah, landasan teori, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : ” Motode sokratis dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika pada kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang ”. BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang dalam semester ganjil tahun pembelajaran 2013/2014 tepatnya pada tanggal 26 Agustus 2013 sampai tanggal 30 September 2013, pada mata pelajaran matematika. 3.2 Subjek Penelitian Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang. Siswa kelas ini diambil sebagai subjek penelitian karena di kelas ini terdiri dari sebagian kecil siswa yang aktif dan sebagian besar siswa yang fasif dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru matematika di kelas ini melihat rendahnya hasil belajar siswa. 3.3 Prosedur Penelitian 1.Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Reseach). 2.Materi Ajar Materi ajar disesuaikan dengan kurikulum yang dianut di sekolah, yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan sebagai kurikulum efektif di SMK Utama Bakti Palembang. Materi pembelajarannya adalah Limit dan Turunan Fungsi. Materi tersebut memiliki standar kompetensi menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah. 3. Lama Tindakan Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus dengan setiap siklus diadakan tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan proses pembelajaran dengan menggunakan motode sokratis. 4.Yang Terlibat dalam Penelitian Yang terlibat pada penelitian tindakan kelas ini yakni, peneliti sendiri sebagai guru matematika. 5.Langkah-langkah Penelitian Penelitian tindakan kelas melalui metode sokratis, pada materi pembelajaran yang berpedoman pada Peraturan Pendidikan No. 22 tahun 2006 sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) yang berlaku di SMK Utama Bakti Palembang. Setiap siklus secara garis besar dengan langkah-langkah sebagai berikut : “ Perencanaa tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi “, a. Siklus I Penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri. Penelitian pada siklus I direncanakan dilaksanakan selama 3 kali pertemuan, dengan waktu 1 kali pertemuan : ( 3 X 45 menit ), pada materi pembelajaran menentukan nilai stasioner. Adapun waktu pelaksanaan penelitian pada siklus I : Pertemuan pertama: Senin, 26 Agustus 2013 Pertemuan kedua: Selasa, 27 Agustus 2013 Pertemuan ketiga: Senin, 2 September 2013 Sedangkan pelaksanaan kegiatan penelitian mengikuti sistematika sebagai berikut; perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi. 1)Perencanaan Tindakan Pembelajaran pada penelitian ini menggunakan metode sokratis.Penelitian membuat rencana tindakan seefektif mungkin dengan mengacu pada pola urutan motode sokratis. Pada penelitian siklus I dilaksanakan pembelajaran dengan rencana tindakan sebagai berikut : a.Melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran b.Membagikan LKS sesuai materi pembelajaran yang diajarkan c.Menggunakan media pembelajaran. 2)Pelaksanaan Tindakan Rencana kegiatan yang telah dirancang pada rencana pelaksanaan pembelajaran, sebagai skenario pembelajaran dilaksanakan dalam proses membelajarkan siswa di dalam kelas. Setiap tatap muka menggunakan metode sokratis dengan urutan tindakan sebagai berikut : a.Tindakan guru seminggu sebelumnya : oMemberitahu siswa untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan limit dan turunan fungsi. oMemberikan bimbingan pada siswa atau mengenalkan metode pembelajaran yang dipergunakan. b. Pembukaan : 1. Guru menyampaikan : oApersepsi oMemotivasi siswa oTujuan pembelajaran oKompetensi dadar dan indikator pembelajaran. c.Kegiatan inti : 1. Guru menyajikan informasi oMenyajikan informasi kepada siswa lewat bahan bacaan oMembagikan LKS 2.Guru melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang dibahas pada hari itu. 3.Menganalisis dan mengevaluasi oGuru memberikan pertanyaan dan siswa memberikan jawabannya. oBila jawaban dari siswa tersebut kurang tepat atau salah, maka guru memberikan pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. Sesudah siswa sadar bahwa ia keliru, maka guru memberi pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. oSesudah siswa sadar bahwa ia keliru, maka guru memberikan pertanyaan kunci lagi, namun kini kunci untuk mencari jawaban yang benar ialah dengan cara mengarahkan pemikiran siswa bersangkutan. 4. Kesimpulan oBila siswa belum juga dapat menjawab dengan benar, maka guru akan membantu siswa dengan alat peraga atau membimbing dan diarahkan sehingga siswa menemukan jawaban yang benar. oBantuan di atas dapat pula dilengkapi dengan contoh-contoh nyata di masyarakat seperti halnya dengan pada metode tanya-jawab. oBila dengan bantuan itu siswa belum juga menemukan jawaban yang benar, maka guru melemparkan pertanyaan itu kepada siswa lain. Bila siswa ini belum juga bisa menjawab dengan benar, pertanyaan itu dilemparkan lagi kepada siswa lain, demikian seterusnya. oSampai suatu saat jawaban itu dapat diketemukan sendiri oleh siswa. 