PTK MATEMATIKA SMP SEDRAJAT
JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
A.
Latar Belakang
Berdasarkan
Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional disebutkan
bahwa tujuan pendidikakan nasional adalah untuk berkembangnya potensi siswa
agar menjadi manusia yang beriman betaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan nasional tersebut sangat relevan dengan kondisi dalam era
globalisasi saat ini.Dimana suasana kehidupan menjadi semakin rumit, cepat
berubah dan sulit diprediksi.Kondisi ini membwa dampak pesaingan yang sangat
ketat untuk mendapatkan kehidupan yang layak, siapa yang memiliki keunggulan
kompetitif dia yang mendapatkan kemudahan hidup.
Masalah pendidikan yang utama di Indonesia sangat rendahnya mutu pada
setiap jenjang pendidikan. Setelah dilakukan perbaikan dalam bidang pendidikan,
semakin disadari bahwa semakin banyak kekurangan-kekurangan tersebut adalah
terletak pada inti kegiatan pendidikan itu sendiri yaitu proses belajar
mengajar yang melibatkan anak didik dan pendidik, salah satu contoh yaitu
penggunaan satu metode mengajar.
Menurut Djamarah tahun 2005, penggunaan satu metode, lebih cenderung
menghasilkan kegitan hasil belajar mengajar yang membosankan bagi siswa, jalan
pengajaran pun tampak kaku siswa kurang bergaiah belajar, kejenuhan dan
kemalasan menyelimuti kegiatan belajar siswa.
Salah satu metode yang biasa digunakan adalah metode ceramah, metode
ceramah adalah metode yang boleh dikatakan konvensional, karena sejak dulu
metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan
siswa.Dalam penerapannya, proses belajar mengajar lebih berpusat pada
guru, siswa hanya mendengarkan, menulis dan menghafalkan materi yang diajarkan
dan mengajarkan soal secara individu ditempat masing-masing.
Dewasa ini telah banyak
dikembangkan model pembelajaran, seperti model pembelajaran kooperatif dan
model diskusi kelas. Menurut Ibrahim, dkk (2000) suatu model pembelajaran
ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur
penghargaan. Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif dan model
pembelajaran diskusi.
Menurut
Nur (1996), terkait dengan tuntutan dan
tantangan kehidupan masa depan untuk menerapkan dan mengembangkan wawasan
kekeluargaan dan kebersamaan, keunggulan, yakni suatu wawasan
yang akan menumbuhkan etos kerja yang maksimal, kemauan untuk mencapai prestasi
tertinggi, sikap kritis, keimanan dan ketakwaan, keahlian dan profesional,
karya dan cipta, kemandirian dan kewirausahaan, maka sangat tepat bila
pembelajaran di kelas semakin menekankan dan membutuhkan siswa aktif terutama pengajaran pada Sekolah
Menengah Pertama (SMP).
Banyak penelitian menunjukkan
bahwa dalam latar kooperatif, siswa lebih banyak belajar dari temannya sendiri
sesama siswa daripada belajar dari guru.Metode pembelajaran memanfaatkan
kecenderungan siswa untuk berinteraksi sesama temannya. Hasil penelitiannya
juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang sangat
positif bagi siswa yang rendah hasil belajar, suasana belajar kooperatif juga
mampu menghasilkan prestasi yang tinggi, hubungan yang lebih positif dan
penyesuaian psikologi yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh
dengan persaingan dan memisah memisahkan siswa (Anita Lie, 2002).
Hal inilah yang terjadi di SMP Negeri 1 Kayangan, informasi yang dipeoleh
dari hasil wawancara peneliti denga guru matematika Kelas VII.4, dengan
penggunaan metode ceramah sebagian besar siswa sering mengalami kesulitan dalam
memahami materi yang diajakan, mereka merasa pelajaran matematika adalah
pelajaran yang sulit. Disamping itu aktifitas siswa selama proses belajar
mengajar juga masih sangat kurang sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa
menjadi rendah. Sebagai gambaran situasi tersebut, berikut ini diuraiakan
tentang perolehan nilai ulangan harian siswa kelas VII.4 semester I tahun
pelajaran 2012/2013 dapat dilihat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1 Tabel nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaan matematika
semester I kelas VII SMP Negeri 1 Kayangan tahun pelajaran 2012/2013.
No
|
Ulangan
Harian
|
Nilai
Rata-rata
|
1
|
Bilangan
bulat
|
5,62
|
2
|
Pecahan
|
4,17
|
3
|
Operasi
hitung aljabar
|
5,43
|
4
|
Persamaan
linear 1 variabel dan pertidaksamaan linear 1 variabel
|
5,23
|
Dari data diatas diketahui bahwa nilai rata-rata ulangan harian matematika
pada pokok bahasan pecahan masih sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan
pemilihan model pembelajaran yang tepat. Siswa SMP Negeri 1 Kayangan pada
umumnya belum memiliki interaksi yang besifat kooperatif artinya belum belajar
secara besama dalam suatu kelompok, dimana siswa masih belajar secara
individualistis tanpa ada saling tukar fikiran, contoh nampak dari siswa yang
pintar atau siswa yang mempunyai kemampuan lebih setelah mereka memperoleh
pengajaran dari guru dan memahami konsep yang diberikan, mereka tidak mau
membimbing dan mengajarkan temannya yang kurang memahami konsep sehingga siswa
yang kurang atau minim pengetahuannya tetap tidak ada perkembangan.
Perbedaan ini perlu ditekan sekecil mungkin supaya tidak menimbulkan efek
psikologi bagi siswa untuk diperlukan suatu sarana berupa model pembelajaran
yang mampu membuat terjalinnya kerjasama diantara siswa yaitu salah satu
pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Team Achievemen Division).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan hasil belajar materi pokok Aritmatika sosial pada siswa kelas
VII.4 SMP Negeri 1 Kayangan Tahun Pelajaran 2012/2013.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan
hasil belajar siswa materi pokok Aritmatika sosial melalui pembelajaran
kooperatf tipe STAD (Student Team Achievemen Division).
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievemen
Division).Dalam meningkatkan hasil belajar materi pokok Aritmatika sosial pada
siswa kelas VII.4 SMP Negeri 1 Kayangan Tahun Pelajaran 2012/2013.
Secara umum penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
v
Siswa
Dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran
matematika khususnya dalam materi pokok Aritmatika sosial standar kompetensi
dapat dituntaskan oleh siswa secara optimal.
v
Guru
Sebagai salah satu pedoman bagi guru dalam memilih metode pembelajaran
khususnya dalam materi pokok Aritmatika sosial
v
Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperkaya
khasanah ilmu pengetahuan, pengembangan strategi pembelajaran dan dapat menjadi
alternatif dalam mengatasi masalah pembelajaran terutama mata pelajaran
Matematika materi pokok Aritmatika sosial pada siswa kelas VII.SMP Negeri 1
Kayangan.
a.
Definisi Istilah
1.
Model Kooperatif
Model
Kooperatif adalah model pembelajaran dengan sejumlah siswa sebagai anggota
kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.
2.
Tipe STAD
STAD
(Student Team Achievement Division) yaitu menekankan pada kerja sama untuk
mengembangkan keterampilan penalaran dan fisik seseorang untuk membangun suatu
gagasan atau pengetahuan baru / meningkatkan pengetahuan yang sudah terbentuk untuk
mencapai tujuan bersama.
3.
Hasil Belajar
Hasil belajar juga
merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar.
Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa
motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa
rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya
usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar Seseorang dapat
dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu
perubahan, akan tetapi tidak semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar
merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari
proses belajar, maka didapat hasil belajar.
BAB II . KAJIAN
PUSTAKA
A. Hakekat Matematika
Sampai
saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara para matematikawan, apa yang
disebut matematika itu. Sasaran penelaahan matematika tidaklah konkrit, tetapi
abstrak. Dengan mengetahui sasaran penelaahan matematika, kita dapat mengetahui
hakekat matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berpikir
matematika itu. Kalau kita telaah, matematika itu tidak hanya berhubungan
dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya, melainkan unsur ruang
sebagai sasarannya. Kalau pengertian bilangan dan ruang ini dicakup menjadi
satu istilah yang disebut kuantitas, maka nampaknya matematika dapat
didefinisikan sebagai ilmu yang mengenai kuantitas. Tetapi bagaimana halnya
dengan geometri proyeksi yang lebih mementingkan tentang kedudukan dari pada
kuantitas? Terlebih lagi sejak permulaan abad 19, matematika berkembang yang
sasarannya ditujukan ke hubungan, pola, bentuk, dan struktur (Hudojo. H,
1988:2).
Misalnya
saja satu potong garis, ini tidak memberikan pengertian apa-apa. Potongan garis
itu barulah berarti bila ada garis lain yang diletakkan didekatnya untuk diliat
sebagai kemungkinan yang ada, misalnya perbandingan yang panjang. Hubungan yang
ada dalam matematika memang bertalian erat dengan kehidupan sehari-hari
misalnya saja tentang kesamaan, lebih besar dan kecil. Hubungan-hubungan itu
kemudian diolah secara logic-deduktif. Karena itu dapat dikatakan bahwa
matematika itu sama saja dengan hubungan-hubungan yang bebas dari isi
materialnya hal-hal yang ditelaah. Yang dimaksud pola adalah suatu sistem
mengenai hubungan-hubungan di antara perwujudan alamiah. Perwujudan alamiah
yang nampak rumit, sering kali dengan abstraksi di dalam pikiran, biasanya
dapat diketemukan pola. Dengan demikian menjadi tugas matematikalah untuk
menemukan hubungan-hubungan di dalam alam ini dan menganalisis pola-polanya
sehingga pola-pola itu dapat dikenal bila muncul. Dari tinjauan ini, matematika
merupakan penggolongan dan penalaahan tentang semua pola. Ini berarti
penggolonga dan penelaahan itu mencakup
hampir setiap macam keteraturan yang dapat dikenal pikiran (Hudojo. H,
1988:2-3).
Analisis
hubungan-hubungan teori dalam matematika merupakan pembuktian dalam matematika
berbentuk rumus (teorema, dalil) matematika. Karena itu bentuk suatu rumus
matematika lebih penting dari simbul-simbul yang dipergunakan. Penelaahan
bentuk dalam matematika membawa matematika itu ke struktur-struktur. Jadi
matematika itu dapat pula didefinisikan sebagai penelaahan tentang
struktur-struktur itu. Penelaahan terhadap struktur inilah yang merupakan ciri
matematika yang berkembang sampai saat ini. Sasaran matematika lebih dititik
beratkan ke struktur sebab sasaran terhadap bilangan dan ruang tidak banyak
artinya lagi dalam matematika. Kenyataan yang lebih utama ialah
hubungan-hubungan antara sasaran-sasaran itu dan aturan-aturan yang menetapkan
langkah-langkah operasinya.
Matematika
sebagai ilmu mengenal struktur dan hubungan-hubungannya, simbul-simbul
diperlukan. Simbul-simbul itu penting untuk membantu memanipulasi aturan-aturan
dengan operasi yang ditetapkan. Simbulisasi menjamin adanya komunikasi dan
mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru
terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya sehingga
matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hirarkis. Simbulisasi itu
barulah berarti bila suatu simbul itu dilandasi suatu ide. Jadi kita harus
memahami ide yang terkandung dalam symbul tersebut. Dengan perkataan lain, ide
harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut disimbulkan. Secara singkat
dikatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep
abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Hudojo. H,
1988:3).
Pada
dasarnya apabila dikatakan mengajar,
tentu ada subjek yang diberi palajaran,yaitu peserta didik dan ada subyek yang
mengajar yaitu pengajar. Pengajar disini dapat saja tidak langsung berhadapan
muka dengan yang diberi pelajaran, misalnya melalui media seperti buku teks, modul dan lain-lain. Dari uraian ini
tersirat bahwa mengajar itu adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta
didik. Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat
dipahami peserta didik. Karena itu, mengajar yang baik itu jika hasil belajar peserta
didik baik. Pernyataan ini dapat dipenuhi, bila pengajar mampu memberikan
fasilitas belajar yang baik sehingga dapat terjadi proses belajar yang baik
(Hudojo. H, 1988:5).
Apabila
terjadinya proses belajar matematika itu baik, dapat diharapkan hasil belajar
peserta didik akan baik pula. Dengan proses belajar matematika yang baik,
subyek yang belajar akan dapat memahami matematika dengan baik pula dan ia
dengan mudah mempelajari matematika
selanjutnya serta dengan mudah pula mengaplikasikannya kesituasi baru,
yaitu dapat menyelesaikan masalah baik dalam matematika itu sendiri maupun ilmu
lainnya atau dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian tersebut di atas,
terlihat pula bahwa mengajar itu suatu kegiatan yang melibatkan pengajar dan
peserta didik. Peserta didik diharapkan
belajar karena adanya intervensi pengajar. Dengan intervensi ini, diharapkan
peserta didik menjadi terbiasa belajar sehingga ia mempunyai kebiasaan belajar
(Hudojo. H, 1988:5).
Matematika
timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran.
Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan
sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana
masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam
menyelesaikan maslah.
Sehubungan dengan hal di atas Hudoyo (1988:3).
Sehubungan dengan hal di atas Hudoyo (1988:3).
B. Hakekat
Belajar
Hilgrad (Dimyati
dan Mujiono, 1994:9) mengatakan belajar adalah proses melahirkan atau
mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan, yang dibedakan dalam
perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak termasuk latihan, misalnya
perubahan karena mabuk atau minum ganja bukan termasuk belajar. Sedangkan
Skiner (Dimyati dan Mujiono, 1994:9) berpandangan bahwa belajar adalah
suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik.
Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.jadi disini
siswa dikatakan telah mengalami kegiatan belajar jika prilakunya, baik aspek
kognitif, afektif, maupun psikomotornya telah mengalami perubahan menuju arah
yang lebih baik.
Belajar adalah modifikasi
atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar
merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.
Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni
mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan
perubahan Kelakuan. (Oemar Hamalik, 2005:36). Pendapat lain mengatakan “Belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003:2).
Selanjutnya menurut
Sardiman (2003:20-21) belajar dapat dilihat dalam arti luas maupun sempit atau khusus.
Dalam pengertian luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik
menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar
dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan
sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
Selain ahli di atas ada
juga beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang belajar dan
pembelajaran yaitu:
1)
Menurut Skinner
Belajar adalah suatu
perilaku. Pada saat belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya jika
tidak maka responnya akan menurun. Sehingga oleh Skinner dalam belajar
ditemukan adanya hal sebagai berikut:
-
Kesempatan terjadinya yang
menimbulkan respon belajar.
-
Respon si pembelajar
-
Konsekuensi yang bersifat
menguatkan respon tersebut.
Dalam menerapkan teori
Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting: pertama pilihan
stimulus, kedua penggunaan penguatan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan
suasana pembelajaran yang tepat sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
berdasarkan kondisi operan. Adapun langkah-langkah pembelajaran berdasarkan
kondisioning operan tersebut adalah:
-
Mempelajari keadaan Kelas.
-
Membuat daftar penguat
positif.
-
Memilih dan menentukan
ukuran tingkah laku yang dipelajari dan jenis penguatnya.
-
Membuat program pembelajaran.
2)
Menurut Gagne
Belajar adalah kegiatan
yang kompleks dan terdiri dari tiga komponen penting yaitu: kondisi eksternal,
kondisi internal dan hasil belajar. Sehingga belajar merupakan interaksi antara
keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dan lingkungannya.
Proses koginitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang berupa
informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap dan siasat
kognitif. Dan kelima hasil tersebut merupakan kapabilitas.
3)
Menurut Piaget
Pieget berpendapat bahwa
pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi
terus-menerus dengan lingkungan. Pieget juga menyarankan guru harus
memperhatikan empat langkah pembelajaran yaitu:
-
Menentukan topik.
-
Memilih dan mengembangkan
aktivitas kelas dengan topik tersebut.
-
Mengetahui adanya
kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses
pemecahan masalah.
-
Menilai pelaksanaan tiap
kegiatan, memperhatiakn keberhasilan dan melakukan revisi.
4)
Menurut Rogers
Menurut pendapatnya,
praktek pendidikan menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang
belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya
menghafalkan pelajaran. Dengan melihat hal tersebut Rogers mengemukakan pentingnya
guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Prinsip pendidikan dan
pembelajaran sebagai berikut:
-
Menjadi manusia berarti
memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
-
Siswa akan mempelajari
hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
-
Pengorganisasian bahan
pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bahan yang
bermakna bagi siswa.
-
Belajar yang bermakna
dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar,
keterburukan belajar mengalami sesuatu, bekerjasama dengan malakukan perubahan
diri terus-menerus.
-
Belajar yang optimal akan
terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses
belajar.
-
Belajar mengalami
(eskperimental learning) dapat terjadi,
bila siswa mengevaluasi diri.
-
Belajar mengalami tuntutan
keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
(Dimyati dan Moedjiono,
2002:7-16)
Dari uraian di atas
berarti belajar adalah suatu proses atau serangkaian kegiatan jiwa-raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu
dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut unsur cipta, rasa, dan
karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
C. Hasil
Belajar
Hasil
belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah
mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang
diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar adalah
terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan
untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan
motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh
siswa untuk mencapai tujuan belajar Seseorang dapat dikatakan telah belajar
sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan tetapi tidak
semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian tujuan
belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat
hasil belajar.
Menurut
Slavin, pembelajaran kooperatif mengubah norma budaya dan membuat norma budaya lebih dapat
menerima prestasi sehingga dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok
bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelsaiakan tugas-tugas akademik
Hasil
belajar adalah seperangkat pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan tindakan
(psikomotorik) yang
diperoleh siswa setelah melewati tahapan pembelajaran tertentu. Hasil belajar
tersebut diwujudkan dari perubahan tingkah laku, sikap belajar dan pemahaman
siswa. Indikator pencapaian hasil belajar tersebut tertuang dalam laporan dalam
hasil belajar siswa. Sesuai dengan konsep KTSP bahwa hasil belajar siswa
ditunjukan dengan kemampuan siswa menguasai standar kompetensi dengan indikator
KKM yang telah ditetapkan .
D. Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin Robert dan
teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin. Metode ini dipandang sebagai yang
paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran koopertaif.
Model ini mengacu kepada belajar kelompok. Anggota team menggunakan lembar
kegiatan atau pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya.
Kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran dan
memecahkan masalah melalui diskusi.
Masing-masing
kelompok beranggotakan 4-5 orang, dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri
dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kamapuan
tinggi, sedang, dan rendah. Salah satu tujuan mengapa anggota kelompok dibentuk
dari siswa yang memiliki kemampuan heterogen yaitu agar siswa dapat saling
berbagi (sharing) dan saling
melengkapi.
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu: Penyajian kelas,
kegiatan kelompok, kuis, skor kemajuan (perkembangan) individu, dan penghargaan
kelompok. Siklus pembelajaran yang teratur dari STAD yaitu:
a.
Penyajian
kelas
Guru
menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian kelas
tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan pembimbing.
b.
Kegiatan
kelompok
Siswa
mendiskusikan lembar kerja yang diberikan dan diharapkan saling membantu sesama
anggota kelompok untuk memahami bahan pelajaran dan menyelesaikan permasalahan
yang diberikan.
Guru
perlu mengingatkan siswa dalam kegiatan kelompok untuk memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Masing-masing
siswa itu sendiri mempunyai tanggung jawab untuk memastikan teman kelompoknya
yang telah mempelajari materi.
2. Tidak
seorangpun siswa selesai belajar sebelum anggota kelompoknya menguasai materi
pelajaran.
3. Meminta
bantuan kepada teman satu kelompok sebelum meminta bantuan pada guru.
c.
Kuis (Quiz)
Kuis
adalah tes dalam bentuk essay yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan
untuk mengetahui keberhasilan siswa belajar kelompok. Hasil tes digunakan
sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan
dan keberhasilan kelompok.
d.
Skor
kemajuan (perkembangan) individu
Skor
kemajuan individu ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi
berdasarkan pada seberapa jauh skor kuis terkini melampui rata-rata skor siswa
yang lalu.
e.
Penghargaan
kelompok
Penghargaan
kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini
diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan (perkembangan)
kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing anggota
kelompok kemudian dibagi dengan jumlah anggota dalam kelompok sehingga
diperoleh skor rata-rata kelompok. Dalam memberikan penghargaan kelompok
terdapat tingkatan yaitu: kelompok super (super
team), kelompok hebat (great team),
dan kelompok baik (good team).
“Penghargaan
yang diterima akan mempengaruhi konsep diri siswa secara positif yang
meningkatkan keyakinan diri siswa” (Slameto, 2003).
f.
Langkah-langkah
secara umum proses pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:
1. Tahap pendahuluan
Guru
memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan mereka pelajari,
tujuan pembelajaran, dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi.
a.
Guru membentuk siswa kedalam kelompok yang sudah
direncanakan.
b.
Mensosialisasikan kepada siswa tentang model
pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan
memahaminya.
c.
Guru memberikan persepsi yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari.
2. Tahap
Pengembangan
a. Guru
mendemonstrasikan konsep atau keterampilan secara efektif dengan menggunakan
alat bantu atau manipulatif lain.
b. Guru
membagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi kepada masing-masing
kelompok.
c. Siswa
memberikan kesempatan untuk mendiskusikan LKS bersama kelompoknya.
d. Guru
memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
3. Tahap
penerapan
a. Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam
LKS dengan waktu yang ditentukan, siswa diharapkan bekerja secara individu
tetapi tidak menutup kemungkinan mereka saling bertukar pikiran dengan anggota
lainnya.
b. Setelah
siswa selesai mengerjakan soal, lembar jawaban dikumpulkan untuk dinilai.
c. Guru dan
siswa membahas soal-soal LKS.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar