PTK MATEMATIKA KELAS IV SD
JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306
Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami DISINI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah Dalam kegiatan belajar mengajar banyak metode dan model yang biasa dipakai oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Mengingat karakter maupun jenis informasi yang dimiliki oleh setiap mata pelajaran itu tidak sama, maka tidak ada satu metode yang baik untuk semua mata pelajaran, demikian pula tidak ada satu metode yang buruk untuk semua mata pelajaran. Dengan demikian untuk memilih metode/model mana yang paling tepat dalam rangka meningkatkan minat dan hasil prestasi belajar untuk mata pelajaran Matematika diperlukan langkah-langkah yang tepat. Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya. Metodologi mengajar banyak ragamnya, dan sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat tercapai. Hasil pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo yang ditemukan pada Ulangan Harian sebelum penelitian ini dimulai, bahwa dari 27 siswa yang mendapat nilai ≥ 60 sebanyak 13 siswa atau sekitar 48 %. Rendahnya hasil belajar siswa ini merupakan masalah pembelajaran. Jalan terbaik mengatasinya adalah dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena PTK identik dengan pelaksanaan penelitian melalui langkah siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : Perencanaan (planning), Pelaksanaan (acting), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting) (Suharsini Arikunto, 2006). Dengan tahapan yang seperti ini diharapkan masalah-masalah pembelajaran dapat dicari solusinya. Adapun data nilai yang ditemukan tersebut sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1 : Data Nilai Hasil Ulangan Harian Kelas IV Mata Pelajaran Matematka (Pra Siklus) NO. NAMA SISWA NILAI 1 Adi Prasetyo 65 2 Ahmad Ali Imron 60 3 Muhammad Yusuf 50 4 Ahmad Sidik 43 5 Ahmad Suntoro 70 6 Anisa Fitri 62 7 Arif Santoso 66 8 Apriyadi Imora 35 9 Desi Wahyuningsih 46 10 Emi Marlina 55 11 Efendi 70 12 Krismonita 56 13 Lujatul Ngajaim 50 14 Nur Laila 52 15 Nur Rohman 75 16 Rizal Efendi 60 17 Susanto 67 18 Said Afansyah 35 19 Siti Nur Aini 37 20 Saeri 47 21 Ulfianto 63 22 Umi Sakdiyah 61 23 Uswatun Hasanah 45 24 Yuslihana 66 25 Yatin Winarti 55 26 Muhammad Heriyanto 55 27 Marlina 74 Jumlah 1499 Rata-rata 55,51 Sumber : Data Nilai Kelas Tabel 2 : Rentang Nilai Pra Siklus Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo Kecamatan Sukoharjo NO INTERVAL JUMLAH SISWA PROSENTASE 1 2 3 4 5 6 7 ≤ 40 41 – 50 51 – 60 61 – 70 71 – 80 81 – 90 91 – 100 3 6 7 9 2 0 0 11,11 % 22,22 % 25,92 % 33,33 % 7,40 % 0 0 Sumber : Data Nilai Kelas
A. Latar Belakang
Masalah Dalam kegiatan belajar mengajar banyak metode dan model yang biasa dipakai oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Mengingat karakter maupun jenis informasi yang dimiliki oleh setiap mata pelajaran itu tidak sama, maka tidak ada satu metode yang baik untuk semua mata pelajaran, demikian pula tidak ada satu metode yang buruk untuk semua mata pelajaran. Dengan demikian untuk memilih metode/model mana yang paling tepat dalam rangka meningkatkan minat dan hasil prestasi belajar untuk mata pelajaran Matematika diperlukan langkah-langkah yang tepat. Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya. Metodologi mengajar banyak ragamnya, dan sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat tercapai. Hasil pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo yang ditemukan pada Ulangan Harian sebelum penelitian ini dimulai, bahwa dari 27 siswa yang mendapat nilai ≥ 60 sebanyak 13 siswa atau sekitar 48 %. Rendahnya hasil belajar siswa ini merupakan masalah pembelajaran. Jalan terbaik mengatasinya adalah dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena PTK identik dengan pelaksanaan penelitian melalui langkah siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : Perencanaan (planning), Pelaksanaan (acting), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting) (Suharsini Arikunto, 2006). Dengan tahapan yang seperti ini diharapkan masalah-masalah pembelajaran dapat dicari solusinya. Adapun data nilai yang ditemukan tersebut sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 1 : Data Nilai Hasil Ulangan Harian Kelas IV Mata Pelajaran Matematka (Pra Siklus) NO. NAMA SISWA NILAI 1 Adi Prasetyo 65 2 Ahmad Ali Imron 60 3 Muhammad Yusuf 50 4 Ahmad Sidik 43 5 Ahmad Suntoro 70 6 Anisa Fitri 62 7 Arif Santoso 66 8 Apriyadi Imora 35 9 Desi Wahyuningsih 46 10 Emi Marlina 55 11 Efendi 70 12 Krismonita 56 13 Lujatul Ngajaim 50 14 Nur Laila 52 15 Nur Rohman 75 16 Rizal Efendi 60 17 Susanto 67 18 Said Afansyah 35 19 Siti Nur Aini 37 20 Saeri 47 21 Ulfianto 63 22 Umi Sakdiyah 61 23 Uswatun Hasanah 45 24 Yuslihana 66 25 Yatin Winarti 55 26 Muhammad Heriyanto 55 27 Marlina 74 Jumlah 1499 Rata-rata 55,51 Sumber : Data Nilai Kelas Tabel 2 : Rentang Nilai Pra Siklus Mata Pelajaran Matematika Kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo Kecamatan Sukoharjo NO INTERVAL JUMLAH SISWA PROSENTASE 1 2 3 4 5 6 7 ≤ 40 41 – 50 51 – 60 61 – 70 71 – 80 81 – 90 91 – 100 3 6 7 9 2 0 0 11,11 % 22,22 % 25,92 % 33,33 % 7,40 % 0 0 Sumber : Data Nilai Kelas
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian perbaikan ini sebagai berikut : 1. Bagaimanakah implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010?
2. Bagaimanakah meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010?
Rumusan masalah dalam penelitian perbaikan ini sebagai berikut : 1. Bagaimanakah implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010?
2. Bagaimanakah meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010?
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010
2. Mengetahui minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010
1. Mendeskripsikan implementasi Model Pembelajaran Cooperative Learning dalam pembelajaran Matematika di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010
2. Mengetahui minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning di SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Suatu penelitian tentunya diharapkan mempunyai kegunaan atau manfaat bagi berbagai pihak, antara lain:
1. Bagi Guru
Membantu guru dalam usaha menemukan bentuk pembelajaran dan sebagai bahan masukan untuk mengetahui bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Learning merupakan salah satu bentuk upaya dalam kegiatan pembelajaran yang memngkinkan dapat menambah atau meningkatkan minat belajar siswa.
2. Bagi Lembaga yang Diteliti
Penelitian dapat dijadikan sebagai tolak ukur serta inovasi dalam pengelolaan Pendidikan di sekolah, serta sebagai motivasi untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan di sekolah, selain itu juga sebagai suatu usaha dalam rangka mencapai tujuan kurikulum seperti yang telah dirumuskan dalam kurikulum sekolah.
3. Bagi Siswa
Memotivasi siswa yang dimungkinkan dapat mendorong penigkatan aktivitas dan hasil belajar.
Suatu penelitian tentunya diharapkan mempunyai kegunaan atau manfaat bagi berbagai pihak, antara lain:
1. Bagi Guru
Membantu guru dalam usaha menemukan bentuk pembelajaran dan sebagai bahan masukan untuk mengetahui bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Learning merupakan salah satu bentuk upaya dalam kegiatan pembelajaran yang memngkinkan dapat menambah atau meningkatkan minat belajar siswa.
2. Bagi Lembaga yang Diteliti
Penelitian dapat dijadikan sebagai tolak ukur serta inovasi dalam pengelolaan Pendidikan di sekolah, serta sebagai motivasi untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan di sekolah, selain itu juga sebagai suatu usaha dalam rangka mencapai tujuan kurikulum seperti yang telah dirumuskan dalam kurikulum sekolah.