5.Latihan oGuru meminta siswa menganalisis contoh soal, sebagai bekal untuk mengerjakan latihan soal oGuru meminta siswa untuk mengerjakan latihan soal oGuru memberikan penghargaan kepada siswa dengan kinerja bagus. d.Penutup oMemberitahukan tentang materi pembelajaran minggu berikutnya oMemberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi berikutnya. 3)Evaluasi Seusai 3 kali pertemuan pembelajaran dengan metode sokratis, pada hari selasa, tanggal 3 September 2013, siswa diambil data hasil belajarnya sebagai data pendukung penelitian. Dan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa dipergunakan soal test pada materi pembelajaran yang telah dibelajarkan. 4)Refleksi Data yang diperoleh adalah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa belajar matematika setelah proses pembelajaran berlangsung. Pada akhir siklus pertama dilakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa dari pertemuan satu sampai pertemuan ke tiga. Hasil refleksi data yang diperoleh pada akhir siklus I berguna untuk menentukan rencana pada siklus penelitian selanjutnya. b. Siklus II Penelitian siklus II hampir sama dengan siklus I. Penelitian pada siklus II dilaksanakan pada materi pembelajaran ; penerapan turunan fungsi (diferensial). Adapun waktu pelaksanaan penelitian pada siklus II : Pertemuan pertama: Senin, 9 September 2013 Pertemuan kedua: Selasa, September 2013 Pertemuan ketiga: Senin, 16 September 2013 1)Perencanaan Tindakan Perencanaan pembelajaran pada siklus II hampir sama dengan siklus I, Adapun sistematika rencana tindakannya adalah sebagai berikut : a.Melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran b.Membagikan LKS sesuai materi pembelajaran yang diajarkan c.Menggunakan media pembelajaran. 2)Pelaksanaan Tindakan Rencana kegiatan yang telah dirancang pada rencana pelaksanaan pembelajaran, sebagai skenario pembelajaran dilaksanakan dalam proses membelajarkan siswa di dalam kelas. Setiap tatap muka menggunakan metode sokratis dengan urutan tindakan hampir sama dengan siklus I sebagai berikut : a.Tindakan guru seminggu sebelumnya : oMemberitahu siswa untuk mempelajari materi yang berhubungan dengan limit dan turunan fungsi. oMemberikan bimbingan atau arahan pada siswa untuk memahami materi yang telah diberikan sebelumnya melalui metode pembelajaran yang dipergunakan. b. Pembukaan : 1. Guru menyampaikan : oApersepsi oMemotivasi siswa oTujuan pembelajaran oKompetensi dadar dan indikator pembelajaran. c.Kegiatan inti : 1. Guru menyajikan informasi oMenyajikan informasi kepada siswa lewat bahan bacaan oMembagikan LKS 2.Guru melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang dibahas pada hari itu. 3.Menganalisis dan mengevaluasi a.Guru memberikan pertanyaan dan siswa memberikan jawabannya. b. Bila jawaban dari siswa tersebut kurang tepat atau salah, maka guru memberikan pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. Sesudah siswa sadar bahwa ia keliru, maka guru memberi pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya adalah kurang tepat. Pertanyaan seperti ini dapat disebut pertanyaan kunci. c.Sesudah siswa sadar bahwa ia keliru, maka guru memberikan pertanyaan kunci lagi, namun kini kunci untuk mencari jawaban yang benar ialah dengan cara mengarahkan pemikiran siswa bersangkutan. 4. Kesimpulan oBila siswa belum juga dapat menjawab dengan benar, maka guru akan membantu siswa dengan alat peraga atau membimbing dan diarahkan sehingga siswa menemukan jawaban yang benar. oBantuan di atas dapat pula dilengkapi dengan contoh-contoh nyata di masyarakat seperti halnya dengan pada metode tanya-jawab. oBila dengan bantuan itu siswa belum juga menemukan jawaban yang benar, maka guru melemparkan pertanyaan itu kepada siswa lain. Bila siswa ini belum juga bisa menjawab dengan benar, pertanyaan itu dilemparkan lagi kepada siswa lain, demikian seterusnya. oSampai suatu saat jawaban itu dapat diketemukan sendiri oleh siswa. 5.Latihan oGuru meminta siswa menganalisis contoh soal, sebagai bekal untuk mengerjakan latihan soal oGuru meminta siswa untuk mengerjakan latihan soal oGuru memberikan penghargaan kepada siswa dengan kinerja bagus. d.Penutup oMemberitahukan tentang materi pembelajaran minggu berikutnya oMemberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi berikutnya. 3)Evaluasi Seusai 3 kali pertemuan pembelajaran dengan metode sokratis, pada hari selasa, tanggal 17 September 2013, siswa diambil data hasil belajarnya sebagai data pendukung penelitian. Dan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa dipergunakan soal test pada materi pembelajaran yang telah dibelajarkan. 4)Refleksi Berdasarkan temuan refleksi pada siklus kedua menjadi bahan untuk mengetahui sejauh mana penelitian tindakan kelas melalui metode sokratis di kelas XII TSM, dapat meningkatkan hasil belajar siswa matematika. 7. Teknik Analisa Data Teknik analisa data menggunakan rumus statistik yaitu dengan rumus rata-rata sebagai berikut : x= ( Sudjana, 2002:267) Keterangan : x= Nilai rata-rata fi= frekuensi untuk nilai xi yang bersesuaian xi= Nilai hasil test. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel untuk lebih memudahkan dalam membaca data memprediksikan apa kesimpulan dari perlakuan yang diberikan. 8. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan pada pnelitian tindakan kelas ini adalah melihat hasil belajar siswa dari hasil test yang diberikan setelah 3 kali pertemuan per siklusnya. Sesuai dengan teknik pengumpulan data, maka peneliti dalam menganalisis nilai tes siswa menggunakan rumus sebagai berikut : oRumus yang dipakai untuk penghitungan skor butir soal (SBS) adalah : SBS = x c( Depdiknas, 2004:46 ) Keterangan : SBS = skor butir soal a= skor mentah yang diperoleh peserta didik untuk butir soal b= skor mentah maksimum soal c= bobot soal. oSetelah diperoleh skor butir soal (SBS) maka dapat dihitung total skor butir soal berbagai skor peserta didik (STP) untuk serangkaian soal dalam tes yang bersangkutan, dengan menggunakan rumus : STP = ( Depdiknas, 2004:46 ) Keterangan : STP = skor total peserta SBS = skor butir soal. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Siklus I Hasil penelitian yang diperoleh pada siklus I, berupa tiga jenis data yang memuat hasil belajar siswa selama tiga kali pertemuan dengan menggunakan pre test dan satu jenis data hasil belajar siswa sebagai data pendukung penelitian yang diadakan setelah penelitian siklus I berakhir (post test). 4.1.1 Data Hasil Belajar Siswa Belajar Matematika pada Akhir Siklus I Data hasil belajar siswa merupakan data pendukung pada penelitian tindakan kelas yang mengacu pada hasil belajar siswa. Berdasarkan data hasil belajar siswa yang dilakukan pada akhir siklus I, maka diperoleh Tabel 1 sebelum dibentuk tabel frekuensi terlebih dahulu ditentukan : Nilai tertinggi : 100 Nilai terendah : 61 Rentang= Nilai tertinggi – nilai terendah = 100 – 61 = 39 Banyak kelas interval = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 32 = 1 + 3,3 (1,505) = 5,9665, dibulatkan menjadi 6. Panjang kelas interval = = = 6,5. 7. Setelah rentang, banyak kelas interval dan panjang kelas interval diketahui, maka data tersebut disusun distribusi frekuensi. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas XII TSM pada Akhir Siklus I Yang Diajar Dengan Metode Sokratis Nilai fi xi xi2 fixi fixi2 61-67 6 64 4096 384 24576 68-74 10 71 5041 710 50410 75-81 10 78 6084 780 60840 82-88 5 85 7225 425 36125 89-95 - 92 8464 0 0 96-102 1 99 9801 99 9801 Jumlah = 32 - - = 2398 = 181752 Dari data di atas dapat ditentukan rata-rata ( x ) sebagai berikut : x= x= x= 74,94 = 75 s2 = n s2 = s2 = s2 = s2 = 66,189 s= = 8,135. Jadi, rata-rata untuk data hasil belajar siswa yang diajar dengan metode sokratis adalah 75 dengan simpangan baku adalah 8,135. Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa, dari hasil rata-rata pada tes akhir terlihat bahwa hasil belajar matematika siswa kelas XII TSM SMK Utama Bakti Palembang telah memenuhi standar ketuntasan belajar minimum 75. Nilai siswa tidak menyebar merata, sebagian besar berada pada kisaran 75-81 dengan nilai rata-rata 75, maka dapat dikatakan pada siklus I belum optimal dan oleh karena itu perlu ditingkatkan. 4.1.2 Refleksi Siklus I Berdasarkan hasil pengamatan dari pelaksanaan pembelajaran ditemukan hal-hal seperti di bawah ini : 1.Penjelasan dan pelayanan guru dengan metode sokratis merupakan barang baru bagi siswa, sehingga kesiapan siswa masih kurang. 2.Minat dan motivasi belajar meningkat walaupun disini masih kelihatan guru kerepotan mengarahkan dan menggiring siswa untuk memberikan jawaban yang tepat saat diberi pertanyaan. 3.Sebagian kecil siswa yang pasif atau kurang mengikuti jalannya proses belajar. 4.Masih ada siswa yang masih kurang mengerti atau lambat menangkap pelajaran yang disampaikan. Dan juga memberikan jawaban ketika diberi pertanyaan. 5.Tingkat keberhasilan dari hasil belajar siswa dengan menggunakan metode sokratis mengalami peningkatan dilihat dari nilai rata-rata setiap pertemuan. 4.2 Hasil Penelitian Siklus II Sama halnya dengan penelitian pada siklus I, hasil penelitian yang diperoleh pada siklus II, berupa tiga jenis data yang memuat hasil belajar siswa selama tiga kali pertemuan dan satu jenis data hasil belajar sebagai data pendukung penelitian yang diadakan setelah penelitian siklus II berakhir. 4.2.1 Data Hasil Belajar Siswa Belajar Matematika pada Akhir Siklus II Data hasil belajar siswa merupakan data pendukung pada penelitian tindakan kelas yang mengacu pada hasil belajar siswa. Berdasarkan data hasil belajar siswa yang dilakukan pada akhir siklus II, maka diperoleh Tabel 2 sebelum dibentuk tabel frekuensi terlebih dahulu ditentukan : Nilai tertinggi : 100 Nilai terendah : 61 Rentang= Nilai tertinggi – nilai terendah = 100 – 61 = 39 Banyak kelas interval = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 32 = 1 + 3,3 (1,505) = 5,9665, dibulatkan menjadi 6. Panjang kelas interval = = = 6,5. 7. Setelah rentang, banyak kelas interval dan panjang kelas interval diketahui, maka data tersebut disusun distribusi frekuensi. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas XII TSM pada Akhir Siklus II Yang Diajar Dengan Metode Sokratis Nilai fi xi 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/153082/ptk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-mata-pelajaran-matematika-kelas-xii-tsm-smk-utama-bakti-palembang-melalui-metode-sokratis_5528665d6ea83462128b457d

PTK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA

PTK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI





Pembelajaran dikatakan berhasil ketika siswa dapat memahami apa yang telah diterimanya. Penggunaan model pembelajaran tidak hanya membantu guru dalam mengajar tetapi juga memudahkan siswa dalam memahami materi yang dipelajari. Hasil observasi awal di SMA Negeri 2  diperoleh data bahwa siswa kelas XI IPS 2 masih memiliki masalah dengan aktivitas dan hasil belajar untuk mata pelajaran sejarah. Ketuntasan belajar siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 sebelum dilakukan penelitian sebesar 32,5%, sehingga aktivitas belajar siswa masih rendah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dapat kelas XI IPS 2 SMA . Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri , subjek penelitian adalah kelas XI IPS 2 yang berjumlah 40 siswa yang akan diteliti aktivitas dan hasil belajar melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Prosedur penelitian tindakan terdiri dari dua siklus. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah RPP, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan soal tes evaluasi. download

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IRISAN BIDANG DENGAN BANGUN RUANG PADA SISWA SMA

 MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IRISAN BIDANG DENGAN BANGUN RUANG PADA SISWA SMA 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI






BAB I
PTK Matematika SMA

A.    Latar Belakang Masalah

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

Pembelajaran matematika sering diinterpretasikan sebagai aktivitas utama yang dilakukan guru, yaitu guru mengenalkan materi, mungkin mengajukan satu atau dua pertanyaan, dan meminta siswa yang pasif untuk aktif dengan memulai melengkapi latihan dari buku teks, pelajaran diakhiri dengan pengorganisasian yang baik dan pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan sekenario yang serupa.

Kondisi di atas tampak lebih parah pada pembelajaran geometri. Sebagian siswa tidak mengetahui mengapa dan untuk apa mereka belajar konsep-konsep geometri, karena semua yang dipelajari terasa jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Siswa hanya mengenal objek-objek geometri dari apa yang digambar oleh guru di depan papan tulis atau dalam buku paket matematika, dan hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanipulasi objek-objek tersebut. Akibatnya banyak siswa yang berpendapat bahwa konsep-konsep geometri sangat sukar dipelajari (Soedjadi, 1991 dalam Sodikin 2004:2).

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dalam mengajarkan matematika, sebaiknya diusahakan agar siswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan.

Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit. Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.

Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan penelitian dapat dirumuskan bagai berikut:
Bagaimana penggunaan media visual untuk meningkatkan pemahaman konsep irisan bidang dengan bangun ruang?

C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang irisan bidang dengan bangun ruang dengan menggunakan media visual.


D.    Manfaat Hasil Penelitian PTK Matematika SMA

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.
  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

E.    Batasan Istilah
Untuk mendapatkan kesamaan arti terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, diperlukan pendefinisian istilah sebagai berikut:
  1. Yang dimaksud media visual dalam penelitian ini adalah media presentasi berbasis power point hasil Workshop Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Departemen Pendidikan Nasional pada tanggal 6 Agustus 2006 sampai dengan 12 Agustus 2006 di Cisarua Bogor.
  2. Yang dimaksud irisan bidang dengan bangun ruang dalam penelitian ini adalah materi melukis irisan bidang dengan bangun ruang.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA
PTK Matematika SMA

A.    Karakteristik Matematika
Menurut Soedjadi (1994:1), meskipun terdapat berbagai pendapat tentang matematika yang tampak berlainan antara satu sama lain, namun tetap dapat ditarik ciri-ciri atau karekteristik yang sama, antara lain: (a) memiliki objek kajian abstrak, (b) bertumpu pada kesepakatan, (c) berpola pikir deduktif, (d) memiliki symbol yang kosong dari arti, (e) memperhatikan semesta pembicaraan, (f) konsisten dalam sistemnya.

Matematika sebagai suatu ilmu memiliki objek dasar yang berupa fakta, konsep, operasi, dan prinsip. Dari objek dasar itu berkembang menjadi objek-objek lain, misalnya: pola-pola, struktur-struktur dalam matematika yang ada dewasa ini. Pola pikir yang digunakan dalam matematika adalah pola pikir deduktif, bahkan suatu struktur yang lengkap adalah deduktif aksiomatik.

Matematika sekolah adalah bagian dari matematika yang dipilih, antara lain dengan pertimbangan atau berorientasi pada kependidikan. Dengan demikian, pembelajaran matematika perlu diusahakan sesuai dengan kemampuan kognitif siswa, mengkongkritkan objek matematika yang abstrak sehingga mudah difahami siswa. Selain itu sajian matematika sekolah tidak harus menggunakan pola pikir deduktif semata, tetapi dapat juga digunakan pola pikir induktif, artinya pembelajarannya dapat menggunakan pendekatan induktif. Ini tidak berarti bahwa kemampuan berfikir deduktif dan memahami objek abstrak boleh ditiadakan begitu saja.

B.    Pembelajaran Matematika

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002:100). Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku.

Pembelajaran matematika menurut Russeffendi (1993:109) adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang sengaja dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dengan memanipulasi simbol-simbol dalam matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.

Dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu pembelajaran yang bertujuan:
  • Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi
  • Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba
  • Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah
  • Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan

C.    Media dan Alat Peraga Pembelajaran

Karena matematika yang bersifat abstrak, maka sedapat mungkin dalam pembelajarannya dibuat kongkrit., sehingga mudah difahami siswa. Tim action research Matematika Kabupaten Sumenep (dalam Gentengkali, 2000:137) mengatakan bahwa salah satu ahli pendidikan, Bruner, berpendapat: untuk mendapatkan daya tangkap dan daya serap bagi anak berumur 7 sampai dengan 17 tahun yang meliputi ingatan, pemahaman dan penerapan, masih memerlukan mata dan tangan. Mata berfungsi untuk mengamati dan tangan berfungsi untuk meraba.

Selanjutnya Tim action research Matematika Kabupaten Sumenep (dalam Gentengkali, 2000:137) mengatakan bahwa Worker Educational and Techniques ILO (1990) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa kemampuan mengingat seseorang rata-rata adalah: hanya dengan mendengar 20%, hanya dengan melihat 30%, dengan melihat dan mendengar 50%, dengan melihat, mendengar dan diskusi 70%, dengan melihat, mendengar, diskusi dan menggunakan 90%

Untuk itu media atau alat peraga diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep dan prinsip matematika yang abstrak akan lebih mudah dimengerti jika disajikan dalam bentuk atau situasi yang kongkrit (melalui dunia nyata)

Menurut Nasution (1995:98), pola berfikir abstrak adalah berfikir dengan menggunakan simbol-simbol dan gagasan-gagasan tanpa dikaitkan dengan benda-benda fisik. Dalam membawa anak dari pola berfikir kongkrit ke pola berfikir abstrak perlu dibantu oleh alat bantu pembelajaran.

Hamalik (1980, 23) menyatakan bahwa media adalah alat, metode dan teknik yang dapat digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Proyek BP3G Jawa Timur (Metodologi Pengajaran 1982/1983) menyatakan bahwa alat peraga adalah media yang dapat membantu guru dalam usahanya menjelaskan suatu pengertian. Media merupakan semua bentuk alat peraga yang dapat digunakan untuk menyampaikan penjelasan atau informasi.

Robert M. Gagne dalam bukunya The Condition of Teaching (Depdikbud, 1996/1997:7) menggunakan istilah media pembelajaran untuk menunjukkan berbagai komponen lingkungan belajar yang dapat merangsang siswa sehingga terjadi proses belajar. Termasuk dalam pengertian ini guru, objek, berbagai macam alat mulai dari buku sampai televisi.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah suatu alat yang diperagakan, baik berupa alat atau benda sesungguhnya maupun berupa benda tiruannya guna memberikan gambaran yang lebih jelas kepada anak didik tentang sesuatu yang dipelajarinya. Media pembelajaran dapat berwujud perangkat keras maupun perangkat lunak.


BAB III
METODE PENELITIAN
PTK Matematika SMA

A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena penelitian ini sesuai dengan ciri-ciri penelitian kualitatif (Sudjana, 2004:197), yaitu: (a) menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung, (b) bersifat deskriptif analitik, (c) tekanan penelitian ada pada proses bukan pada hasil, (d) bersifat induktif, (e) mengutamakan makna.

Selanjutnya Sudjana (2004:200) mengatakan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tetapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik makna dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa menggunakan enumerasi dan statistik, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dan tingkah laku dalam situasi alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks ruang, waktu dan situasi tertentu.

Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menelusuri dan mendapatkan gambaran secara jelas tentang situasi kelas dan tingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Ebbutt (dalam Wiriaatmadja, 2005:12) yang mengatakan bahwa penelitian tindakan adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.

B.    Kehadiran Peneliti
Karena pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, maka kehadiran peneliti di lapangan mutlak diperlukan. Menurut Moleong (dalam Sri Harmini, 2004:22), kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul, penganalisis, penafsir data dan akhirnya sebagai pelapor hasil penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti sebagai guru, disamping berperan sebagai pengumpul dan penganalisis data di lapangan, peneliti juga berperan secara langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan penilaian. Selama proses pembelajaran, peneliti dibantu oleh seorang guru teman sejawat sebagai observer.

C.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sidoarjo. Alasan pemilihan lokasi penelitian di sekolah ini dikarenakan peneliti sebagai guru di sekolah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu bulan September, Oktober dan Nopember 2006. 



D.    Sumber Data PTK Matematika SMA
Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas X-5 SMA Negeri 1 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2006/2007 yang berjumlah 34 orang siswa. Alasan pemilihan kelas ini dikarenakan peneliti sebagai guru di kelas tersebut dan observer sebagai wali kelasnya.

E.    Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan tes kepada sumber data, melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian di lapangan, dan memberikan angket kepada sumber data.

F.    Teknik Analisis Data
Sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan, ada dua teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan terhadap hasil tes, sedangkan analisis kualitatif digunakan terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa atau hal-hal lain yang tampak selama berlangsungnya penelitian.