Senin, 05 Juni 2017

PTK MATEMATIKA SMP SEDRAJAT

PTK MATEMATIKA SMP SEDRAJAT

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK


HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
 

 

 
A.    Latar Belakang
                          Berdasarkan Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikakan nasional adalah untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman betaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan nasional tersebut sangat relevan dengan kondisi dalam era globalisasi saat ini.Dimana suasana kehidupan menjadi semakin rumit, cepat berubah dan sulit diprediksi.Kondisi ini membwa dampak pesaingan yang sangat ketat untuk mendapatkan kehidupan yang layak, siapa yang memiliki keunggulan kompetitif dia yang mendapatkan kemudahan hidup.
Masalah pendidikan yang utama di Indonesia sangat rendahnya mutu pada setiap jenjang pendidikan. Setelah dilakukan perbaikan dalam bidang pendidikan, semakin disadari bahwa semakin banyak kekurangan-kekurangan tersebut adalah terletak pada inti kegiatan pendidikan itu sendiri yaitu proses belajar mengajar yang melibatkan anak didik dan pendidik, salah satu contoh yaitu penggunaan satu metode mengajar.
Menurut Djamarah tahun 2005, penggunaan satu metode, lebih cenderung menghasilkan kegitan hasil belajar mengajar yang membosankan bagi siswa, jalan pengajaran pun tampak kaku siswa kurang bergaiah belajar, kejenuhan dan kemalasan menyelimuti kegiatan belajar siswa.
Salah satu metode yang biasa digunakan adalah metode ceramah, metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan konvensional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa.Dalam penerapannya, proses belajar mengajar lebih berpusat pada guru, siswa hanya mendengarkan, menulis dan menghafalkan materi yang diajarkan dan mengajarkan soal secara individu ditempat masing-masing.
Dewasa ini telah banyak dikembangkan model pembelajaran, seperti model pembelajaran kooperatif dan model diskusi kelas. Menurut Ibrahim, dkk (2000) suatu model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan. Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif dan model pembelajaran diskusi.
Menurut Nur (1996),  terkait dengan tuntutan dan tantangan kehidupan masa depan untuk menerapkan dan mengembangkan wawasan kekeluargaan dan kebersamaan, keunggulan, yakni suatu wawasan yang akan menumbuhkan etos kerja yang maksimal, kemauan untuk mencapai prestasi tertinggi, sikap kritis, keimanan dan ketakwaan, keahlian dan profesional, karya dan cipta, kemandirian dan kewirausahaan, maka sangat tepat bila pembelajaran di kelas semakin menekankan dan membutuhkan  siswa aktif terutama pengajaran pada Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Banyak penelitian menunjukkan bahwa dalam latar kooperatif, siswa lebih banyak belajar dari temannya sendiri sesama siswa daripada belajar dari guru.Metode pembelajaran memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi sesama temannya. Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang sangat positif bagi siswa yang rendah hasil belajar, suasana belajar kooperatif juga mampu menghasilkan prestasi yang tinggi, hubungan yang lebih positif dan penyesuaian psikologi yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah memisahkan siswa (Anita Lie, 2002).
Hal inilah yang terjadi di SMP Negeri 1 Kayangan, informasi yang dipeoleh dari hasil wawancara peneliti denga guru matematika Kelas VII.4, dengan penggunaan metode ceramah sebagian besar siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajakan, mereka merasa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit. Disamping itu aktifitas siswa selama proses belajar mengajar juga masih sangat kurang sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa menjadi rendah. Sebagai gambaran situasi tersebut, berikut ini diuraiakan tentang perolehan nilai ulangan harian siswa kelas VII.4 semester I tahun pelajaran 2012/2013 dapat dilihat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1 Tabel nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaan matematika semester I kelas VII SMP Negeri 1 Kayangan tahun pelajaran 2012/2013.
No
Ulangan Harian
Nilai Rata-rata
1
Bilangan bulat
5,62
2
Pecahan
4,17
3
Operasi hitung aljabar
5,43
4
Persamaan linear 1 variabel dan pertidaksamaan linear 1 variabel
5,23

Dari data diatas diketahui bahwa nilai rata-rata ulangan harian matematika pada pokok bahasan pecahan masih sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Siswa SMP Negeri 1 Kayangan pada umumnya belum memiliki interaksi yang besifat kooperatif artinya belum belajar secara besama dalam suatu kelompok, dimana siswa masih belajar secara individualistis tanpa ada saling tukar fikiran, contoh nampak dari siswa yang pintar atau siswa yang mempunyai kemampuan lebih setelah mereka memperoleh pengajaran dari guru dan memahami konsep yang diberikan, mereka tidak mau membimbing dan mengajarkan temannya yang kurang memahami konsep sehingga siswa yang kurang atau minim pengetahuannya tetap tidak ada perkembangan.
Perbedaan ini perlu ditekan sekecil mungkin supaya tidak menimbulkan efek psikologi bagi siswa untuk diperlukan suatu sarana berupa model pembelajaran yang mampu membuat terjalinnya kerjasama diantara siswa yaitu salah satu pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievemen Division).
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar  materi  pokok Aritmatika sosial pada siswa kelas VII.4 SMP Negeri 1 Kayangan Tahun Pelajaran 2012/2013.
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar  siswa materi pokok  Aritmatika sosial melalui pembelajaran kooperatf tipe STAD (Student Team Achievemen Division).
D.    Manfaat Penelitian 
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievemen Division).Dalam meningkatkan hasil belajar materi pokok Aritmatika sosial pada siswa kelas VII.4 SMP Negeri 1 Kayangan Tahun Pelajaran 2012/2013.

Secara umum penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
v  Siswa
Dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran matematika khususnya dalam materi pokok Aritmatika sosial standar kompetensi dapat dituntaskan oleh siswa secara optimal.
v  Guru
Sebagai salah satu pedoman bagi guru dalam memilih metode pembelajaran khususnya dalam materi pokok Aritmatika sosial
v  Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, pengembangan strategi pembelajaran dan dapat menjadi alternatif dalam mengatasi masalah pembelajaran terutama mata pelajaran Matematika materi pokok Aritmatika sosial pada siswa kelas VII.SMP Negeri 1 Kayangan.
a.        Definisi Istilah
1.        Model Kooperatif
Model Kooperatif adalah model pembelajaran dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.
2.        Tipe STAD
STAD (Student Team Achievement Division) yaitu menekankan pada kerja sama untuk mengembangkan keterampilan penalaran dan fisik seseorang untuk membangun suatu gagasan atau pengetahuan baru / meningkatkan pengetahuan yang sudah terbentuk untuk mencapai tujuan bersama.
3.        Hasil Belajar
Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan tetapi tidak semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat hasil belajar.

BAB II .  KAJIAN PUSTAKA

A.       Hakekat Matematika
Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara para matematikawan, apa yang disebut matematika itu. Sasaran penelaahan matematika tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Dengan mengetahui sasaran penelaahan matematika, kita dapat mengetahui hakekat matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berpikir matematika itu. Kalau kita telaah, matematika itu tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya, melainkan unsur ruang sebagai sasarannya. Kalau pengertian bilangan dan ruang ini dicakup menjadi satu istilah yang disebut kuantitas, maka nampaknya matematika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengenai kuantitas. Tetapi bagaimana halnya dengan geometri proyeksi yang lebih mementingkan tentang kedudukan dari pada kuantitas? Terlebih lagi sejak permulaan abad 19, matematika berkembang yang sasarannya ditujukan ke hubungan, pola, bentuk, dan struktur (Hudojo. H, 1988:2).
Misalnya saja satu potong garis, ini tidak memberikan pengertian apa-apa. Potongan garis itu barulah berarti bila ada garis lain yang diletakkan didekatnya untuk diliat sebagai kemungkinan yang ada, misalnya perbandingan yang panjang. Hubungan yang ada dalam matematika memang bertalian erat dengan kehidupan sehari-hari misalnya saja tentang kesamaan, lebih besar dan kecil. Hubungan-hubungan itu kemudian diolah secara logic-deduktif. Karena itu dapat dikatakan bahwa matematika itu sama saja dengan hubungan-hubungan yang bebas dari isi materialnya hal-hal yang ditelaah. Yang dimaksud pola adalah suatu sistem mengenai hubungan-hubungan di antara perwujudan alamiah. Perwujudan alamiah yang nampak rumit, sering kali dengan abstraksi di dalam pikiran, biasanya dapat diketemukan pola. Dengan demikian menjadi tugas matematikalah untuk menemukan hubungan-hubungan di dalam alam ini dan menganalisis pola-polanya sehingga pola-pola itu dapat dikenal bila muncul. Dari tinjauan ini, matematika merupakan penggolongan dan penalaahan tentang semua pola. Ini berarti penggolonga dan penelaahan itu mencakup  hampir setiap macam keteraturan yang dapat dikenal pikiran (Hudojo. H, 1988:2-3).
Analisis hubungan-hubungan teori dalam matematika merupakan pembuktian dalam matematika berbentuk rumus (teorema, dalil) matematika. Karena itu bentuk suatu rumus matematika lebih penting dari simbul-simbul yang dipergunakan. Penelaahan bentuk dalam matematika membawa matematika itu ke struktur-struktur. Jadi matematika itu dapat pula didefinisikan sebagai penelaahan tentang struktur-struktur itu. Penelaahan terhadap struktur inilah yang merupakan ciri matematika yang berkembang sampai saat ini. Sasaran matematika lebih dititik beratkan ke struktur sebab sasaran terhadap bilangan dan ruang tidak banyak artinya lagi dalam matematika. Kenyataan yang lebih utama ialah hubungan-hubungan antara sasaran-sasaran itu dan aturan-aturan yang menetapkan langkah-langkah operasinya.
Matematika sebagai ilmu mengenal struktur dan hubungan-hubungannya, simbul-simbul diperlukan. Simbul-simbul itu penting untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbulisasi menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hirarkis. Simbulisasi itu barulah berarti bila suatu simbul itu dilandasi suatu ide. Jadi kita harus memahami ide yang terkandung dalam symbul tersebut. Dengan perkataan lain, ide harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut disimbulkan. Secara singkat dikatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Hudojo. H, 1988:3).
Pada dasarnya  apabila dikatakan mengajar, tentu ada subjek yang diberi palajaran,yaitu peserta didik dan ada subyek yang mengajar yaitu pengajar. Pengajar disini dapat saja tidak langsung berhadapan muka dengan yang diberi pelajaran, misalnya melalui media seperti buku teks, modul dan lain-lain. Dari uraian ini tersirat bahwa mengajar itu adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami peserta didik. Karena itu, mengajar yang baik itu jika hasil belajar peserta didik baik. Pernyataan ini dapat dipenuhi, bila pengajar mampu memberikan fasilitas belajar yang baik sehingga dapat terjadi proses belajar yang baik (Hudojo. H, 1988:5).
Apabila terjadinya proses belajar matematika itu baik, dapat diharapkan hasil belajar peserta didik akan baik pula. Dengan proses belajar matematika yang baik, subyek yang belajar akan dapat memahami matematika dengan baik pula dan ia dengan mudah mempelajari matematika  selanjutnya serta dengan mudah pula mengaplikasikannya kesituasi baru, yaitu dapat menyelesaikan masalah baik dalam matematika itu sendiri maupun ilmu lainnya atau dalam kehidupan sehari-hari. Dari uraian tersebut di atas, terlihat pula bahwa mengajar itu suatu kegiatan yang melibatkan pengajar dan peserta didik. Peserta  didik diharapkan belajar karena adanya intervensi pengajar. Dengan intervensi ini, diharapkan peserta didik menjadi terbiasa belajar sehingga ia mempunyai kebiasaan belajar (Hudojo. H, 1988:5). 
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam menyelesaikan maslah.
Sehubungan dengan hal di atas
Hudoyo (1988:3).
B.       Hakekat Belajar
Hilgrad (Dimyati dan Mujiono, 1994:9) mengatakan belajar adalah proses melahirkan atau mengubah  suatu kegiatan melalui jalan latihan, yang dibedakan dalam perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak termasuk latihan, misalnya perubahan karena mabuk atau minum ganja bukan termasuk belajar.  Sedangkan Skiner (Dimyati dan Mujiono, 1994:9) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.jadi disini siswa dikatakan telah mengalami kegiatan belajar jika prilakunya, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotornya telah mengalami perubahan menuju arah yang lebih baik.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan Kelakuan. (Oemar Hamalik, 2005:36). Pendapat lain mengatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003:2).
Selanjutnya menurut Sardiman (2003:20-21) belajar dapat dilihat dalam arti luas maupun sempit atau khusus. Dalam pengertian luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
Selain ahli di atas ada juga beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang belajar dan pembelajaran yaitu:
1)         Menurut Skinner
Belajar adalah suatu perilaku. Pada saat belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya jika tidak maka responnya akan menurun. Sehingga oleh Skinner dalam belajar ditemukan adanya hal sebagai berikut:
-        Kesempatan terjadinya yang menimbulkan respon belajar.
-        Respon si pembelajar
-        Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam menerapkan teori Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting: pertama pilihan stimulus, kedua penggunaan penguatan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang tepat sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan kondisi operan. Adapun langkah-langkah pembelajaran berdasarkan kondisioning operan tersebut adalah:
-        Mempelajari keadaan Kelas.
-        Membuat daftar penguat positif.
-        Memilih dan menentukan ukuran tingkah laku yang dipelajari dan jenis penguatnya.
-        Membuat program pembelajaran.

2)         Menurut Gagne
Belajar adalah kegiatan yang kompleks dan terdiri dari tiga komponen penting yaitu: kondisi eksternal, kondisi internal dan hasil belajar. Sehingga belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dan lingkungannya. Proses koginitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang berupa informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap dan siasat kognitif. Dan kelima hasil tersebut merupakan kapabilitas.
3)         Menurut Piaget
Pieget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Pieget juga menyarankan guru harus memperhatikan empat langkah pembelajaran yaitu:
-    Menentukan topik.
-    Memilih dan mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut.
-    Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah.
-    Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatiakn keberhasilan dan melakukan revisi.
4)         Menurut Rogers
Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran. Dengan melihat hal tersebut Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Prinsip pendidikan dan pembelajaran sebagai berikut:
-    Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
-    Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
-    Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
-    Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterburukan belajar mengalami sesuatu, bekerjasama dengan malakukan perubahan diri terus-menerus.
-    Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
-    Belajar mengalami (eskperimental learning)  dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi diri.
-    Belajar mengalami tuntutan keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
(Dimyati dan Moedjiono, 2002:7-16)
Dari uraian di atas berarti belajar adalah suatu proses atau serangkaian kegiatan jiwa-raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
C.       Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan tetapi tidak semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat hasil belajar.
Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif mengubah norma budaya dan membuat norma budaya lebih dapat menerima prestasi sehingga dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama menyelsaiakan tugas-tugas akademik
Hasil belajar adalah seperangkat pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan tindakan (psikomotorik) yang diperoleh siswa setelah melewati tahapan pembelajaran tertentu. Hasil belajar tersebut diwujudkan dari perubahan tingkah laku, sikap belajar dan pemahaman siswa. Indikator pencapaian hasil belajar tersebut tertuang dalam laporan dalam hasil belajar siswa. Sesuai dengan konsep KTSP bahwa hasil belajar siswa ditunjukan dengan kemampuan siswa menguasai standar kompetensi dengan indikator KKM yang telah ditetapkan .
D.       Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin Robert dan teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin. Metode ini dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran koopertaif. Model ini mengacu kepada belajar kelompok. Anggota team menggunakan lembar kegiatan atau pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya. Kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran dan memecahkan masalah melalui diskusi.
Masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 orang, dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kamapuan tinggi, sedang, dan rendah. Salah satu tujuan mengapa anggota kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan heterogen yaitu agar siswa dapat saling berbagi (sharing) dan saling melengkapi.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu: Penyajian kelas, kegiatan kelompok, kuis, skor kemajuan (perkembangan) individu, dan penghargaan kelompok. Siklus pembelajaran yang teratur dari STAD yaitu:
a.          Penyajian kelas
Guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas. Penyajian kelas tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan pembimbing.
b.          Kegiatan kelompok
Siswa mendiskusikan lembar kerja yang diberikan dan diharapkan saling membantu sesama anggota kelompok untuk memahami bahan pelajaran dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Guru perlu mengingatkan siswa dalam kegiatan kelompok untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.     Masing-masing siswa itu sendiri mempunyai tanggung jawab untuk memastikan teman kelompoknya yang telah mempelajari materi.
2.     Tidak seorangpun siswa selesai belajar sebelum anggota kelompoknya menguasai materi pelajaran.
3.     Meminta bantuan kepada teman satu kelompok sebelum meminta bantuan pada guru.

c.          Kuis (Quiz)
Kuis adalah tes dalam bentuk essay yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa belajar kelompok. Hasil tes digunakan sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan dan keberhasilan kelompok.
d.          Skor kemajuan (perkembangan) individu
Skor kemajuan individu ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor kuis terkini melampui rata-rata skor siswa yang lalu.
e.          Penghargaan kelompok
Penghargaan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan (perkembangan) kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing anggota kelompok kemudian dibagi dengan jumlah anggota dalam kelompok sehingga diperoleh skor rata-rata kelompok. Dalam memberikan penghargaan kelompok terdapat tingkatan yaitu: kelompok super (super team), kelompok hebat (great team), dan kelompok baik (good team).
“Penghargaan yang diterima akan mempengaruhi konsep diri siswa secara positif yang meningkatkan keyakinan diri siswa” (Slameto, 2003).
f.           Langkah-langkah secara umum proses pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:
1.     Tahap pendahuluan
                        Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan mereka pelajari, tujuan pembelajaran, dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi.
a.          Guru membentuk siswa kedalam kelompok yang sudah direncanakan.
b.          Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan memahaminya.
c.          Guru memberikan persepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
2.     Tahap Pengembangan
a.      Guru mendemonstrasikan konsep atau keterampilan secara efektif dengan menggunakan alat bantu atau manipulatif lain.
b.     Guru membagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi kepada masing-masing kelompok.
c.      Siswa memberikan kesempatan untuk mendiskusikan LKS bersama kelompoknya.
d.     Guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membimbing   siswa yang mengalami kesulitan.
3.     Tahap penerapan
a.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS dengan waktu yang ditentukan, siswa diharapkan bekerja secara individu tetapi tidak menutup kemungkinan mereka saling bertukar pikiran dengan anggota lainnya.
b.     Setelah siswa selesai mengerjakan soal, lembar jawaban dikumpulkan untuk dinilai.
c.      Guru dan siswa membahas soal-soal LKS.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar