Selasa, 04 April 2017

Contoh Proposal PTK Meningkatkan Kemampuan Berhitung Melalui Permainan Ikan Pada Siswa TK

Contoh Proposal PTK Meningkatkan Kemampuan Berhitung Melalui Permainan Ikan Pada Siswa TK

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI





Latar Belakang Masalah
Taman Kanak – Kanak (TK) merupakan lembaga pendidikan formal sebelum anak memasuki sekolah dasar, lembaga ini dianggap penting karena bagi anak usia ini merupakan golden age (usia emas) yang didalamnya terdapat “masa peka” yang hanya datang sekali. Masa peka merupakan suatu masa yang menuntut perkembangan anak perkembangan anak dikembangkan secara optimal. Upaya pengembangan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk melalui permainan berhitung.
Permainan berhitung di TK tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental sosial dan emosional, karena itu dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan.
Pada usia Taman Kanak-Kanak perkembangan kognitif mempunyai peranan yang penting, karena berkaitan dengan otak, sesuai dengan penelitian Bloom (dalam Triyono : 4) bahwa sampai usia 4 tahun otak manusia berfungsi 50%, sampai usia 8 tahun otak manusia berfungsi 80 %, jadi sejak usia 8 tahun kecerdasan manusia hanya bertambah 20%. Dengan demikian perlu perhatian yang lebih pada usia Taman Kanak-Kanak.
Anak adalah individu yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi, yang dikenal sebagai pembelajaran aktif seperti yang dikemukakan dalam teori kontruktivitas yang memandang bahwa anak sebagai pembelajar aktif yang dapat membangun pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengalaman yang diperolehnya.
Dengan memberikan motivasi kepada anak karena motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu dan memelihara perilaku anak secara terus menerus. Contoh motivasi Intrinsik adalah rasa ingin tahu anak untuk menghitung benda yang ada di sekitarnya, sehingga anak mau mengulangi apa yang sudah dipelajari.
Berdasarkan pengamatan di  TK .............. penulis menemukan adanya masalah yaitu rendahnya minat anak didik belajar berhitung dengan benda – benda yang ada di lingkungan. Anak lebih menyukai pembelajaran mewarnai, motorik halus dan bermain di luar.
Di  TK .............. pembelajaran berhitung dengan benda– benda, menggunakan alat yang sederhana adalah salah satu kegiatan yang sering dilaksanakan di kelas. Para pendidik menggunakan media yang ada di dalam lingkungan sekolah misalnya pensil, kapur, buku, jepitan baju. Hal ini kadang membuat anak merasa bosan karena anak masih berkutat dilingkungan dalam ruangan atau melihat benda-benda yang sering dilihat.
Di dalam persiapan menyusun model pembelajaran berhitung ini disesuaikan dengan karakteristik anak, perkembangan fisik dan psikologis anak TK, keadaan lingkungan sekitar dan ketersediaan saran dan prasarana pendidikan sangat mendukung keberhasilan pembelajaran. Kegiatan berhitung ini untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya.
Permainan berhitung merupakan bagian dari matematika, diperlukan untuk menumbuhkembangkan keterampilan berhitung yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari, terutama konsep bilangan yang merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar.
Berdasarkam permasalahan yang telah disampaikan diatas, maka dalam penelitian ini memberi fokus pada peningkatkan kemampuan berhitung melalui permainan ikan pada siswa  TK .............. tahun ajar 2014/2015.

C.    Rumusan Masalah
Dengan adanya faktor–faktor di atas untuk meningkatkan kemampuan berhitung anak penulis memperoleh rumusan masalah yaitu:
1.      Bagaimana kemampuan berhitung sebelum menggunakan permainan ikan di TK .............. pada tahun 2014/2015?
2.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran kemampuan berhitung pada saat menggunakan permainan ikan di TK .............. pada tahun 2014/2015?
3.      Bagaimana peningkatan kemampuan berhitung anak di TK .............. setelah dengan menggunakan permainan ikan?