3. Bagi Siswa
Memotivasi siswa yang dimungkinkan dapat mendorong penigkatan aktivitas dan hasil belajar.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Minat Belajar John G. Nunally mendefinisikan minat sebagai stated preference of activities. Soegarda mendefinisikannya sebagai kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar. Menurut Slameto, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat yang ada. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan jika mereka bebas memilih apa yang mereka kehendaki. Jika mereka melihat bahwa sesuatu itu menguntungkan pada dirinya maka akan timbullah minat untuk melakukannya.Minat merupakan pernyataan ekspresi seseorang yang menunjukkan kecenderungan kepada suatu objek sehingga aktivitas-aktivitas yang lebih besar porsinya ditunjukkan kepada objek tersebut daripada objek lainnya. Karena itu, minat seseorang kepada sesuatu objek akan menyebabkan ia memberi perhatian yang lebih besar pula kepada objek tersebut. Menurut Suharsimi Arikunto, minat merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih atau menolak suatu kegiatan. Sebetulnya apa yang dicari atau ditolak bukan hanya kegiatan saja, melainkan juga benda, orang ataupun situasi. Suatu objek yang ada kaitannya dengan diri seseorang baik berupa kegiatan, benda, orang maupun situasi akan menyebabkan seseorang memusatkan perhatian untuk melanjutkan melakukan aktivitas terhadap objek.
A. Pengertian Minat Belajar John G. Nunally mendefinisikan minat sebagai stated preference of activities. Soegarda mendefinisikannya sebagai kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar. Menurut Slameto, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat yang ada. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan jika mereka bebas memilih apa yang mereka kehendaki. Jika mereka melihat bahwa sesuatu itu menguntungkan pada dirinya maka akan timbullah minat untuk melakukannya.Minat merupakan pernyataan ekspresi seseorang yang menunjukkan kecenderungan kepada suatu objek sehingga aktivitas-aktivitas yang lebih besar porsinya ditunjukkan kepada objek tersebut daripada objek lainnya. Karena itu, minat seseorang kepada sesuatu objek akan menyebabkan ia memberi perhatian yang lebih besar pula kepada objek tersebut. Menurut Suharsimi Arikunto, minat merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih atau menolak suatu kegiatan. Sebetulnya apa yang dicari atau ditolak bukan hanya kegiatan saja, melainkan juga benda, orang ataupun situasi. Suatu objek yang ada kaitannya dengan diri seseorang baik berupa kegiatan, benda, orang maupun situasi akan menyebabkan seseorang memusatkan perhatian untuk melanjutkan melakukan aktivitas terhadap objek.
B. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang telah dicapai seseorang setelah ia mengalami proses belajar, dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan atau yang dilaluinya. Penilaian hasil belajar perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana tujuan untuk instruksional yang telah diajarkan dalam kegiatan pembelajaran yang telah dikuasai siswa. Hal ini sejalan dengan Syaiful Bahri Djamarah (2002:142) yang menyatakan bahwa : “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu : (1) faktor lingkungan : lingkungan alami dan lingkungan budaya; (2) faktor instrumental : kurikulum, program, sarana, fasilitas, dan guru; (3) kondisi fisiologis : kondisi fisiologis, kondisi panca indra; (4) kondisi psikologis : minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif. Keberhasilan dalam belajar perlu dinilai, hal ini sesuai dengan pendapat Nana Sudjana dan Hetwijis Vera Visana (2001 : 7) yang menyatakan bahwa : “penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”. Suharsini Arikunto (1997:282) ia menyatakan bahwa : “Bagi seorang siswa nilai merupakan cermin dari keberhasilan belajar. Namun bukan hanya siswa sendiri yang memerlukan cermin keberhasilan belajar, guru dan orang lainpun memerlukannya”. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditinjau dari sudut peristiwa yang terjadi pada sitem psichophisis seseorang yang melakukan belajar berarti suatu proses bekerjanya sistem urat saraf dimana berbagai perubahan terjadi didalamnya. Ditinjau dari sikap individu dalam menghadapi objek yang dipelajari, belajar dalah suatu kegiatan menyusun dan mengatur lingkungn dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tersebut terserap oleh individu yang bersangkutan. Jika ditinjau dari segi kegiatannya, belajar adalah suatu kegiatan untuk memmperoleh kebiasaan-kebiasaan, pegetahuan dan pengembangan tertentu dari sikap-sikap bagi orang yang melakukannya.
Hasil belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang telah dicapai seseorang setelah ia mengalami proses belajar, dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan atau yang dilaluinya. Penilaian hasil belajar perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana tujuan untuk instruksional yang telah diajarkan dalam kegiatan pembelajaran yang telah dikuasai siswa. Hal ini sejalan dengan Syaiful Bahri Djamarah (2002:142) yang menyatakan bahwa : “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu : (1) faktor lingkungan : lingkungan alami dan lingkungan budaya; (2) faktor instrumental : kurikulum, program, sarana, fasilitas, dan guru; (3) kondisi fisiologis : kondisi fisiologis, kondisi panca indra; (4) kondisi psikologis : minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif. Keberhasilan dalam belajar perlu dinilai, hal ini sesuai dengan pendapat Nana Sudjana dan Hetwijis Vera Visana (2001 : 7) yang menyatakan bahwa : “penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”. Suharsini Arikunto (1997:282) ia menyatakan bahwa : “Bagi seorang siswa nilai merupakan cermin dari keberhasilan belajar. Namun bukan hanya siswa sendiri yang memerlukan cermin keberhasilan belajar, guru dan orang lainpun memerlukannya”. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditinjau dari sudut peristiwa yang terjadi pada sitem psichophisis seseorang yang melakukan belajar berarti suatu proses bekerjanya sistem urat saraf dimana berbagai perubahan terjadi didalamnya. Ditinjau dari sikap individu dalam menghadapi objek yang dipelajari, belajar dalah suatu kegiatan menyusun dan mengatur lingkungn dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tersebut terserap oleh individu yang bersangkutan. Jika ditinjau dari segi kegiatannya, belajar adalah suatu kegiatan untuk memmperoleh kebiasaan-kebiasaan, pegetahuan dan pengembangan tertentu dari sikap-sikap bagi orang yang melakukannya.
C. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran cooperative learning (MPCL) beranjak dari dasar pemikiran “getting better together”, yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Melalui MPCL, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam PBM, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan MPCL ini mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar pada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 orang siswa (Stahl, 1994). Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses belajar kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Pada saat itu juga siswa yang belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar tutor sebaya (peer group) dan belajar secara bekerjasama (cooperative). Pada MPCL, guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber dalam PBM, tetapi berperan sebagai mediator, stabilisator, dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang dibelajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan dan hasil belajar siswa akan semakin meningkat. Stahl (1992) mendapatkan, bahwa penggunaan MPCL mendorong tumbuhnya sikap kesetiakawanan dan keterbukaan diantara siswa; penelitiannya juga menemukan bahwa MPCL mendorong ketercapaian tujuan dan nilai-nilai sosial dalam pendidikan Matematika ataupun mata pelajaran lainnya. Berdasarkan temuan penelitian terdahulu, ternyata penggunan MPCL menunjukkan efektifitas yang sangat tinggi bagi perolehan hasil belajar siswa, baik dilihat dari pengaruhnya terhadap penguasaan materi pelajaran maupundilihat dari pengembangan dan pelatihan sikap serta keterampilan-keterampilan sosial yang sangat bermanfaat bagi siswa dalam kehidupannya di masyarakat.
Model pembelajaran cooperative learning (MPCL) beranjak dari dasar pemikiran “getting better together”, yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Melalui MPCL, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam PBM, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan MPCL ini mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar pada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 orang siswa (Stahl, 1994). Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses belajar kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Pada saat itu juga siswa yang belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar tutor sebaya (peer group) dan belajar secara bekerjasama (cooperative). Pada MPCL, guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber dalam PBM, tetapi berperan sebagai mediator, stabilisator, dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang dibelajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan dan hasil belajar siswa akan semakin meningkat. Stahl (1992) mendapatkan, bahwa penggunaan MPCL mendorong tumbuhnya sikap kesetiakawanan dan keterbukaan diantara siswa; penelitiannya juga menemukan bahwa MPCL mendorong ketercapaian tujuan dan nilai-nilai sosial dalam pendidikan Matematika ataupun mata pelajaran lainnya. Berdasarkan temuan penelitian terdahulu, ternyata penggunan MPCL menunjukkan efektifitas yang sangat tinggi bagi perolehan hasil belajar siswa, baik dilihat dari pengaruhnya terhadap penguasaan materi pelajaran maupundilihat dari pengembangan dan pelatihan sikap serta keterampilan-keterampilan sosial yang sangat bermanfaat bagi siswa dalam kehidupannya di masyarakat.
BAB III RENCANA DAN PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Identifikasi masalah :
a. Rendahnya minat belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Pannggungrejo dalam pembelajaran simetri bangun datar
b. Hasil belajar siswa pada kelas tersebut cenderung pasif
c. Siswa belum menguasai konsep simetri bangun datar
A. RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Identifikasi masalah :
a. Rendahnya minat belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Pannggungrejo dalam pembelajaran simetri bangun datar
b. Hasil belajar siswa pada kelas tersebut cenderung pasif
c. Siswa belum menguasai konsep simetri bangun datar
2 Analisis masalah :
Dalam menganalisis masalah ini berangkat identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas, yaitu :
a. Rendahnya minat belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo dalam pembelajaran simetri bangun datar. Hal ini dapat dianalisis sebagai berikut :
1) Guru dalam menjelaskan materi kepada anak terlalu cepat
2) Guru dalam menjelaskan materi tersebut tidak disertai contoh secara mendetail
3) Guru kurang memberikan latihan dan contoh
4) Guru tidak menggunakan alat peraga yang sesuai
5) Guru menggunakan metode dan model pembelajaran kurang sesuai
Dalam menganalisis masalah ini berangkat identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas, yaitu :
a. Rendahnya minat belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo dalam pembelajaran simetri bangun datar. Hal ini dapat dianalisis sebagai berikut :
1) Guru dalam menjelaskan materi kepada anak terlalu cepat
2) Guru dalam menjelaskan materi tersebut tidak disertai contoh secara mendetail
3) Guru kurang memberikan latihan dan contoh
4) Guru tidak menggunakan alat peraga yang sesuai
5) Guru menggunakan metode dan model pembelajaran kurang sesuai
b. Hasil belajar siswa pada kelas tersebut cenderung pasif
1) Guru tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran secara aktif
2) Guru kurang terampil dalam menggali kemampuan siswa
3) Guru kurang menguasai dalam mendemontrasikan alat peraga
4) Guru dalam menyampaikan materi kurang menarik
5) Guru kurang mampu menguasai kelas
1) Guru tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran secara aktif
2) Guru kurang terampil dalam menggali kemampuan siswa
3) Guru kurang menguasai dalam mendemontrasikan alat peraga
4) Guru dalam menyampaikan materi kurang menarik
5) Guru kurang mampu menguasai kelas
c. Siswa belum menguasai konsep simetri bangun datar
1) Guru kurang memberikan latihan pada siswa untuk simetri bangun datar
2) Siswa kesulitan dalam memahami konsep simetri bangun datar
3) Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam pembelajaran simetri bangun datar.
1) Guru kurang memberikan latihan pada siswa untuk simetri bangun datar
2) Siswa kesulitan dalam memahami konsep simetri bangun datar
3) Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam pembelajaran simetri bangun datar.
3. Perumusan Masalah :
Bagaimana meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dalam konsep simetri lipat di Kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo melalui model pembelajaran kooperatif learning?
Bagaimana meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dalam konsep simetri lipat di Kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo melalui model pembelajaran kooperatif learning?
4. Rencana Perbaikan Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana tersebut di atas, maka disusunlah sebuah perencanaan perbaikan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk rencana perbaikan pembelajaran (RPP). Dalam merancang tindakan perbaikan yang dilakukan penulis telah mengikuti prosedur dan tata aturan yang umum dan logis, yaitu
(a) mengacu pada teori yang relevan,
(b) bertanya kepada ahli terkait,
(c) membaca referensi yang relevan, dan
(d) berkonsultasi dengan supervisor.
(a) mengacu pada teori yang relevan,
(b) bertanya kepada ahli terkait,
(c) membaca referensi yang relevan, dan
(d) berkonsultasi dengan supervisor.
Adapun format lengkap Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang berisi rencana perbaikan pembelajaran mata pelajaran matematika dalam konsep simetri lipat di Kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo Tahun Pelajaran 2009/2010 sebagaimana terlampir.
B. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan yaitu mulai tanggal 20 April 2010 sampai dengan 20 Mei 2010, dengan 6 jam pelajaran (3 kali pertemuan). Siswa yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah 27 orang siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti (guru bidang study), seorang obsever, dan kepala sekolah sebagai penanggung jawab. Adapun jadwal penelitian ini adalah :
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Panggungrejo Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan yaitu mulai tanggal 20 April 2010 sampai dengan 20 Mei 2010, dengan 6 jam pelajaran (3 kali pertemuan). Siswa yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah 27 orang siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti (guru bidang study), seorang obsever, dan kepala sekolah sebagai penanggung jawab. Adapun jadwal penelitian ini adalah :
Tabel 3 Jadwal penelitian perbaikan pembelajaran Matematika :
Hari Tanggal Jam Ke Mata Pelajaran Keterangan Senin 26-04-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Orientasi (Pra Siklus) Senin 10-05-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Perbaikan 1 Senin 17-05-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Perbaikan 2 Kamis 20-05-2010 5 – 6 Matematika Pembelajaran Perbaikan 3 Sumber : Jadwal Penelitian Pribadi 2. Prosedur Pelaksanaan Perbaikan (Per Siklus) Pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini melalui langkah siklus sebanyak dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : Perncanaan (planning), Pelaksanaan (acting), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting) (Suharsini Arikunto, 2006). a. Perencanaan 1) Menyusun jadwal mengajar 2) Membuat perangkat pembelajaran 3) Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan 4) Mempersiapkan media pembelajaran yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran 5) Mempersiapkan lembar observasi dan catatan lapangan b. Pelaksanaan Tahap ini merupakan pelaksanaan dari tahap perencanaan, yang meliputi : 1) Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; 2) Guru memotivasi siswa agar belajar dengan mengintensifkan penggunaan alat peraga; 3) Guru menyampaikan materi yang telah ditentukan dan mengefektifkan tanya jawab, diskusi, demonstrasi serta pemberian tugas; 4) Guru bersama teman sejawat mengamati proses kegiatan pembelajaran dengan demonstrasi alat peraga yang disiapkan; 5) Setiap anak diminta menyebutkan nama-nama bangun yang simetris dan tidak simetris melalui alat peraga yang disiapkan; 6) Anak diminta mennunjukkan bangun datar dan simetri lipatnya; 7) Guru bersama siswa mendemonstrasikan beraneka alat peraga yang menunjukkan bangun datar simetris dan simetri lipatnya; 8) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi dan pengamatannya; 9) Guru memberikan tes tertulis secara individu di akhir siklus; 10) Siswa yang mendapat nilai kurang dari 60 dan rata-rata nilai yang kurang dari ketentuan mnimal, maka dilakukan perbaikan dan yang sudah tuntas diberikan tambahan sebagai pengayaan. c. Pengamatan/Pengumpulan Data Dalam pengamatan penelitian tindakan kelas ini peneliti bekerja sama dengan guru (teman sejawat) yaitu seorang guru dari SD Negeri 1 Panggungrejo, yang bertugas mengamati selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan ini dituangkan dalam catatan lapangan yang telah dipersiapkan. Tabel 4 : Lembar Pengamatan Perbaikan Pembelajaran No Aspek yang diobservasi Kemunculan Komentar Ada Tidak Ada 1 Penjelasan konsep oleh guru √ Cukup 2 Pemberian contoh √ Cukup 3 Pemberian latihan √ Cukup 4 Penggunaan alat peraga √ Kurang maksimal 5 Penggunaan metode mengajar • Ceramah • Tanya jawab • Demonstrasi • Latihan/Penugasan √ √ √ √ Terlalu panjang Tidak terkonsep Kurang maksimal Cukup 6 Penguasaan konsep/hasil belajar √ Cukup 7 Aktivitas siswa √ Kurang 8 Pengorganisasian materi (sistematis, logis) √ Cukup 9 Pemilihan sumber/media pembelajaran √ Baik 10 Kejelasan skenario pembelajaran (kegiatan awal, inti, penutup) √ Baik 11 Kesesuaian teknik strategi dengan tujuan pembelajaran √ Baik 12 Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran) √ baik Beri tanda chek (√) pada kolom ada / tidak ada d. Refleksi Refleksi ini merupakan kegiatan dalam menganalisis, memahami dan membuat kesimpulam berdasarkan hasil pengamatan dan catatan lapangan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukan perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya. Pada siklus II, pelaksanaannya berdasarkan refleksi dari siklus I dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus II ini telah banyak ditemukan kelemahan-kelemahan apada siklus I dan di sini diadakan perbaikan. Pada siklus III, pelaksaannya berdasarkan refleksi dari siklus II dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus III ini telah banyak dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan pada siklus II. Jadi pada silkus ini merupakan siklus pamungkas dalan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. 3. Hal-hal yang Unik Hal-hal unik yang muncul selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran sehingga menampilkan suasana kelas yang berbeda di antaranya : a. Kedatangan dua orang tamu yaitu mahasiswa dan guru pengamat sekaligus ke dalam kelas membuat semua siswa terlihat tegang. Perhatian semua siswa tertuju ke depan kelas, tanpa ada seorangpun siswa yang berani melihat ke kanan dan ke kiri apalagi menpleh ke belakang. Tetapi setelah diinformasikan maksud dan tujuan kedatangan kedua tamu tersebut, siswa baru terlihat agak tenang. b. Tercatat ada 5 (lima) siswa yang unik yaitu 2 (dua) siswa yang amat bandel dan cari perhatian tapi tergolong pintar. Dua orang siswa lagi tercatat pendiam tapi tidak bisa membaca dan menulis, dan satu siswa lagi yang tergolong unik bahwa ia bisa membaca tapi tidak bisa menulis. c. Suasana kelas cenderung pasif, karena mereka banyak yang diam. D
Hari Tanggal Jam Ke Mata Pelajaran Keterangan Senin 26-04-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Orientasi (Pra Siklus) Senin 10-05-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Perbaikan 1 Senin 17-05-2010 3 – 4 Matematika Pembelajaran Perbaikan 2 Kamis 20-05-2010 5 – 6 Matematika Pembelajaran Perbaikan 3 Sumber : Jadwal Penelitian Pribadi 2. Prosedur Pelaksanaan Perbaikan (Per Siklus) Pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini melalui langkah siklus sebanyak dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu : Perncanaan (planning), Pelaksanaan (acting), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting) (Suharsini Arikunto, 2006). a. Perencanaan 1) Menyusun jadwal mengajar 2) Membuat perangkat pembelajaran 3) Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan 4) Mempersiapkan media pembelajaran yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran 5) Mempersiapkan lembar observasi dan catatan lapangan b. Pelaksanaan Tahap ini merupakan pelaksanaan dari tahap perencanaan, yang meliputi : 1) Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; 2) Guru memotivasi siswa agar belajar dengan mengintensifkan penggunaan alat peraga; 3) Guru menyampaikan materi yang telah ditentukan dan mengefektifkan tanya jawab, diskusi, demonstrasi serta pemberian tugas; 4) Guru bersama teman sejawat mengamati proses kegiatan pembelajaran dengan demonstrasi alat peraga yang disiapkan; 5) Setiap anak diminta menyebutkan nama-nama bangun yang simetris dan tidak simetris melalui alat peraga yang disiapkan; 6) Anak diminta mennunjukkan bangun datar dan simetri lipatnya; 7) Guru bersama siswa mendemonstrasikan beraneka alat peraga yang menunjukkan bangun datar simetris dan simetri lipatnya; 8) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi dan pengamatannya; 9) Guru memberikan tes tertulis secara individu di akhir siklus; 10) Siswa yang mendapat nilai kurang dari 60 dan rata-rata nilai yang kurang dari ketentuan mnimal, maka dilakukan perbaikan dan yang sudah tuntas diberikan tambahan sebagai pengayaan. c. Pengamatan/Pengumpulan Data Dalam pengamatan penelitian tindakan kelas ini peneliti bekerja sama dengan guru (teman sejawat) yaitu seorang guru dari SD Negeri 1 Panggungrejo, yang bertugas mengamati selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan ini dituangkan dalam catatan lapangan yang telah dipersiapkan. Tabel 4 : Lembar Pengamatan Perbaikan Pembelajaran No Aspek yang diobservasi Kemunculan Komentar Ada Tidak Ada 1 Penjelasan konsep oleh guru √ Cukup 2 Pemberian contoh √ Cukup 3 Pemberian latihan √ Cukup 4 Penggunaan alat peraga √ Kurang maksimal 5 Penggunaan metode mengajar • Ceramah • Tanya jawab • Demonstrasi • Latihan/Penugasan √ √ √ √ Terlalu panjang Tidak terkonsep Kurang maksimal Cukup 6 Penguasaan konsep/hasil belajar √ Cukup 7 Aktivitas siswa √ Kurang 8 Pengorganisasian materi (sistematis, logis) √ Cukup 9 Pemilihan sumber/media pembelajaran √ Baik 10 Kejelasan skenario pembelajaran (kegiatan awal, inti, penutup) √ Baik 11 Kesesuaian teknik strategi dengan tujuan pembelajaran √ Baik 12 Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran) √ baik Beri tanda chek (√) pada kolom ada / tidak ada d. Refleksi Refleksi ini merupakan kegiatan dalam menganalisis, memahami dan membuat kesimpulam berdasarkan hasil pengamatan dan catatan lapangan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan observasi, serta menentukan perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi, sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya. Pada siklus II, pelaksanaannya berdasarkan refleksi dari siklus I dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus II ini telah banyak ditemukan kelemahan-kelemahan apada siklus I dan di sini diadakan perbaikan. Pada siklus III, pelaksaannya berdasarkan refleksi dari siklus II dan pelaksanaannya pun sama, yaitu terdiri dari empat tahap pelaksanaan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Namun dalam proses kegiatan pembelajaran siklus III ini telah banyak dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan pada siklus II. Jadi pada silkus ini merupakan siklus pamungkas dalan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. 3. Hal-hal yang Unik Hal-hal unik yang muncul selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran sehingga menampilkan suasana kelas yang berbeda di antaranya : a. Kedatangan dua orang tamu yaitu mahasiswa dan guru pengamat sekaligus ke dalam kelas membuat semua siswa terlihat tegang. Perhatian semua siswa tertuju ke depan kelas, tanpa ada seorangpun siswa yang berani melihat ke kanan dan ke kiri apalagi menpleh ke belakang. Tetapi setelah diinformasikan maksud dan tujuan kedatangan kedua tamu tersebut, siswa baru terlihat agak tenang. b. Tercatat ada 5 (lima) siswa yang unik yaitu 2 (dua) siswa yang amat bandel dan cari perhatian tapi tergolong pintar. Dua orang siswa lagi tercatat pendiam tapi tidak bisa membaca dan menulis, dan satu siswa lagi yang tergolong unik bahwa ia bisa membaca tapi tidak bisa menulis. c. Suasana kelas cenderung pasif, karena mereka banyak yang diam. D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar