Minggu, 30 April 2017

Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pelajaran Matematika SMP

Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pelajaran Matematika SMP

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 Penelitian tindakan kelas atau yang yang kita kenal dengan istilah PTK telah menjadi salah satu syarat penting dalam pengembangan karier profesi guru.

Penelitian seringkali menjadi momok bagi para guru di sela kesibukan mereka mengurusi pekerjaan mengajar dan kegiatan administratif yang sangat menyita waktu.

Namun demikian, pembuatan PTK bukanlah sesuatu yang harus dijadikan momok. Tips-nya adalah luangkan waktu untuk belajar dan banyak-banyaklah membaca literatur. Klise memang, tapi mau bagaimana lagi? He....he...he.

Kali ini kami menuliskan penelitian tindakan kelas/PTK Matematika untuk SMP. Anda dapat memilah mana judul yang sekiranya cocok dengan inspirasi Anda. Setelah memilah judul, Anda dapat langsung men-download-nya. Cara mengunduhnya sangat mudah. Klik saja judulnya dan otomatis judul PTK yang Anda pilih akan terdownload.

Nah, berikut adalah contoh PTK Matematika SMP untuk rujukan Anda. Silahkan disimak!

PTK Matematika Untuk SMP

PTK Matematika Untuk SMP
 
 JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 .    Latar Belakang Masalah

Sampai saat ini pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang amat sulit untuk dipelajari, sehingga hasil yang diperoleh siswa masih sangat jauh dari yang diharapkan. Sebagai gambaran dari hasil ulangan harian materi sebelumnya siswa yang memperolah nilai ≥ 67,55, sesuai dengan Standar Ketuntasan Belajar Minimal sebesar 24 % ( 9 siswa dari 40 siswa). Sementara itu matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, maka seluruh kompetensi yang ada harus dikuasai siswa, sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa mencapai Standar Ketuntasan Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu harus diupayakan meminimalkan kesulitan-kesulitan belajar matematika yang dihadapi siswa.

Penyebab kesulitan belajar yang dihadapi siswa sangatlah komplek, yang datang dari siswa sendiri misalkan kurangnya pengetahuan prasyarat yang dimiliki siswa, masalah sosial dan lain-lain. Adapun kesulitan belajar siswa disebabkan oleh guru misalnya, guru dalam proses pembelajaran tidak mengikutsertakan siswa dalam pembelajaran secara aktif, siswa hanya disuruh menghafal rumus-rumus, menerima konsep-konsep yang ada tidak melakukan sendiri. Sehingga hasilnya kurang bermakna dan tidak terekam dengan baik pada otak siswa.

Peneliti mengambil materi persamaan garis lurus, karena kebanyakan siswa selama peneliti menyampaikan materi ini banyak mengalami kesulitan, dengan hasil yang kurang membanggakan. Padahal banyak soal-soal yang berhubungan dengan materi telah dibahas, setelah konsep-konsep yang berhubungan dengan materi penulis berikan.

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, perlu diupayakan suatu pembelajaran yang meminimalkan kesulitan belajar siswa. Kesulitan belajar siswa dapat diupayakan dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga belajarnya bermakna. Bila belajarnya bermakna diharapkan kesulitan belajar siswa berkurang dan pada akhirnya ada peningkatan hasil belajarnya.

Adapun usaha yang akan dilakukan untuk mengupayakan belajar bermakna pada mata pelajaran matematika dengan Pembelajaran Konstruktivis. Pembelajaran Konstruktivis memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuaannya sendiri yang diperoleh dari pengalaman yang dialaminya dan dapat pula menghubungkan dengan pengalaman yang lalu (Pengetahuan Prasyarat) yang dimilikinya.
B.    Rumusan Masalah PTK Matematika SMP
Masalah yang diangkat dari penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan Pendekatan Konstruktivis dapat meminimalkan kesulitan belajar materi persamaan garis lurus pada siswa kelas VIII – E SMP Negeri 4 Sidoarjo.


C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan agar siswa kelas VIII – E SMP Negeri 4 Sidoarjo dapat meningkatkan hasil belajar matematikanya, yang ditunjukkan pada indikator :
1.    Umum :
Meningkatkan mutu pembelajaran matematika di SMP Negeri 4 Sidoarjo yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memperoleh hasil belajar matematika yang optimal.
2.    Khusus :
  • Meningkatnya respon siswa dalam aktivitas dan kreativitasnya dalam pembelajaran.
  • Sekurang-kurangnya 65 % perolehan hasil belajar matematika individu siswa kelas VIII – E SMP Negeri 4 Sidoarjo di atas SKBM yang telah ditentukan.
D.    Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
  1. Siwa : mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
  2. Guru  :  menambah wawasan dan informasi untuk  memilih bentuk-bentuk pendekatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa sesuai dengan materi yang akan diajarkan, agar dalam pembelajaran mendapatkan hasil yang maksimal.
E.    Difinisi Operasional
Adapun difinisi operasional yang dipergunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
  • Kesulitan belajar artinya hambatan belajar yang dialami oleh siswa dalam memahami materi yang dipelajari dalam proses pembelajaran.
  • Pendekatan konstruktivis artinya suatu cara yang dipergunakan dalam proses pembelajaran dengan membangun sendiri pengetahuan yang akan diperoleh siswa melalui pengalaman belajar yang dialaminya.
  • Persamaan garis lurus adalah suatu persamaan dalam matematika yang variabelnya mempunyai pangkat 1 dan grafiknya berupa garis lurus.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
PTK Matematika SMP

A.    Pembelajaran Matematika
1.    Pengertian
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Matematika berasal dari bahasa latin MANTHANEIN atau MATHEMA yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut WISKUNDE atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten.
2.    Tujuan
Tujuan pembelajaran matematika menurut DepPenNas 2003 adalah:
  • Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
  • Mengembagkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba.
  • Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
  • Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan (DepPenNas, 2003).
3.    Ruang Lingkup
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Standar kompetensi matematika merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika.
B.    Elemen belajar Konstruktivis

Pembelajaran matematika akan bermakna bagi siswa apabila mereka aktif dalam proses pembelajaranan membangun (mengkonstruksi) sendiri materi pembelajaran yang mereka perlukan. Menurut  Zakorik (dalam CTL, 2003: 7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran konstruktivis.
  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (ACTIVATING KNOWLEDGE)
  2. Memperoleh pengetahuan baru (ACQUIRING KNOWLEDGE) dengan cara mempelajari secara keseluruhan data, kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan (UNDERSTANDING KNOWLEDGE) yaitu dengan cara menyusun (a) konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan SHARING kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (APPLYING KNOWLEDGE).
  5. Melakukan refleksi (REFLECTING KNOWLEDGE) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
C.    Pengaruh Konstruktivis dalam Pembelajaran Matematika
Dalam pembelajaran matematika pengaruh konstruktivisme menurut Lambas, dkk, (2004: 14) meliputi:
1.    Pengaruh konstruktivisme terhadap proses pembelajaran siswa.
Bagi konstruktivisme, belajar adalah kegiatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan barunya, siswa mencari sendiri arti dari yang mereka pelajari dan bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya, mereka sendiri yang membuat penalaran dengan apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan apa yang telah diketahui dengan pengalaman dan situasi baru.
2.    Pengaruh konstruktivisme terhadap proses mengajar guru.
Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke  siswa, tetapi merupakan kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersifat kritis dan mengadakan justifikasi.
D.    Teori Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis PTK Matematika SMP

Kesulitan belajar siswa merupakan suatu hal yang harus segera dapat diatasi, dicari penyebab dan jalan keluarnya. Kegagalan siswa dalam pembelajaran adalah kegagalan guru dalam pendidikan. Karena pengetahuan bukannya seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah-kaidah yang siap diambil dan diingat sejalan dengan itu.

Piaget (dalam Nurhadi, dkk., 2003 : 36) berpendapat, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak (struktur pengalaman) dalam otak manusia tersebut.

Sejalan dengan pendapat di atas, dalam pembelajaran agar siswa diberi kesempatan membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Dalam buku CTL yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional (2002: 11) siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa, siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri.

Pendapat di atas diperkuat oleh Nurhadi (2002: 26) menyatakan landasan filosofi CTL adalah konstruktivis, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahan belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan  pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.

Pengetahuan terus berkembang, penemuan-penemuan baru banyak yang ditemukan sehingga pembelajaran tidak pernah berakhir dan harus selalu diikuti perkembangannya. Nurhadi, Burhanudin Yasin, Agus Gerrad Senduk (2003 : 10) berpendapat teori konstruktivis memandang secara terus-menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lain dan memperbarui aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi. Teori konstruktivis menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa yang aktif maka strategi konstruktivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa (STUDENT-CENTERED INSTRUCTION). Di dalam kelas yang pengajarannya berpusat pada siswa, peran guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran dapat mengoptimalkan pengalaman belajar. Siswa menemukan konsep-konsep atau dalil matematika sendiri, maupun melalui diskusi kelompok dengan guru sebagai fasilitator, sehingga dapat meminimalkan kesulitan belajar siswa.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
PTK Matematika SMP

A.    Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Sidoarjo, yang pelaksanaannya dimulai 11 September 2006 sampai dengan 11 Nopember 2006 yang melibatkan seorang guru matematika sebagai peneliti, 2 guru (teman sejawat) untuk membantu mengambil data sebagai observator dalam pelaksanaan penelitian. Adapun subyek penelitian adalah 40 siswa kelas VIII – E yang keadaan siswa dalam kelas tersebut heterogen.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus dengan rincian sebagai berikut : siklus I, dengan dalam 3 x Tatap Muka (TM); siklus II dengan 2 x TM, siklus III dengan 2 x TM. Adapun materi yang dibahas dalam 3 siklus tersebut adalah :
  1. Siklus I membahas materi : mengenal persamaan garis lurus dalam berbagai bentuk dan variabel, mengenal pengertian dan menentukan gradien persamaan garis lurus dalam berbagai bentuk.
  2. Siklus II membahas materi : menentukan persamaan garis lurus pada sebuah titik dengan gradien tertentu dan persamaan garis melalui dua titik.
  3. Siklus III membahas materi : menentukan syarat dua garis sejajar, dua garis berpotongan tegak lurus, dan menentukan koordinat titik potong dua garis yang berpotongan.


B.    Rencana Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan rancangan penelitian tindakan yang dilaksanakan di kelas, sehingga disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari 3 siklus masing-masing siklus meliputi : perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hal ini sesuai pendapat Suharsimi A, Suhardjono, Supardi (halaman 73) PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang yang di dalamnya terdapat empat bahasan utama kegiatan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut : 

PTK Matematika SMP   yang ada di postingan ini belum sempurna atau belum lengkap untuk mendapatkan ptknya yang lengkap silahkan anda klik tombol download dibawah ini, semoga ptk ini bermanfaat selalu untuk anda semua, salam sukses ya.

Contoh PTK SMP Bidang Studi/Mapel Matematika

Contoh PTK SMP Bidang Studi/Mapel Matematika 

 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 
 atau yang yang kita kenal dengan istilah PTK telah menjadi salah satu syarat penting dalam pengembangan karier profesi guru.

Penelitian seringkali menjadi momok bagi para guru di sela kesibukan mereka mengurusi pekerjaan mengajar dan kegiatan administratif yang sangat menyita waktu.

Namun demikian, pembuatan PTK bukanlah sesuatu yang harus dijadikan momok. Tips-nya adalah luangkan waktu untuk belajar dan banyak-banyaklah membaca literatur. Klise memang, tapi mau bagaimana lagi? He....he...he.

Kali ini kami menuliskan penelitian tindakan kelas/PTK Matematika untuk SMP. Anda dapat memilah mana judul yang sekiranya cocok dengan inspirasi Anda. Setelah memilah judul, Anda dapat langsung men-download-nya. Cara mengunduhnya sangat mudah. Klik saja judulnya dan otomatis judul PTK yang Anda pilih akan terdownload.

Nah, berikut adalah contoh PTK Matematika SMP untuk rujukan Anda. Silahkan disimak!

PTK MATEMATIKA

PTK MATEMATIKA

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

  Kali ini saya akan share contoh PTK mata pelajaran Matematika, sebelum anda megunduh file PTK, alangkah baiknya untuk mereview tentang tujuan PTK. Penelitian Tindakan Kelas salah satu tujuannya adalah untuk mengevaluasi proses pembelajaran, apakah sudah maksimal atau masih ada pembenahan agar siswa dan siswi kita dapat menerima konten-konten yang bapak dan ibu guru berikan.

Manfaat untuk siswa dan siswi lah tujuan yang paling utama dalam pelaksanaan PTK. Bagi bapak dan ibu guru juga akan mendapatkan manfaat yang signifikan, terutama dalam strategi sistem mengajar bapak dan ibu guru. Keberhasilan bukan tujuan yang satu-satunya dalam menilai pembelajaran kita terlaksana dengan baik, namun proses juga sangat penting dalam menjadi tolak ukur kita melakukan PTK.
Dengan PTK, Guru memiliki kemampuan memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya. Keberhasilan dalam perbaikan ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru, karena Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siswanya melalui proses pembelajaran yang dikelolanya.

 

 

Selasa, 04 April 2017

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA TK DALAM PEMBELAJARAN KEMAMPUAN BERBAHASA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA TK DALAM PEMBELAJARAN KEMAMPUAN BERBAHASA 

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI





BAB I

PENDAHULUAN
PTK TAMAN KANAK-KANAK



A.    Latar Belakang


Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-Kanak adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.


Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan lembaga pendidikan pra-sekolah atau pra-akademik. Dengan demikian Taman Kanak-Kanak tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan akademik anak seperti kemampuan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan akademik atau skolastik ini harus menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan Sekolah Dasar.


Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan dalam praktik kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab pengembangan kemempuan skolastik dari Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak terjadi di mana-mana, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Banyak Sekolah Dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes “membaca dan menulis”. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar seperti ini sering pula di anggap sebagai lembaga pendidikan “berkualitas dan bonafide”.


Peristiwa praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan menulis dengan mengadapsi pola-pola pembelajaran di Sekolah Dasar. Akibatnya, tidak jarang Taman Kanak-Kanak tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain, sehingga Taman Kanak-Kanak tidak lagi taman yang indah, tempat bermain dan berteman banyak, tetapi beralih menjadi “Sekolah” Taman Kanak-Kanak dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak. Tanda-tandanya terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis agar bisa memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar favorit. PTK Taman Kanak Kanak


Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak dapat dilaksanakan selama batas-batas aturan pengembangan pra-sekolah serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra-skolastik yang lebih substansi yaitu bidang pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan berbahasa atau membaca kognitif, fisik-motorik dan seni.


Mencermati kondisi kegiatan pembelajaran membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak yang berlangsung sebagaimana digambarkan di atas, perlu dilakukan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Dengan serangkaian tindakan itu diharapkan dapat mengubah suasana pembelajaran ke arah pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan. Hal itu dapat dicapai dengan melalui pembelajaran menggunakan media gambar. Media gambar adalah penyajian visual 2 dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi unsur kehidupan sehari-hari tentang manusia benda-benda, binatang, peristiwa, tempat dan sebagainya (Taufik Rachmat, 1994).


Gambar banyak digunakan guru sebagai media dalam proses belajar mengajar, sebab mudah diperoleh tidak mahal dan efektif, serta menambah gairah dalam motivasi belajar siswa.
B.    Rumusan Masalah PTK Taman Kanak Kanak


Agar penelitian tindakan ini dapat lebih terarah, maka secara operational permasalahan penelitian ini difokuskan pada media gambar dan guru dalam pelaksananaan proses belajar mengajar, membaca di Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Secara rinci permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak secara klasikal ?
  2. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok ?
  3. Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah mereka mengikuti pembelajaran membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar?
C.    Tujuan Penelitian


Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan terjadinya peningkatan kemampuan membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
  1. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara klasikal.
  2. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok.
  3. Menemukan terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar.
D.    Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah kemampuan berbahasa dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak Kelompok B. penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo.

E.    Definisi Operasional PTK Taman Kanak Kanak


Untuk mendapatkan kesamaan arti pada penelitian ini dipertukarkan pendefinisian istilah :
  1. Kemampuan berbahasa yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak kelompok B pada penelitian ini sesuai dengan materi yang terdapat pada kurikulum Taman Kanak-Kanak 2004 yaitu kemampuan membaca permulaan (pra membaca), sedangkan pelaksanaannya menggunakan pendekatan temaik dan pembelajaran yang berorientasi pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.
  2. Yang dimaksud siswa mampu membaca permulaan (pra membaca) adalah siswa dapat menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya atau media gambarnya.
F.    Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :
  1. Siswa Taman Kanak-Kanak, agar mereka terbiasa dalam suasana kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
  2. Bagi guru Taman Kanak-Kanak, dengan penerapan media gambar, guru memperoleh pengalaman baru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang berpusat pada anak.
  3. Bagi peneliti, dapat membantu guru dalam mengatasi masalah dalam pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PTK Taman Kanak Kanak



A.    Perkembangan Kemampuan Berbahasa


Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak  yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan serta tindakan interaktif dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa ini tidak selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga terdapat sub potensi lainnya yang memiliki peranan yang lebih besar seperti penguasaan kosa kata, pemahaman (mendengar dan menyimak) dan kemampuan berkomunikasi.


Pada usia Taman Kanak-Kanak (4 – 6 tahun), perkembangan kamampuan berbahasa anak ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut :
  1. Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi.
  2. Memiliki  berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya dan kata sambung.
  3. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
  4. Mampu menggungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
  5. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar


Perkembangan kemampuan tersebut muncul ditandai oleh berbagai gejala seperti senang bertanya dan memberikan informasi tentang berbagai hal, berbicara sendiri, dengan atau tanpa menggunakan alat seperti (boneka, mobil mainan, dan sebagainya). Mencoret-coret buku atau dinding dan menceritakan sesuatu yang fantastik. Gejala-gejala ini merupakan pertanda munculnya kepermukaan berbagai jenis potensi tersembunyi (hidden potency) menjadi potensi tampak (actual potency). Kondisi tersebut menunjukkan berfungsi dan berkembangnya sel-sel saraf pada otak. (DepDikNas, 2000 : 6)


Secara khusus, perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahap sebagai berikut:


1.    Tahap fantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.

2.    Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Guru hendaknya memberikan akses pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan buku.

3.    Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalinya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin.

4.    Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (fraphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
Pada tahap keempat guru masih harus membacakan sesuatu pada anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna.

5.    Tahap membaca lancar (independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. (DepDikNas, 2000 : 7 – 8).

Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi keberbahasaan anak diatas maka permainan dan berbagai alatnya memegang peranan penting. Lingkungan (termasuk didalamnya peranan orang tua dan guru) seharusnya menciptakan berbagai aktifitas bermain secara sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh dan berkembang secara optimal
BAB III

METODE PENELITIAN
PTK Taman Kanak Kanak



A.    Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, penelitian ini berangkat dari masalah yang di dapat di lapangan, kemudian direfleksikan dan dianalisis berdasarkan teori yang menunjang, kemudian dilaksanakan tindakan di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh tidak dapat digeneralisasikan pada ruang lingkup yang lebih luas, karena untuk kondisi dan situasi yang berbeda hasilnya dapat berbeda. Penelitian ini dapat dijadikan model untuk memberikan rekomendasi pada situasi yang lain (Arifin Imron, 1990 : 4)


Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian berusaha untuk memahami makna peristiwa dari interaksi yang terjadi selama penelitian berlangsung.

B.    Model Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, karena penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pada penelitian tindakan yang meliputi penyusunan rencana, melaksanakan tindakan, mengobservasi, melakukan analisis dan refleksi terhadap hasil observasi dari hasil analisis dan refleksi setiap akhir kegiatan dilakukan tindakan perbaikan pada siklus yang berikutnya berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dibuat sebelumnya.


Pada model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini pembelajaran kemampuan membaca melalui penerapan media gambar.

C.    Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus kegiatan yaitu siklus 1 dan siklus 2. Masing-masing siklus terdiri 4 tahap kegiatan yaitu :
  1. Menyusun rencana tindakan
  2. Melaksanakan tindakan
  3. Melakukan observasi
  4. Membuat analisis dilanjutkan refleksi


Pada penelitian ini yang melaksanakan kegiatan mengajar adalah Kepala Taman Kanak-Kanak bersama-sama dengan guru kelompok B sekaligus sebagai observer

SIKLUS – 1 PTK Taman Kanak Kanak


a.    Penyusunan rencana tindakan 1
Pada tahap ini Kepala Taman Kanak-Kanak menyusun rencana pembelajaran berdasarkan pokok bahasan dan tema yang akan diajarkan yaitu kemampuan membaca meliputi merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun langkah-langkah pembelajaran, merencanakan alat peraga (media) apa yang sesuai pokok bahasan yang akan diajarkan dari bagaimana menggunakannya, serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan.

b.    Pemberian tindakan 1
Guru melaksanakan pengajaran dengan menggunakan media gambar sesauai dengan perencanaan yang telah disusun. Pada kegiatan awal pembelajaran guru melakukan kegiatan berbagi dan bertanya serta tanya jawab tentang benda-benda di sekitar anak, siswa di bentuk tiga kelompok yang terdiri dari 7 – 8 anak, siswa, masing-masing kelompok di beri tugas untuk mengamati dan melihat gambar-gambar benda yang telah disediakan, kemudian siswa diminta menghubungkan antara tulisan (kata) dengan gambar benda yang melambangkan. Dengan memberikan tugas-tugas diharapkan siswa mendapat pemahaman tentang konsep kemampuan membaca permulaan dengan menggunakan media gambar dan kartu kata yang telah disediakan.

c.    Melakukan observasi
Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, Kepala Taman Kanak-Kanak bersama guru kelompok B melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang nantinya dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan apakah guru dapat menggunakan kalimat dengan tepat atau perlu diadakan. Apakah tugs-tugas dan pertanyaan yang diajukan guru sudah mencerminkan pembelajaran kemampuan berbahasa (pra membaca)

d.    Pembuatan analisis dan refleksi
Dari hasil observasi dilakukan analisis pada tindakan 1 kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan bersama-sama ini, direncanakan perbaikan dengan melakukan tindakan 2 terhadap permasalahan-permasalahan yang masih ada. Untuk mengetahui apakah guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang mencerminkan pembelajaran kemampuan berbahasa (pra membaca) dapat dilihat dan komponen-komponen yang terdapat pada rencana pembelajaran yang telah disusunnya.


Mudah mudahan dengan adanya contoh ptk taman kanak kanak ini teman teman bisa terbantu dalam menyusun ptk teman yang bersangkutan

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK PAUD / TK

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK PAUD / TK

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI









Sesuai dengan KBK TK (dalam Masibah, dkk 2004) disebutkan bahwa pengembangan kemampuan kognitif anak di TK bertujuan untuk mengembagkan kemampuan berfikir anak agar daapt mengolah perolehan belajarnya, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematikanya serta mengetahui akan ruang dan waktu. Mengembangkan kemampuan memilah-milah dan mengelompokan serta mempersiapkan pengembanagn kemampuan berfikir teliti. Terkadang kemampuan logika ini disebut juga sebagai kemampuan berfikir anak. Peaget, menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sudah dirintis sejak kecil sejalan dengan perkembangan anak usia PAUD sudah dapat mengenal lingkungan sekitarnya, sudah mampu memahami beberapa simbol atau konsep yang ada. Perkembangan kognitif anak usia TK menurut Peaget berada pada tahap pra operasional. Pada tahap ini, pemikiran anak masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik dan pengalamnnya sendiri sekalipun yang ada dalam pikirannya tidak selalu ditampilkan lewat tingkah laku nyata.
Menurut Biggs dalam Dahar, (1989) merangkum pembedaan penting antara teori perilaku berkeinginan dan teori belajar kognitif. Seorang guru penganut teori perilaku berkeinginan mengubah perilaku siswanya, sedangkan guru berorientasi teori kognitif berkeinginan untuk mengubah pemahaman siswanya. Hal-hal di atas dapat sebagai gambaran bagaimana seorang peneliti dalam tugasnya sebagai transfer belajar dapat menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru. Seperti halnya yang terjadi dalam pembelajaran yang peneliti lakukan dalam pengembangan kognitif bidang mengelompokan bentuk. Pada studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada pengembangan kognitif mengelompokan bentuk-bentuk geometri, hasil observasi belum mencapai hasil memuaskan, dari 30 anak didik hanya 8 siswa yang diktegorikan tuntas belajar yaitu mencapai 70 % ke atas. Hal ini kalau dibiarkan berdampak buruk bagi proses dan hasil belajar siswa selanjutnya. Konsep kognitif / matematik model sekarang ini tidak lagi hanya pada konsep bilangan, tetapi lebih berkaitan dengan konsep-konsep abstrak di mana suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan alasan logis dengan mengadakan pembuktian deduktif, ilmu tentang struktur dan hubungan-hubungan memerlukan simbol-simbol untuk membantu memanipulasi aturan-aturan melalui operasi yang ditetapkan (Paimin, 1998). Peran guru dalam mengembangkan kegiatan belajar kognitif adalah membuka rasa keingintahuan anak secara alami tentang bentuk, ukuran, jumlah dan konsep-konsep dasar lain. Kepedulian dan ketertarikan peneliti terhadap apa yang dikatakan anak akan mendorong untuk menceritakan pengalaman dan penemuan mereka.
Ketampilan menyortir dan mengelompokan sangat penting karena kegiatan ini dapat mengasah kemampuan mengamati pada anak tentang persamaan dan perbedaan, anak akan menjadi lebih dari seorang ahli ketika sedang membandingkan benda-benda yang sudah dikenal atau diketahuinya. Mengelompokan juga membantu anak untuk lebih mengerti tentang dunia sekelilingnya, yaitu dari yang berbeda menjadi kesatuan dalam suatu kelompok. Berdasarkan hal-hal di atas, penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelasnya sendiri melalui refleksi diri yang bertujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dengan melakukan hal ini diharapkan dapat mengatasi masalah rendahnya hasil observasi pengembangan kognitif.
D. PERUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Perumusan Masalah Bagaimana meningkatkan penguasaan materi terhadap Pengembangan Kognitif bidang mengelompokan bentuk-bentuk geometri.
2. Pemecahan masalah Hasil diskusi dengan teman sejawat, Kepala Sekolah, Kajian literatur rendahnya hasil observasi disebabkan kurang aktifnya siswa pada proses pembelajaran. Ada bebarapa kemungkinan alternatif tindakan, anatara lain : Melakukan kegiatan praktik, variasi model pembelajaran, penggunaan media pembelajaran. Dari berbagai alternatif pemecahan masalah tersebut,untuk mengatasi masalah di atas maka diputuskan untuk penggunaan model pembelajaran dengan bermain melalui media kalung bentuk geometri. Adapun langkah-langkah tindakan sebagai berikut : a. Kegiatan Pembelajaran 1) Untuk kerja 2) Tanya jawab 3) Demonstrasi b. Persiapan 1) Konsep baru 2) Penjelasan kemudian penyimpulan c. Pertanyaan anak d. Penyelidikan e. Refleksi
E. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum Meningkatkan kemampuan memahami materi pengembangan kognitif bidang mengelompokan bentuk-bentuk geometri 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan aktifitas, ketampilan memilih-memilh dan mengelompokan bentuk. b. Meningkatkan minat siswa mengikuti pembelajaran kognitif pada materi bentuk-bentuk geometri. c. Meningkatkan minat siswa untuk memanfaatkan alat peraga yang sudah disediakan.
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
1. Manfaat bagi Siswa a. Meningkatkan hasil evaluasi siswa b. Meningkatkan minat siswa serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran c. Meningkatkan ketuntasan pengembangan kognitif pada akhir semester 2. Manfaat bagi Guru a. Meningkatkan kinerja guru dalam KBM b. Meningkatkan rasa percaya diri dan mengembangkan pengetahuan c. Meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran 3. Manfaat bagi Sekolahan a. Sebagai pedoman sekolah dalam kebijaksanaan pendidikan b. Menambah koleksi perpustakaan c. Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan proses pembelajaran bagi semua aspek perkembangan.
G. KAJIAN PUSTAKA
1. Kerangka Berfikir Media pembelajaran kalung geometri merupakan media yang sangat cocok digunakan dalam pengembangan kognitif. Menurut Gagne,media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan anak yang dapat mendorong anak untuk belajar,media berasal dari bahasa latin yang artinya “antara”. Pengertian tersebut menggambarkan suatu perantara, dalam menyampaikan informasi dari suatu sumber kepada penerima. Dalam perjalanan waktu telah semakin banyak bukti bahwa hasil yang positif dalam belajar akan di dapat apabila media direncanakan dengan baik dalam penggunaan di kelas. Oleh karena itulah penelitian mencoba menghadirkan Kalung Bentuk Geometri melalui bermain sambil belajar yang di harapkan mampu mengembamgkan potensi anak secara optimal dan menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih optimal. Salah satu tujuan pendidikan kita adalah mengoptimalkan kemampuan anak dan membantu mwngembangkan kemampuan yang sempurna secara fisik,intelektual dan emosional. De orter (1992) dalam teorinya “Quantum Learning” mengungkapkan bahwa manusia sebagai individu memiliki potensi untuk perkembangan (potential to grow) hampir tidak terbatas. Oleh karena itu peneliti menganggap sangatlah cocok siswa menggunakan media Kalung Bentuk Geometri. Anak akan menggunakan daya pikirnya untuk mengenali ,memberi alasan rasional,mengatasi dan memahami kesempatan penting.
Pengembangan Kognitif/Matematika merupakan salah satu cara dalam melatih anak untuk berfikir dengan cara-cara yang logis dan sistematis. Ada beberapa hal yang dapat membantu perkembangan pemgetahuan dan keterampilan anak secara alami yaitu : 1. Lingkungan yang baik dan mendukung 2. Tersedianya bahan-bahan / alat untuk mendorong anak untuk melakukan kegiatan bermain Matematika. 3. Terbentuknya kesempatan untuk bermain dan bereksplorasi dengan bebas. 2. Hipotesa Tindakan Berdasarkan uraian pendapat di atas, serta merujuk kepada beberapa pendapat di atas, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berukut : Penggunaan media kalung bentuk-bentuk geometri akan dapat meningkatkan pemahaman anak/siswa terhadap bentuk-bentuk geometri pada aspek pengembangan kognitif. Penggunaan media kalung bentuk-bentuk geometri akan dapat mengaktifkan siswa dalam belajar sambil bermain. Media ini sangat cocok untuk anak usia dini, di mana pada masa ini anak gemar melakukan eksperimen untuk memenuhi rasa ingin tahunnya. Mereka merasa nyaman melakukan kegiatan memanipulasi objek konkret (seperti kategorisasi, mengukur, mengurutkan, mengelompokan) menemukan hubungan sebab akibat, tanpa harus merasa dipaksakan.
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENILITIAN
1. Seting penelitian a. Waktu Penelitian : 8- 11 Nopember 2010 b. Lama Penelitian : 4 Hari c. Tempat Penelitian : PAUD Setya Rini I Gembongan 2. Subyek penelitian : Kelompok Umur 3-4 Tahun 3. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan 2 siklus : a. Siklus I 1. Perencanaan a. Menyusun RPP b. Membuat Alat Peraga c. Menyusun Instrumen Penelitian / Soal d. Menyusun lembar observasi dan angket 2. Pelaksanaan Tindakan (Skenario Pembelajaran) a. Kegiatan Awal 1. Permainan motorik kasar 2. Berdoa, salam 3. Berbagi cerita 4. Tanya jawab, siapa tahu ini bentuk apa? b. Kegiatan Inti a. Story telling, bercakap-cakap tentang materi bentuk-bentuk geometri b. Siswa/anak berdiskusi tentang bermacam-macam bentuk geometri c. Pemberian tugas mengelompokan bentuk geometri d. Bersama-sama antara guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran c. Kegiatan Penutup a. Recalling, membahas kegiatan belajar sehari b. Guru memberi tindak lanjut 3. Observasi a. Lembar Pengamatan b. Nilai Tugas c. Hasil Evaluasi 4. Refleksi a. membahas apa yang terjadi pada pembelajaran b. Mencari yang sudah berhasil dicapai dan yang belum dicapai c. Merencanakan tindak lanjut / membuat rencana perbaikan berikutnya / Siklus Kedua b. Siklus II 1. Perencanaan a. Menyusun RPP b. Membuat Alat Peraga c. Menyusun Instrumen Penelitian / Soal d. Menyusun lembar observasi dan angket 2. Pelaksanaan Tindakan (Skenario Pembelajaran) a. Kegiatan Awal 1. Permainan motorik kasar 2. Berdoa, salam 3. Berbagi cerita 4. Menyampaikan tema dan tujuan pembelajaran b. Kegiatan Inti a. Story telling, bercakap-cakap tentang materi bentuk-bentuk geometri b. Tanya jawab tentang bentuk-bentuk geometri c. Pemberian tugas mengelompokan bentuk geometri c. Kegiatan Penutup a. Recalling, membahas kegiatan belajar sehari b. Pemberian reward/penghargaan bagi anak yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik. 3. Observasi a. Lembar pengamatan b. Hasil Evaluasi 4. Refleksi Bersama teman sejawat, Kepala Sekolah dan Penilik Sekolah melaksanakan Refleksi, sebagai berikut : a. Membahas apa yang terjadi pada pembelajaran b. Membahas tentang keberhasilan pembelajaran
I. JADWAL PENELITIAN NO RENCANA KEGIATAN WAKTU (HARI KE) 1 2 3 4 A Persiapan 1. Penyusuna Proposal 2. Menyusun Instrumen Simulasi RPP √ √ √ B Pelaksanaan 1. Menyiapkan Sarana / Alat 2. Tindakan Siklus I 3. Tindakan Siklus II √ √ √ √ C Menyusun Laporan 1. Menyusun Laporan 2. Seminar hasil Penelitian 3. Perbaikan dan penggandaan √ √ √ √
J. BIAYA PENELITIAN – Menyusun Program : Rp. 200.000,- – Membuat Alat Peraga : Rp. 600.000,- – Membuat LKA : Rp. 100.000,- – Menyusun Instrumen : Rp. 250.000,- – Menyusun Tindakan : Rp. 1.000.000,- – Melakukan Tindakan : Rp. 300.000,- – Membuat Hasil Penelitian : Rp. 450.000,- – Penggandaan Laporan : Rp. 50.000,- – Bimbingan : Rp. 200.000,- Jumlah : Rp. 3.150.000,-
K. PERSONALIA PENELITIAN 1. Ketua a. Nama Lengkap : SURANI b. NIM : 816354663 c. Pangkat/Golongan : – d. Unit Kerja : PAUD Kelompok bermain Setyo Rini I Gembongan 2. Anggota a. Nama Lengkap : Misnem b. Pangkat / Gol Ruang : – c. Unit Kerja : PAUD Kelompok bermain Setyo Rini I Gembongan L. DAFTAR PUSTAKA – Psikologi perkembangan anak, Rini Hildayani dkk, 2007 – Metode pengembangan Kognitif, Yyuliani Nurani Sujiono dkk, 2007 M. LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian 2. Surat Keterangan Ketua Lemlit.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………….
(untuk data (PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK PAUD / TK) yang terposting ini merupakan data di tempat rental komputer temen saya, hak copy dari pemilik rental untuk tujuan kemaslahatan bersama)