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui kemampuan berhitung sebelum menggunakan permainan ikan di  TK .............. pada tahun 2014/2015?
2.      Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kemampuan berhitung pada saat menggunakan permainan ikan di TK .............. pada tahun 2014/2015?
3.      Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berhitung anak di  TK ..............setelah dengan menggunakan permainan ikan?

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bermaksud untuk memberikan perbaikkan pembelajaran, manfaatnya sebagai berikut:
1.      Manfaat bagi anak TK:
a.       Dapat belajar berhitung pemulaan dari berbagai media atau alat peraga.
b.      Meningkatkan inisiatif anak untuk belajar berhitung permulaan melalui kegiatan bermain sambil belajar.
c.       Meningkatkan kemampuan anak dalam mengkonsepkan benda-benda dengan lambang bilangannya.
2.      Manfaat bagi guru:
a.       Menambah wawasan tentang rangsangan yang tepat dalam meningkatkan kemampuan berhitung permmulaan.
b.      Menambah pengetahuan dalam memilih dan menggunakan alternatif pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi berhitung.
c.       Mampu melakukan perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi kemampuan siswa.
3.      Manfaat bagi sekolah:
a.       Dapat menambah wawasan bagaimana memfasilitasi anak yang ada hubungannya dengan kemampuan kognitif anak usia TK.
b.      Memberikan kesempatan bagi guru untuk berkembang membuat inovasi baru.
c.       Masyarakat akan lebih percaya dan mendukung sekolah karena mutunya sangat bagus.

F.     Kajian Pustaka
1.      Kemampuan Berhitung
Beberapa teori yang mendasari perlunya permainan berhitung di TK adalah sebagai berikut:
a.       Tingkat Perkembangan Mental Anak
Jean Piaget, menyatakan bahwa kegiatan belajar memerlukan kesiapan dalam diri anak. Artinya belajar sebagai suatu proses membutuhkan aktifitas baik fisik maupun psikis.
Selain itu kegiatan belajar pada anak harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan mental anak, karena belajar bagi anak harus keluar dari anak itu sendiri. Anak usia TK berada pada tahapan pre-operasional kongret dan berfikir intuitif dimana anak maupun mempertimbangkan tentang besar, bentuk dan benda – benda didasarkan pada interprestasi dan pengalamannya (persepsi sendiri).
b.      Masa Peka Berhitung Pada Anak.
Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Apabila anak sudah menunjukkan masa peka (kematangan) untuk berhitung, maka orang tua dan guru di TK harus tanggap, untuk segera memberikan layanan dan bimbingan sehingga kebutuhan anak dapat terpenuhi dan tersalurkan dengan sebaik-baiknya menuju perkembangan kemampuan berhitung yang optimal. Anak usia TK adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan berhitung di jalur matematika, karena anak TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan.
Benyamin S. Bloom yang menyatakan bahwa 50 % dan potensi intelektual anak sudah terbentuk usia 4 tahun kemudian mencapai sekitar 80 % pada usia 8 tahun.
c.       Perkembangan Awal Menentukan Perkembangan Selanjutnya.
Hurlock (2002) mengatakan bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selajutnya. Piaget juga mengatakan bahwa untuk meningkatkan perkembangan mental adalah melalui pengalaman–pengalaman aktif dengan menggunakan benda-benda disekitarnya. Pendidikan di TK sangat penting untuk mencapai keberhasilan belajar pada tingkat pendidikan selanjutnya.
Bloom bahkan menyatakan bahwa mempelajari bagaimana belajar (learning to learn) yang terbentuk pada masa pendidikan TK akan tumbuh menjadi kebiasaan ditingkat pendidikan selanjutnya. Hal ini bukanlah sekedar proses pelatihan agar anak maupun membaca, menulis dan berhitung tetapi merupakan cara belajar mendasar yang meliputi kegiatan yang dapat memotivasi untuk menemukan kesenangan dalam belajar, mengembangkan konsep diri (perasaan mampu dan percaya diri) melatih kedisiplinan, keberminatan, inisiatif dan apresiatif. 
Sejalan dengan beberapa teori yang telah dikemukakan di atas, permainan matematika anak usia dini seyogyanya dilakukan melalui tiga tahapan penguasaan berhitung di jalur matematika yaitu:
  a.       Penguasaan konsep
Pemahaman atau pengertian tentang sesuatu dengan menggunakan benda dan peristiwa kongkrit,seperti pengenalan warna, bentuk, dan menghitung benda/ bilangan.
b.      Masa transisi
Proses berpikir yang merupakan masa peralihan dari pemahaman kongkrit menuju pengenalan lambang yang abstrak, dimana benda kongkrit itu masih ada dan mulai dikenalkan bentuk lambangnya.
c.       Lambang
Merupakan visualisasi dari berbagai konsep. Misalnya lambang 7 untuk menggambarkan konsep bilangan tujuh, merah untuk menggambarkan konsep warna, besar untuk menggambarkan konsep ruang, dan sebagainya.
Beberapa manfaat matematika untuk anak usia dini adalah sebagai berikut:
a.       Membelajarkan anak berdasarkan konsep matematika yang benar.
b.      Menghindari ketakutan matematika sejak awal.
c.       Membantu anak belajar matematika secara alami melalui kegiatan bermain.
Ciri-ciri yang menandai bahwa anak sudah mulai menyenangi permainan berhitung antara lain:
a.       Secara spontan telah menunjukan ketertarikan pada aktivitas permainan berhitung.
b.      Anak mulai menyebut urutan bilangan tanpa pemahaman.
c.       Anak mulai menghitung benda-benda yang ada di sekitarnya secara spontan.
d.      Anak mulai membanding-bandingkan benda dan peristiwa yang ada di sekitarnya.
e.       Anak mulai menjumlah-jumlahkan atau mengurangi angka dan benda-benda yang ada di sekitarnya tanpa disengaja.
Prinsip-prinsip permainan matematika anak usia dini adalah:
a.       Permainan matematika di berikan secara bertahap diawali dengan menghitung benda-benda atau pengalaman peristiwa kongkrit yang dialamimelalui pengamatan terhadap alam sekitar.
b.      Pengetahuan dan keterampilan pada permainan matematika diberikan secara bertahap menurut tingkat kesukaranya, misalya dari kongkrit ke abstrak, mudah ke sukar, dana dari sederhana ke yang lebih kompleksPermainan matematika akan berhasil jika anak-anak diberi kesempatan berpartispasi dan dirangsang untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri.
c.       Permainan matematika membutuhkan suasana menyenangkan dan memberikan rasa aman serta kebebasan bagi anak. Untuk itu diperlukan alat peraga/media yang sesuai dengan tujuan, menarik, dan bervariasi, mudah digunakan dan tidak membahayakan.
d.      Bahasa yang digunakan didalam pengenalan konsep berhitung seyogyanya bahasa yang sederhana dan jika memungkinkan mengambil contoh yang terdapat di lingkungan sekitar anak.
e.       Dalam permainan matematika anak dapat di kelompokkan sesuai tahap penguasaan berhitung yaitu tahap konsep, masa transisi dan lambang.
f.       Dalam mengevaluasi hasil perkembangan anak harus dimulai dari awal sampai akhir kegiatan.
The principles and strandards for school mathematics (prinsip dan standar untuk matematika sekolah), yang dikembangkan oleh kelompok pendidik dari National Council of Teacher of Mathematics (NCTM, 2000) memaparkan harapan matematika untuk anak usia dini. Konsep-konsep yang bisa dipahami anak usia dini antara lain:
a.       Bilangan
Salah satu konsep matematika yang paling penting dipelajari anak adalah pengembangan kepekaan bilangan. Peka terhadap bilangan berarti tidak sekedar menghitung. Kepekaan bilangan itu mencakup pengembangan rasa kuantitas dan pemahaman kesesuaian satu lawan satu. Ketika kepekaan terhadap bilangan anak-anak berkembang, mereka menjadi semakin tertarik pada hitung-menghitung. Menghitung ini menjadi landasan bagi pekerjaan dini anak-anak dengan bilangan.
 b.      Aljabar
Menurut NTCM (2000), pengenalan aljabar dimulai dengan menyortir, menggolongkan, membandingkan, dan menyusun benda-benda menurut bentuk, jumlah, dan sifat-sifat lain, mengenal, menggambarkan, dan memperluas pola akan memberi sumbangan kepada pemahaman anak-anak tentang penggolongan.
c.       Penggolongan
Penggolongan (klasifikasi) adalah salah satu proses yang penting untuk mengembangakn konsep bilangan. Supaya anak mampu menggolongkan atau menyortir benda-banda, mereka harus mengembangkan pengertian tentang “saling memiliki kesamaan”, “keserupaan”, “kesamaan”, dan “perbedaan”. Kegiatan yang dapat mendukung kemampuan klasifikasi anak adalah:
d.      Membandingkan
Adalah proses dimana anak membangun suatu hubungan antara dua benda berdasarkan atribut tertentu. Anak usia dini sering membuat perbedaan, terutama bila perbandingan itu melibatkan mereka secara pribadi.
e.       Menyusun
Menyusun atau menata adalah tingkat lebih tinggi dari perbandingan. Menyusun melibatkan perbandingan benda-benda yang lebih banyak, menempatkan benda-benda dalam satu urutan. Kegiatan menyusun dapat dilakukan didalam maupun luar kelas, misalnya menyusun buku yang diatur dari yang paling tebal, mengatur barisan dari anak yang paling tinggi/pendek, dll.
f.       Pola-pola
Mengidentifikasi dan menciptakan pola dihubungkan dengan penggolongan dan penyortiran. Anak mulai melihat atribut-atribut yag sama dan berbeda pada gambar dan benda-benda. Anak-anak senang membuat pola di lingkungan mereka.
g.      Geometri
Membangun konsep geometri pada anak di mulai dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk, menyelidiki bangunan dan memisahkan gambar-gambar biasa seperti segi empat, lingkaran, segitiga. Belajar konsep letak seperti dibawah, di atas, kiri, kanan meletakkan dasar awal memahami geometri.
h.      Pengukuran
Ketika anak mempunyai kesempatan untuk pengalaman-pengalaman langsung untuk mengukur, menimbang, dan membandingkan ukuran benda-benda, mereka belajar konsep pengukuran. Melalui pengalaman ini anak mengembangkan sebuah dasar kuat dalam konsep-konsep pengukuran.
i.        Analisis data dan probabilitas
Percobaan dengan pengukuran, penggolongan, dan penyortiran merupakan dasar untuk memahami probabilitas dan analisis data. Ini berarti mengemukakan pertanyaan, mengumpulkan informasi tentang dirinya dan lingkungan mereka, dan menyampaikan informasi ini secara hidup.

2.      Alat Permainan
Bermain dalam konsep dasar bahasa Indonesia adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat tertentu atau tidak). Menurut Diana Mautiah (2012:91), bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut Gordon dan Browne (dalam Moeslichatoen, 1999:31), bermain adalah kegiatan yang memberikan harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan dan memungkinkan anak berkhayal seperti sesuatu atau seseorang.
Dengan demikian bermain dapat diartikan seabgai sesuatu aktivitas dengan atau tanpa alat yang dapat memberikan kegembiraan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak-anak usia Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal. Untuk itu dalam memberikan pendidikan pada anak usia Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal harus dilakukan dalam situasi yang menyenangkan sehingga ia tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. Selain menyenangkan, metode, materi dan media yang digunakan harus menarik perhatian serta mudah diikuti sehingga anak akan termotivasi untuk belajar.
Melalui kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermain bagi anak juga merupakan suatu proses kreatif untuk bereksplorasi, mempelajari keterampilan yang baru dan dapat menggunakan simbol untuk menggambarkan dunianya.
a.       Pengertian Alat Permainan.
Pengertian alat permainan semua alat permainan yang digunakan anak untuk memenuhi naluri bermainnya. Peralatan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan anak. Macam alat permainan sebagai pelengkap untuk bermain sangat beragam. Ada yang bersifat bongkar pasang, mengelompokkan, memadukan, mencari padanannya, merangkai, membentuk, mengetok, menyempurnakan suatu desain, menyusun suatu bentuk utuhnya dan lain-lain. Sewaktu bermain dengan alat permainan anak akan mendapatkan masukan pengetahuan untuk ia ingat.
b.      Fungsi Alat Permainan.
Fungsi alat permainan adalah untuk mengenal lingkungan dan juga mengajar anak mengenal kekuatan maupun kelemahan dirinya. Dengan alat permainan anak akan melakukan kegiatan yang jelas dan menyenangkan ini juga akan meningkatkan sel otaknya dan menyuburkan proses pembelajaran.

c.       Macam-macam alat permainan
1)      Alat permainan gerak
Alat permainan ini adalah alat permainan yang menstimulasi pemakainya untuk aktif bergerak. Sebagai contoh: holahoop, kuda kepang, bola dan lain-lain.
2)      Alat permainan fantasi
Alat permainan fantasi adalah alat yang berfungsi untuk mendukung permainan fantasi anak. Dengan menggunakan alat tersebut anak bisa menjadi tokoh atau karakter atau profesi yang ada dalam fantasinya. Contoh: topeng, baju atau seragam tentara, pistol dan sebagainya.
3)      Alat permainan menerima
Alat menerima adalah alat yang mengutamakan fungsi untuk membantu dalam permainan menerima anak. Hal tersebut karena anak memiliki kecenderungan untuk memiliki kesulitan dalam menerima atau menangkap sebuah benda. Contoh: kaus tangan baseball, keranjang basket, dan lain-lain.
4)      Alat permainan membentuk
Alat permainan ini berfungsi untuk membentuk seperti benda-benda yang anak inginkan. Alat permainan ini mengutamakan kreatifitas anak. Contoh: kertas lipat, lego, balok, puzzle, plastisin dan lain-lain.

G.    Metode Penelitian
1.      Setting Penelitian
a.       Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di TK ......... sebagai tempat penelitian karena peneliti bertugas sebagai pendidik di TK tersebut. Dengan penelitian pembelajaran di tempat tugas peneliti sendiri, tentunya akan memudahkan bagi peneliti dalam memperoleh data dan sekaligus hasil dari penelitian akan langsung dapat dirasakan. Permasalahan kemampuan berhitung di TK ..............menjadikan peneliti mengambil tema penelitian ini.
b.      Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Semester I, dari bulan Juli 2014 sampai dengan Agustus 2014. Pada bulan pertama kegiatan penelitian digunakan untuk persiapan dan perencanaan penelitian (Siklus I) pelaksanaan Siklus II dan penyusunan laporan. Untuk perbaikan pembelajaran dilaksanakan selama 2 (dua) siklus, yaitu I dan II.

2.      Subyek Penelitian
TK ............ kelompok B dengan jumlah murid 24, baru 3 anak yang sudah mampu mengenal konsep bilangan dan menuliskan angka pada jumlah gambar atau mainan yang disediakan oleh guru dengan sedikit bantuan.

3.      Sumber Data
Sumber data penelitian ini diperoleh dari hasil belajar siswa yang berupa observasi terhadap unjuk kerja anak dan hasil karya pada kemampuan konsep bilangan.

4.      Tehnik Pengumpulan Data
a.       Metode Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran dengan menggunakan media kartu angka dalam peningkatan kemampuan berhitung anak usia dini pada pembelajaran tersebut.
b.      Metode Wawancara
Denzim (Goetz dan Le Compte, 1984) dalam Rochiati Wiriaatmadja (2005: 117) menjelaskan bahwa wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu.
c.       Dokumentasi
Dokumen yang digunakan berupa daftar kelompok siswa, daftar nilai siswa, dan foto kegiatan pembelajaran. Dokumentasi foto untuk memberikan gambaran secara lebih nyata mengenai kegiatan kelompok siswa dan menggambarkan suasanan kelas ketika aktivitas belajar berlangsung.

d.      Keabsaahan Data
Validasi data diperlukan agar diperoleh data-data yang valid. Untuk data yang diperoleh dari hasil evaluasi/hasil belajar anak maka terlebih dahulu dibuat butir-butir soal yang telah diuji kevalidannya dengan cara membuat kisi-kisi soal dahulu.
Data yang diperoleh dari data hasil observasi divalidasi dengan trianggulasi sumber yaitu data berasal dari kolaborasi dengan teman satu kelas.

e.       Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis terdapat data primer dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai hasil belajar pemahaman konsep bilangan.
Analisis data sekunder menggunakan cara deskriptif kualitatif yaitu berdasarkan hasil observasi dan dilakukan refleksi dari beberapa kejadian dalam proses kegiatan belajar pemahaman konsep bilangan.

H.    Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1.      Hasil belajar anak meningkat sekurang-kurangnya 80% dari seluruh anak.
2.      Dengan meningkatkan hasil belajar maka keaktifan anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran meningkat.
Adapun indikator yang diharapkan dalam kemampuan berhitung dapat dilaksanakan melalui penguasaan/pengelompokan suatu benda dengan sedikit bantuan.
Tabel 2
Indikator Kerja Anak
No
Tingkat pencapaian perkembangan
Indikator
1
Menghitung bilangan 1-10
Membilang atau menghitung 1-10
2
 Mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan
Menarik garis dari bilangan ke lambang bilangan
3
Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak kedalam kelompok yang sama atau tidak sama.
Anak mampu mengelompokkan benda dalam berbagai macam bentuk
4
Mengurutkan benda dari yang lebih kecil ke yang lebih besar
Anak mampu mengurutkan benda dari yang lebih kecil ke yang lebih besar atau sebaliknya.
5
Mengenai perbedaan berdasarkan ukuran “tambah”, “kurang”
Anak mampu membedakan ukuran ditambah dan dikurangi

Selain indikator kinerja anak dalam penelitian ini juga ada indikator kinerja guru yang dapat dilaksanakan dari persiapan, pelaksanaan dan penutup sebagai berikut:

Tabel 3
Indikator Kinerja Guru
No
Aspek yang dinilai
1
Persiapan
a.       Kemampuan guru menyiapkan kelas sesuai tema.
b.      Kemampuan guru menyiapkan murid (baris, berdoa, salam)
c.       Kemampuan guru dalam menyiapkan kondisi mental, fisik anak untuk mengikuti pelajaran
d.      Kemampuan guru memberi apresiasi
e.       Persiapan media yang digunakan
2
Pelaksanaan
a.       Kemampuan guru menjelaskan 4 kegiatan inti
b.      Kemampuan guru mengatur PBM
3
Penutup
a.       Kemampuan guru mengikuti kegiatan yang telah dilaksanakan
b.      Kemampuan guru melaksanakan penilaian pekerjaan anak
c.       Penggunaan bahasa yang dapat dipahami anak
d.      Keserasian dalam berbusana
e.       Sikap terhadap ssiwa (ramah, luwes, sabar)
f.       Penampilan gaya tubuh
g.      Intonasi suara

 I.       Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1
Kondisi awal  Guru belum menggunakan permainan ikan

Tingkat keterampilan menghitung anak kelompok A masih rendah di TK Setia Murni Purwosari

Penerapan tindakan
                      
Guru menggunakan Permainan Ikan

Kondisi akhir
                                
Keterampilan menghitung pada anak kelompok A di TK Setia Murni Purwosari ternyata meningkat

Gambar kerangka berfikir

J.      Hipotesis Tindakan
Diharapkan melalui permainan ikan dapat meningkatkan kemampuan berhitung pada anak di kelompok A TK Setia Murni Purwosari, Wonoboyo, Temanggung.

K.    Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggar yang terdiri dari empat komponen yang berisi kegaitan yaitu:
1.      Perencanaan (planning)
2.      Tindakan (acting)
3.      Observasi (observing)
4.      Refleksi (reflecting)
Penelitian dengan model ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. Adapun tahap-tahap penelitian model Kemmis dan Mc Taggar dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 2
Perencanaan

Refleksi
              Siklus I               
Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi
  Siklus II
Pelaksanaan

Pengamatan


Gambar tahap-tahap penelitian


1.      Perencanaan (planning)
Dalam melakukan penelitian pemahaman konsep bilangan melalui media bermain lotto, peneliti harus mempersiapkan segala sesuatu dan mempersiapkan secara detail langkah kegiatan agar mencapai tujuan yang diharapkan.
Persiapan yang harus dilaksanakan antara lain:
a.       Menentukan pokok bahasan
b.      Menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH)
c.       Menyusun skenario pembelajaran dengan lotto bergambar
d.      Membagi siswa menjadi beberapa kelompok
e.       Menyiapkan alat bantu/media pembelajaran
f.       Menjelaskan teknik/prosedur yang digunakan
g.      Menyiapkan lembar evaluasi
h.      Menyiapkan lembar refleksi
2.      Tindakan (acting)
Secara rinci urutan pembelajaran sebagai berikut:
a.       Pendahuluan
1)      Melakukan apreasiasi dan memotivasi anak
2)      Menyampaikan tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan inti
1)      Menyampaikan langkah-langkah permainan
2)      Membagi kelas menjadi 4 kelompok dengan masing-masing kelompok 3 anak, penelit membagi media
3)      Peneliti dan teman sejawat membimbing tiap-tiap kelompok
c.       Penutup
1)      Mengadakan evaluasi dengan pertanyaan lisan
2)      Memberi penghargaan kepada kelompok yang bekerja dengan baik
3.      Observasi (observating)
Selama melaksanakan tindakan pembelajaran peneliti dibantu teman sejawat mengamati dan mencatat semua aktifitas anak dengan menggunakan lembar observasi/alat penilaian observasi unjuk kerja anak dan pemberian tugas selama pembelajaran konsep bilangan dengan permainan lotto. Adapun lembar observasi adalah lembar observasi kinerja guru dan siswa.
4.      Refleksi (reflecting)
Berdasarkan pada hasil pengamatan selama penelitian pembelajaran berhitung melalui media lotto bergambar, hasil observasi ditelaah, dicari kendala, selanjutnya dicari solusi untuk perencanaan perbaikan di siklus berikutnya.

L.     Sistematika Penulisan
1.      Bagian Awal
Bagian awal skripsi ini terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan, abstrak, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, daftar grafik, serta daftar lampiran.
2.      Bagian Isi
Bab I     : Pendahuluan. Pada bab ini berisi latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian.
Bab II : Landasan teori dan hipotesis tindakan. Pada bab ini berisi landasan teori pemahaman konsep bilangan.
Bab III  : Metode penelitian. Pada bab ini berisi tentang setting penelitian, waktu penelitian, subyek penelitian, sumber data, alat dan teknik pengumpulan data, validasi data, analisis data, indikator keberhasilan dan prosedur penelitian.
Bab IV   : Hasil penelitian dan pembahasan. Pada bab ini berisi tentang hasil penelitian, penyajian data dan pembahasan.
Bab V     : Penutup. Bagian akhir skripsi ini berisi simpulan dan saran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar